Senin, 29 Juni 2026

Cerita Seks Ngentot Seru dengan Mamaku

Namaku Jon, umurku 19 tahun. Yang jelas saat ini aku sudah kuliah. Aku berkuliah di kota kelahiranku, jadi aku tidak perlu kost. Aku tinggal Bersama dengan mamaku yang cantik dan seksi. Kakak perempuanku kuliah di luar kota. Papaku juga kerja di luar kota. Sekarang kita kembali ke mamaku. Dia saat ini berumur 42 tahun. Meski sudah kepala 4, dia terlihat awet muda. Aku sering salah tingkah setiap kali fitness sama mama. Pakaian olahraganya selalu minim, dan itu selalu membuat jantungku berdebar - debar. Aku sebenarnya juga bingung kenapa aku bisa terangsang kepada mamaku sendiri. Kalau dipikir - pikir, aku juga tidak sepenuhnya salah. Aku masih muda, semangatku masih tinggi, dan aku juga sangat penasaran dengan perempuan. Seperti yang kubilang tadi, mamaku punya body yang seksi, dada besar, pantat montok dan kulit yang masih kencang. Wajahnya juga cantik dan terlihat awet muda. Mama sering dianggap masih berumur 20-an oleh kenalannya di gym. Suatu hari, di hari Sabtu yang cerah, mama kembali mengajak fitness. Tentu saja aku menyanggupinya, karena itu adalah salah satu momen terbaik untuk melihat body-nya mama. Aku segera menyiapkan pakaian olahragaku, kemudian aku bergegas menuju ke garasi. Aku panaskan mesin mobil terlebih dahulu, baru kemudian aku bawa ke luar. Tidak pakai lama, mama datang dan segera masuk ke dalam mobil.

"Setelah ini, kamu ada kegiatan gak?" tanya mama.

"Enggak," jawabku.

"Kalo gitu, temenin mama di rumah ya," kata mama.

"Siap!" sahutku.

Siapa sih yang gak betah nemenin wanita cantik dan seksi kayak mamaku. Setibanya di gym, kita langsung ke kamar ganti untuk ganti pakaian olahraga. Selesai ganti pakaian olahraga, aku berjalan menuju ke ruang gym. Tidak pakai lama, mama menyusulku. Dia hari ini mengenakan sport bra dan celana pendek ketat. Kontolku langsung bergejolak melihat lekuk tubuhnya yang terpampang dengan jelas. Beruntung, di tempat ini, cowo - cowonya kebanyakan agak gay, jadi mereka gak begitu tertarik dengan mama. Kalo cewe - cewenya, ada yang normal, ada yang biseks. Nah, cewe - cewe yang biseks lumayan sering ngajakin mama ngobrol. Aku sih gak masalah kalo cewe yang ngajak ngobrol. Kemungkinannya kecil mama bakal ikut - ikutan mereka. Aku mulai dengan mengangkat dumbbell 5 kg. Sambil berlatih otot lengan, kedua mataku fokus ke mama yang sedang melatih otot punggungnya. Selama fitness, aku selalu fokus menatap mama. Beberapa kenalannya mengajak dia mengobrol. Aku santai saja karena mereka semua cewe.

***

Selesai fitness, mama mengajakku untuk langsung pulang.

"Kita mandi di rumah aja ya," kata mama.

"Oke," sahutku.

Aku dan mama tidak ganti pakaian. Kita langsung menuju ke tempat parkir. Aku nyalakan mesin mobil, lalu aku gas menuju ke rumah. Sekitar 10 menit kemudian, kita akhirnya tiba di rumah. Mama membukakan pintu gerbang, lalu aku parkirkan mobil di depan garasi. Setelah itu, kita masuk ke rumah bersama.

"Lho!? Kok gak nyala?" kata mama sambil menekan saklar lampu.

"Waduh, mati lampu nih," ucapku sambil mencoba menyalakan lampu yang lain.

"Gak bisa nih kalo mandi sekarang," ujar mama.

"Emang kenapa?" tanyaku.

"Gak keliatan lah! Gelap," jawab mama.

"Ya udah, mandinya nanti aja," kataku.

"Gak mau! Gerah banget ini!" balas mama.

"Hmph ... susah juga," ucapku.

Tiba - tiba, sebuah ide gila terlintas di pikiranku.

"Kalau gitu, aku temenin Mama mandi. Gimana?" tawarku.

Mama melirikku dengan tatapan sinis. "Kamu udah besar masak mandi berdua sama mama?"

"Kalo gitu, Mama mandi sendiri sana," kataku sambil berjalan ke depan.

Mama kemudian menggenggam lengan kiriku. "Tunggu sebentar! Mama tadi cuma bercanda."

Aku melirik mama sambil tersenyum lebar. "Iyakah?"

Mama mengangguk. "Iya," jawabnya, "temani mama mandi, ya."

"Oke!" sahutku dengan penuh semangat.

Mama usul mandi di kamar mandiku. Aku sih ngikut aja. Yang penting bisa mandi bareng sama mama.

"Kita buka bajunya di dalam kamar mandi aja ya," kata mama.

"Kenapa?" tanyaku, sok polos.

Mama melotot kepadaku. "Kok pake nanya? Masak mama telanjang di depanmu!"

"Bukannya nanti kita juga telanjang bareng di kamar mandi?" tanyaku, menggodanya.

"Beda itu!" balas mama, "kamar mandi sedang gelap, jadi gak akan keliatan!"

"Bener juga," sahutku.

"Payah kamu!" balas mama sambil menepuk lenganku.

Aku dan mama lalu masuk ke dalam kamar mandiku. Di dalam begitu gelap, karena tidak ada jendela. Aku lepas seluruh pakaianku, lalu aku taruh di lantai. Mama juga melepas bajunya, dan ditaruh di lantai. Kontolku langsung ngaceng saat membayangkan aku telanjang bersama mama di dalam kamar mandi yang gelap.

"Hati - hati ya, jangan sampai menabrak kaca ruang shower," kata mama.

Kita akhirnya berhasil masuk ke dalam ruang shower dengan aman. Mama kemudian menyalakan shower. Air dingin mengucur ke lantai dengan deras.

"Mama dulu aja yang bilas," kataku.

"Yaa," sahut mama.

Aku menunggu di tepat di belakangnya mama. Kontolku mengacung dengan tegak memikirkan mama yang sedang membasuh tubuh seksinya. Tidak lama kemudian, kontolku yang ngaceng disenggol oleh mama.

"Ehh!? Apa itu tadi?" tanya mama.

"Tanganku," jawabku, bohong.

"Masak tangan sekeras itu? Lagi pula, lenganmu gak sekecil itu lho," balas mama.

"Masak gak percaya," ucapku.

Aku sangat terkejut ketika mama tiba - tiba menggenggam kontolku. Dia menggenggam dengan cukup erat.

"Waktu mama senggol, sensasinya terasa familiar," kata mama, "kamu kok bohong sih??"

"Masak aku bilang batangku sedang tegak," jawabku.

"Yaa gapapa lah. Gak perlu malu sama mama sendiri," balas mama.

"Mama aja malu telanjang di depanku," timpalku.

"Dasar kamu ini!" ucap mama seraya meremas kontolku.

"Auuwww! Sakit!" seruku.

"Oke, sekarang ke bagian utama," kata mama, "kok kamu bisa ngaceng? Kamu bayangin mama ya?"

"Ummm ... i-iya," jawabku.

"Kok bisa kamu terangsang sama mamamu sendiri?" tanya mama.

"Anu ... ka-karena ... Mama punya badan seksi dan wajah yang cantik," jawabku dengan gugup.

Mama terdiam, tidak merespons. Tangannya masih menggenggam kontolku yang keras.

"Emang mama secantik dan seseksi itu?" tanya mama.

"Iyalah," jawabku, "kalo gak, mana mungkin aku ngaceng."

"Sudah berapa lama kamu terangsang sama mama?" tanya mama.

"Lu-lumayan lama," jawabku.

Mama terdiam sejenak. Kontolku masih digenggamnya. "Kalo sama cicimu, lebih cantik dan seksi siapa?" tanyanya.

"Mama, hehehe," jawabku.

"Yakin?" balas mama, "cicimu juga cantik dan seksi lhoo."

"Iya, bener," kataku, "tapi, kalau buat aku, Mama lebih cantik dan seksi."

Mama tertawa kecil. "Makasih yaa, Sayang," kata mama. "Sebagai rasa terima kasih, mama mau kasih sesuatu."

"Hah!? Apa itu?" tanyaku, penasaran.

Mama kemudian mengocok kontolku dengan perlahan lalu cepat. Aku terkejut sekaligus senang. Tidak lama kemudian, mama menghentikan kocokannya di kontolku. Sebuah benda lembut dan hangat menyapu kepala kontolku.

"Bentar!? Mama menjilati kontolku?" ucapku dalam hati.

Mama menjilati seluruh batang kontolku. Kemudian, kontolku masuk ke sebuah lorong yang hangat. Aku sangat yakin mama sedang memasukkan kontolku ke dalam mulutnya. 

"Uuhhhhh!" Aku merasakan kenikmatan luar biasa ketika mama mulai mengulum kontolku.

Separuh dari kontolku ada di dalam mulut mama. Dia memaju-mundurkan mulutnya, seolah aku sedang menyetubuhi mulutnya. Tanpa sadar, kedua tanganku sekarang sedang meremas rambutnya mama.

"Uhh ... enak banget! Terus emut kontolku," racauku.

Tidak lama kemudian, mama mencabut kontolku dari mulutnya.

"Lho!? Kok dicabut?" kataku, kecewa.

"Kita mandi dulu ya. Nanti lanjut di kamarmu," ujar mama.

"Gak di sini aja?" tanyaku.

"Gelap," jawab mama.

"Bukannya lebih seru gelap - gelapan? Hehehe," kataku.

"Kalo kamu udah pengalaman, gapapa," timpal mama, "kamu aja masih pemula."

"Bener juga sih," balasku. "Bentar, kalo main di kamarku, berarti aku bisa melihat tubuh telanjangnya Mama dong," kataku kemudian.

"Terus kenapa?" tanya mama, "itu udah wajar kalo sedang ngentot."

"Tadi Mama protes kalau aku melihat tubuhnya Mama. Kok sekarang Mama biasa aja?" tanyaku, iseng menggodanya.

"Kamu kalo tanya terus, ngentotnya mama batalin!" ucap mama dengan nada kesal.

"Ampun Ma," ucapku sambil menundukkan kepala.

"Dasar kamu ini! Godain mama terus!" kata mama, masih dengan nada kesal.

Mama kemudian kembali menyalakan shower. Dengan percaya diri, aku mendekati mama. Aku sentuh punggungnya yang mulus. Mama diam saja. Aku lanjut menyentuh perut dan dadanya yang besar.

"Ohhhh," desah mama.

Aku remas kedua payudaranya mama dengan lembut. Payudaranya kenyal dan empuk. Kemudian, aku turunkan tangan kananku ke selangkangannya mama. Gila! Gak ada jembutnya.

"Dicukur semua ya?" tanyaku.

"Iya," jawab mama, "papamu suka memek tanpa jembut."

"Aku juga suka, hehehe," balasku.

"Hihihi, papa dan anak sama aja," kata mama.

Aku raba memeknya mama, sambil aku cubit klitorisnya. Mama mendesah keenakan akibat permainan tanganku. 

"Sayang, sabunin badannya mama dong," pinta mama.

"Siap!" sahutku.

Aku ambil sabun cair, lalu aku mulai menyabuni tubuh seksi dan mulusnya mama. Tentu saja aku gunakan kesempatan ini untuk mengeksplorasi tubuhnya mama. Selesai menyabuni mama, giliran dia yang menyabuni badanku. Mama menyabuniku dengan telaten. Dia juga mengambil kesempatan untuk meraba - rada dada, perut dan kontolku.

"Mama suka sama badanmu," kata mama.

"Aku juga suka sama badannya mama," balasku.

Selesai menyabuni badanku, aku nyalakan shower untuk membilas badan. Aku tidak sabar ingin keluar dari kamar mandi, supaya bisa melihat tubuh telanjangnya mama.

"Oh iya, kita lupa ambil handuk," kata mama seraya menepuk punggung atasku.

"Aku ambilin," ucapku.

Aku bergegas keluar dan menuju ke lemariku. Aku ambil dua handuk, lalu berbalik untuk kembali ke kamar mandi. Betapa terkejutnya aku saat balik badan, kulihat mama berdiri di depan kamar mandi. Dia sama sekali tidak menutupi tubuhnya. Aku melongo melihat tubuh seksinya yang tidak tertutup apapun.

"Kok kamu diem aja?? Ayo, cepetan sini!" kata mama.

"Aku sedang terpesona dengan keseksiannya Mama," ucapku.

"Itu nanti aja! Bawa ke sini handuknya!" perintah mama.

Aku berikan handukku kepada mama, lalu dia gunakan untu mengeringkan air yang ada di sekujur tubuhnya. 

"Oke, sudah siap?" tanya mama.

"Siap apa?" tanyaku balik.

"Siap main futsal!" jawab mama dengan mata melotot, "yaa, siap ngentot lah!"

"Kalo itu, udah sangat siap," balasku.

"Sekarang kamu berbaring di ranjangmu," perintah mama.

"Woke!" sahutku.

Aku naik ke ranjang, lalu berbaring di atasnya. Kontolku mengacung tegak seperti menara. Mama naik ke atas ranjang, lalu dia merangkak mendekatiku Mama kemudian memposisikan dirinya di atas kontolku.

"Gak masalah nih, perjakamu diambil mama?" tanya mama.

"Jelas tidak dong," jawabku.

Mama tersenyum menatapku. "Oke, mama masukin ya."

Mama menurunkan pinggulnya secara perlahan. Dia arahkan kontolku ke bibir memeknya. Kemudian, mama mendorong pantatnya, membuat kontolku masuk ke dalam liang senggamanya. Baru masuk kepalanya saja, badanku terasa seperti disengat listrik.

"Gila! Sempit banget!" seruku dalam hati.

Kontolku masuk semakin dalam ke memeknya mama. Jepitan dinding memeknya memaksaku untuk menahan pejuku yang mau muncrat.

"Ohhh ... kontolmu besar dan panjang," lenguh mama.

Setelah melewati perjalanan yang sangat nikmat, akhirnya kontolku masuk semua ke dalam memeknya mama.

"Kamu dulu keluar dari sini," kata mama seraya menunjuk memeknya, "sekarang, malah dimasukin sama kontolmu."

"Hehehe, Mama suka, kan?" ucapku.

Mama tersenyum menatapku. "Suka ... suka banget."

"Kalo gitu, digoyang dong," pintaku.

Mama mengangguk dan dia mulai menggoyang pantatnya. Goyangannya sangatlah nikmat. Aku belum pernah merasakan kenikmatan yang seperti ini. Suara desahan mulai keluar dari mulutnya mama.

"Remas dada mama, Sayang," kata mama seraya mengarahkan tangan kananku ke payudara kirinya.

Aku remas - remas payudaranya dengan gemas. Tangan yang satunya aku gunakan untuk meremas pantatnya. Badannya mama mulai basah lagi karena keringat yang mengucur dengan deras. Tidak lama kemudian, mama mendapatkan orgasmenya. Cairan cintanya mengalir dengan deras, membasahi area selangkanganku.

"Kontolmu bikin mama jadi tidak terkendali," kata mama.

"Memeknya Mama bikin aku melayang ke angkasa," balasku.

Mama tersenyum senang. "Oke, sekarang kamu mau ganti gaya apa?" tanyanya.

"Ummm ... doggy style?" usulku.

"Boleh," sahut mama.

Mama kemudian menungging di sampingku. Aku beranjak berdiri, lalu aku berlutut di belakangnya mama. Aku remas - remas pantatnya sebentar untuk pemanasan. Kemudian, aku arahkan kontolku ke memeknya mama yang basah kuyup. Ketika kepala kontolku sudah masuk, aku dorong kontolku hingga masuk semua.

"Aaaahhhhh." Mama mendesah panjang.

Aku sodok memeknya mama dengan tempo cepat. Benturan antara pahaku dan pantatnya mama menghasilkan suara plok plok plok. Selain kuentot, aku juga menampar - nampar pantatnya mama yang mulus dan montok. 

"Uhhh ... nikmat banget Ma!" seruku.

"Oh, yeah! Entotin mama Say," lenguh mama.

Kemudian, tanganku beralih ke dadanya. Aku remas payudaranya yang daritadi berguncang hebat. Beberapa menit kemudian, kontolmu mau memuncratkan laharnya.

"Keluarin mana, Ma?" tanyaku.

"Di dalam aja Sayang," jawab mama, "siram memek mama dengan pejumu."

"Siap!" sahutku.

Aku percepat sodokanku di memeknya mama. Tidak pakai lama, aku semburkan isi testisku ke dalam memeknya mama.

"Ouhhh ... kamu bikin hangat rahimku, Say," kata mama.

Aku cabut kontolku dari memeknya mama, lalu aku merebahkan badanku di atas kasur. Mama kemudian bergabung denganku. Dia berbaring di samping kananku.

"Mau lanjut ronde dua atau udahan dulu?" tanya mama sambil memelukku.

"Bentar, 1 menit lagi," jawabku.

"Oke," sahut mama seraya mencium bibirku.

30 detik kemudian, kontolku siap tempur kembali. Mama tersenyum menatap kontolku yang mengacung dengan perkasa.

"Ma, aku pengen nyoba tits fuck," kataku.

"Boleh," sahut mama.

Aku lalu beranjak berdiri, lalu duduk di pinggir ranjang. Mama berlutut di depanku, kemudian dia jepit kontolku dengan gumpalan dagingnya yang besar dan empuk.

"Uhhh ... enak banget Ma," ucapku sambil memejamkan mata.

Mama menaik-turunkan dadanya seperti sedang menggenjot kontolku. Gesekan di belahan dadanya begitu nikmat. 

"Ma, kepala kontolku juga dijilatin dong," pintaku.

Mama tersenyum menatapku. "Boleh."

Mama kemudian mulai menjilati kepala kontolku. Kenikmatannya langsung naik dua kali lipat. Saking nikmatnya, aku sampai tidak mampu menahan pejuku. Aku lepaskan seluruh pejuku sampai mengenai dada dan wajahnya mama.

"Nakal banget sih kamu!" kata mama sembari menepuk pahaku.

"Maaf Ma, habisnya enak banget," ucapku.

Mama mengelap mani yang menempel di wajahnya, lalu dia jilat sampai bersih. "Mani yang enak gini, masak dibuang sembarangan, hihihi."

"Karena toketnya Mama enak banget. Lembut, besar, kenyal," ucapku.

Mama tersenyum senang. Dia lalu bergegas menuju ke kamar mandi. Tidak pakai lama, mama kembali dengan dada yang sudah bersih.

"Sini Sayang, emut toket mama," kata mama sambil duduk di sampingku.

Aku genggam toketnya mama, lalu aku emut seperti bayi. Mama tertawa melihatku ngemut putingnya.

"Waktu masih bayi, kamu suka banget sama susunya mama," ujar mama.

"Sekarang udah gak ada susunya," kataku.

"Hihihi, tapi kamu tetap suka, kan?" tanya mama.

"Suka banget," jawabku.

Aku bergantian menyedot puting kiri dan kanannya mama. Jika aku menyedot dada kirinya mama, maka dada kanannya aku remas, begitu pun sebaliknya.

"Bentar Sayang, mama mau mencoba sesuatu," kata mama.

Mama kemudian memintaku untuk merebahkan kepalaku di atas pahanya. Lalu, dia menyodorkan putingnya kepadaku.

"Hihihi, kamu jadi kayak bayi lagi," ucap mama.

Aku kembali melahap toketnya mama yang lezat. Mama mendesah pelan, menikmati permainan lidah dan mulutku. Tidak lama kemudian, aku menyudahi kegiatanku mengulum dadanya.

"Ma, aku ada permintaan nih," kataku.

"Permintaan apa, Sayang?" tanya mama sambil membelai rambutku.

"Aku pengen nyobain anal sex," jawabku.

Mama tersenyum kepadaku. "Boleh."

Aku lalu beranjak dari rebahanku. Mama kemudian mengambil posisi menungging. Aku remas - remas pantatnya agar mama lebih rileks. Kemudian, aku arahkan kontolku ke boolnya mama. Aku dorong kontolku masuk ke liang analnya secara perlahan.

"Pelan - pelan ya Say. Mama belum pernah," kata mama.

"Wihh ... berarti aku dapat keperawanan analnya mama dong," ucapku dengan senyum lebar.

"Hihihi, iya Sayang. Mama belum pernah main di pantat," ujar mama.

Perlahan tapi pasti, kontolku akhirnya masuk semua ke dalam anusnya mama. Aku diamkan sejenak agar liang analnya mama beradaptasi dengan kontolku.

"Uhhh ... pantatnya mama jadi penuh," kata mama.

Aku tarik kontolku perlahan, lalu aku dorong masuk kembali. Mama mulai bisa menikmati anal sex.

"Oh yeah ... terusin Sayang," desah mama, "entot bool mama, Sayang."

"Siap Mamaku sayang," balasku.

Aku mulai sedikit mempercepat sodokanku di pantatnya mama. Saking sempitnya, aku tidak bisa bertahan lama. Aku tancapkan kontolku dalam - dalam ke anusnya mama, lalu aku semburkan seluruh pejuku ke dalamnya.

"Ohhh ... anus mama jadi hangat," ucap mama.

Aku dan mama kemudian kembali ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Ketika sampai di kamar mandi, lampu kembali menyala.

"Yess! Lampu nyala lagi!" seruku.

"Hey! Ayo fokus bilas dulu," kata mama seraya menepuk lengank.

"Iya, hehehe," sahutku.

Aku bersihkan kontolku yang tadi keluar-masuk di boolnya mama. Sementara mama membersihkan belahan pantatnya. Cairan putih menetes keluar dari lubang anusnya.

"Habis ini istirahat dulu ya," kata mama.

"Oke Ma," sahutku.

Selesai bilas, mama mengambil kembali pakaian olahraganya, lalu dia berjalan keluar dari kamarku, menuju ke kamarnya.

***

Tidur siangku hari ini terasa sangat nikmat. Tidak kusangka kontolku akhirnya bisa keluar-masuk di semua lubang kenikmatannya mama. Aku beranjak dari kasur, lalu turun ke lantai 1 untuk mencari mama.

"Ma??" panggilku.

"Apa Sayang?" tanya mama. Suaranya berasal dari dapur.

Aku menuju ke dapur. Kulihat mama sedang mencuci alat masak.

"Mau aku bantu?" tawarku.

"Gak usah," tolak mama, "kamu mending bantu mama mengepel dapur."

"Siap!" sahutku.

"Mentang - mentang habis ngentotin mamanya, kamu jadi sok rajin, hihihi," ucap mama dengan nada centil.

"Enak aja! Kemarin aja aku bantuin mama bersih - bersih lantai 2," balasku.

Mama tertawa saat mendengarnya. Aku kemudian ambil pel, lalu aku mulai mengepel seluruh lantai dapur. Saat sedang mengepel, muncul ide nakal di kepalaku. Aku iseng sodokkan ujung pel ke pantatnya mama.

"Akkhhh! Nakal ya kamu!" ucap mama sambil menepuk punggungku.

"Hehehe, gak sengaja Ma," kataku, membela diri.

"Bohong!" balas mama, "kamu mau masukkin gagang pel ke dalam pantatnya mama?"

"Eng-enggak," jawabku sambil menggelengkan kepala.

Mama tersenyum lebar menatapku. "Yakin? Mama gak keberatan, kalau kamu mau mencoba masukin gagang pel ke dalam boolnya mama."

"Jangan dong Ma," ucapku, "nanti bisa robek pantatnya mama."

"Mama tersenyum sambil mengelus rambutku. "Kamu memang anak yang baik," ujarnya. "Sebagai gantinya, mama ada permintaan."

"Hah??" Aku bingung.

Mama menuju ke kulkas, lalu dia mengambil sebuah timun berukuran cukup besar.

"Mama dari dulu penasaran, bagaimana rasanya ketika memek dimasukin timun," kata mama sambil meraba - raba timun tersebut.

"Hahhh!?" Aku terkejut saat mendengarnya.

"Nih, kamu pegang," kata mama seraya menyerahkan timun itu kepadaku.

Mama kemudian melepas seluruh pakaiannya, lalu dia menungging dalam posisi berdiri. Dia menyandarkan dadanya di atas meja dapur.

"Ayo Sayang, masukin timunnya ke dalam memek mama," pinta mama seraya melebarkan kedua pahanya, memamerkan memeknya yang bersih dan pink.

Aku kemudian menampar pantatnya mama sampai dia menjerit.

"Ih, nakal banget sih kamu!" ucap mama.

"Gemes banget aku sama Mama," balasku.

Ini pertama kalinya aku melihat sisi mesum dari mamaku. Selama ini, aku mengenal mama sebagai pribadi yang ramah, agak judes dan cerewet. Sekarang, mamaku menjadi seorang wanita binal.

"Ayo, cepetan masukin!" kata mama. Sisi judesnya mulai keluar.

"Oke, oke," sahutku.

Aku arahkan timun besar ini ke bibir memeknya mama. Setelah pas, aku dorong secara perlahan. Bibir memeknya mama dipaksa untuk membuka lebih lebar.

"Uuuhhhhh." Mama meringis.

"Sakit Ma?" tanyaku.

"Gapapa," jawab mama, "terusin Sayang."

Timun besar tersebut mulai masuk ke dalam memeknya mama. Kedua kakinya bergetar dan agak menegang. Sepertinya mama sedang merasakan sakit dan nikmat di waktu yang bersamaan. Ketika sudah masuk seperempatnya, aku hentikan doronganku.

"Kok berhenti?" tanya mama, melirik ke belakang.

"Ini mau dimasukin semuanya atau setengahnya?" tanyaku.

"Sampai mama bilang berhenti," jawab mama, "ayo, lanjutin sayang."

Aku dorong perlahan timun besar tersebut. Benda hijau ini masuk semakin dalam ke memeknya mama.

"Oke, stop!" ucap mama.

Timun tersebut nyaris masuk semua ke dalam liang senggamanya mama. Aku lalu melepaskan tanganku dari timun besar itu.

"Gini aja?" tanyaku.

"Iya Sayang," jawab mama.

"Bentar, kalau cuma masukin timun, kenapa Mama sampai telanjang?" tanyaku, "bukannya nurunin celana aja udah cukup?"

"Kalau berurusan dengan seks, mama lebih suka telanjang. Sensasinya lebih nikmat," jawab mama.

Mendengar hal tersebut, aku secara reflek menampar pantatnya mama.

"Akh! Nakal banget sih kamu!" ucap mama.

"Mama bikin aku tambah sange," balasku.

"Kalo gitu, kamu sodok memek mama pake timun ini ya," kata mama seraya menunjuk timun yang menancap di memeknya.

"Siap!" sahutku.

Aku tarik perlahan timun tersebut sampai keluar setengahnya, lalu aku dorong masuk lagi. Berikutnya, aku tarik sampai nyaris keluar, lalu aku dorong masuk ke dalam memeknya mama dengan cepat.

"Ahhhh ... enak banget Sayang," lenguh mama.

"Sama kontolku enak mana Ma?" tanyaku.

"Enak timun ini lah," jawab mama, melirik ke belakang dengan senyum menggoda.

Aku tersenyum saat mendengarnya. "Kalo gitu, mulai sekarang Mama ngentot dengan timun aja ya."

"Yahh ... jangan gitu dong Sayang," kata mama. "Meskipun timun ini enak banget di memeknya mama, tapi kontolmu tetap menjadi favoritnya mama."

"Berarti habis ini, aku boleh dong ngentotin Mama lagi," ucapku.

Mama tersenyum melirikku. "Kamu boleh ngentotin mama sepuasnya, Sayang."

Perkataannya membuat aku menjadi semakin sange. Aku percepat sodokan timun besar ini ke dalam memeknya mama.

"Ah, ah, ah, ah ... enak Sayang," desah mama.

Tidak lama kemudian, mama mendapatkan orgasme. Cairan cintanya meluber keluar dari memeknya. Mama masih dalam posisi menungging sambil berdiri. Aku kemudian mencabut timun itu dari memeknya mama. Aku arahkan kontolku ke memeknya, lalu aku dorong sampai masuk semua.

"Aaahhhhhh." Mama mendesah panjang.

Sambil kuentot, aku tampar - tampar pantatnya yang montok. Benturan antara pahaku dan pantatnya mama menghasilkan suara plok plok plok plok. Aku sangat suka dengan suara ini. Tidak lama kemudian, mama memintaku berhenti.

"Sodok boolnya mama, ya," pinta mama, "trus, timun yang tadi, masukin ke memeknya mama. Mama mau merasakan kenikmatan DP, hihihi," sambungnya.

Aku tersenyum lebar. "Mama ternyata binal juga, ya."

Mama membalasnya dengan tawa renyah. Aku cabut kontolku dari memeknya mama, kemudian aku masukkan kembali timun yang tadi ke dalam memeknya mama. Setelah itu, aku sorongkan kontolku ke dalam liang anusnya mama.

"Aaahhhhhh." Mama mendesah panjang.

"Gimana? Enak gak?" tanyaku sembari menampar pantatnya.

"Enak banget, Sayang," jawab mama, "badan mama gemeter trus ini."

Aku tarik kontolku dengan pelan, lalu aku masukkan lagi dengan pelan. Mama mendesah menikmati kedua lubangnya dijejali oleh benda keras. Tidak lama kemudian, mama kembali mendapatkan orgasme.

"Jangan dicabut Sayang. Entot terus sampe kamu muncrat," kata mama.

Aku lanjut menyodok pantatnya mama sampai aku muncrat. Aku tancapkan kontolku dalam - dalam, lalu aku tumpahkan semua maniku ke dalam boolnya mama. Aku diamkan sejenak kontolku di dalam anusnya mama. Setelah itu, kita mandi bersama di kamar mandinya mama. Saat mandi, sesekali aku meraba - raba tubuhnya mama.

"Kamu masih kuat ngentotin mama?" tanya mama dengan nada menggoda.

"Jelas enggak lah, hahaha," jawabku.

"Kalo gitu, diistirahatin dulu kontolmu. Kalo sampe kamu pingsan, yang repot mama nanti," kata mama.

"Hehehe, oke," sahutku.

***

Aku merasa hubunganku dengan mama semakin intim. Namun, sikap judesnya mama masih belum hilang. Misal aku menggoda mama yang sedang sibuk, dia pasti akan merespons dengan perkataan ketus dan tatapan judesnya yang khas. Tapi, setelah itu, mama duduk di atas kontolku, lalu menggoyang pinggulnya dengan gaya erotis. Aku tidak masalah dengan sikap judesnya. Karena mamaku sebenarnya adalah sosok yang penyayang dan perhatian. Setelah insiden di kamar mandi, aku semakin mengenal siapakah mamaku ini. Ternyata beliau juga punya sisi mesum yang membuatku makin sange kepadanya. Suatu hari, kebetulan aku sedang tidak ada kelas. Aku menuju ke dapur untuk menghampiri mama yang sedang sibuk memasak. Aku dekati mama, lalu aku remas pantatnya. Mama menoleh ke belakang dengan ekspresi marah, lalu memukul lengan kiriku.

"Mama lagi masak! Jangan ganggu!" ketusnya.

Aku membalasnya dengan tawa riang. Mama kemudian berbalik dan lanjut memasak. Kalo dulu aku langsung takut kalo misal mama bernada judes kayak tadi. Sekarang aku malah geli melihatnya. Aku lalu menuju ke ruang keluarga untuk menikmati siaran TV. Bau harum mulai muncul di sekitarku. Masakannya mama selalu lezat.

"Makanan sudah siap," kata mama.

Aku segera bergegas menuju ke meja makan. Kita lalu makan malam bersama. Sambil menikmati hidangan yang ada di meja makan, mama mengajak mengobrolkan hal - hal simpel. Mama sama sekali tidak mengobrolkan hal mesum. Aku jadi sungkan mau membahas hal - hal berbau seks. Selesai makan, aku membantu mama mencuci peralatan makan. Suasana terasa biasa, seperti masa sebelum kita menyatukan kelamin. Setelah selesai mencuci alat makan, mama tiba - tiba menarik tanganku, membawaku menuju ke kamarnya. Mama memintaku duduk di tepi ranjang, Kemudian, dia melepas kaos dan celana pendeknya, menyisakan BH dan CD model thong warna hitam di tubuhnya. Mamaku benar - benar seksi. Dia lalu berlutut di hadapanku, dilanjutkan dengan menurunkan celana kolorku.

"Wihh, sudah tegang maksimal, hihihi," ucap mama sembari menggenggam kontolku.

Tanpa basa - basi, mama memasukkan seluruh kontolku ke dalam mulutnya. Mama memaju-mundurkan mulutnya dengan tempo cepat.

"Ohh, ahhh ... enak Ma," desahku.

Beberapa menit kemudian, aku lepaskan kontolku dari mulutnya. Aku tidak ingin keluar di awal. Mama mendorong badanku ke ranjang, lalu dia naik ke atasku.

"Oh ya, mama belum memberitahukan dua fakta yang sangat menarik ke kamu," ucap mama seraya mendekatkan wajahnya ke wajahku.

"Apa itu?" tanyaku, penasaran.

"Yang pertama, beberapa cewe di tempat gym-nya mama, pengen banget bersenggama sama mama. Bahkan ada yang mau membayar, supaya bisa gesek - gesek memek dengan mama," kata mama dengan nada mesum.

Aku menelan ludah saat mendengarnya. Membayangkan mama melakukan hubungan sejenis dengan wanita yang sama seksinya, membuat kontolku menjadi semakin keras.

"Yang kedua, ada sebagian cowo pengen banget bisa ngontolin semua lubangnya mama," lanjutnya.

Aku hanya bisa melongo saat mendengarnya. Mama lalu menoleh ke belakang.

"Hihihihi, kontolmu sampe keras kayak gitu. Respons-mu lucu," ucap mama. "Jangan bilang kamu pengen liat mama ngentot sama orang lain," sambungnya.

"Gak lah!" balasku.

"Hihihihi, santai aja. Tubuhku cuma buat papamu dan kamu," kata mama seraya membelai pipiku.

"Wow! Mama memang yang terbaik," pujiku.

Mama tersenyum saat mendengarnya. Kemudian, mama melepas BH dan CD-nya. Sekarang kita sama - sama telanjang.

"Mama masukin ya," ucap mama.

Mama arahkan kontolku ke bibir memeknya yang sudah basah, lalu kontolku masuk ke dalam liang senggamanya secara perlahan. Ketika sudah masuk semua, mama mendiamkannya sejenak.

"Mama suka banget sama kontolmu," ujar mama.

"Aku suka banget sama memeknya Mama," balasku.

Memeknya mama tiba - tiba menjadi semakin rapat. Pasti karena ucapanku tadi. Mama kemudian menaikkan pinggulnya secara perlahan, lalu menurunkannya dengan perlahan juga. Memeknya mama terasa hangat dan lembut.

"Kita lakukan dengan lembut dan perlahan, ya," ucap mama.

"Oke Ma," sahutku.

Mama mulai menggoyang pinggulnya dengan perlahan tapi tetap terlihat erotis.

"Ohh, yeahh ... kontolmu nikmat banget," lenguh mama.

Aku remas kedua toketnya yang menggantung bebas. Mama mendesah makin keras. Dia lalu membantuku meremas toket kanannya. Tidak lama kemudian, mama mengejang dengan kepala mendongak ke atas.

"Mama keluaaarrr, Sayaaaanngggg!" seru mama.

Cairan cintanya menyembur seperti banjir bandang. Paha dan selangkanganku jadi basah semua. Mama kemudian ambruk di atas dadaku.

"Kayaknya enak banget, ya?" kataku sambil menepuk pantatnya mama.

"Iya, Sayang," jawab mama. 

Karena kontolku masih menancap di memeknya mama, jadi aku gerakkan sendiri sambil aku goyang pinggulnya. Mama meringis menahan nikmat sambil menggigit jarinya. Memeknya terasa makin nikmat akibat cairan kelaminnya.

"Kamu kuat banget, Say," kata mama dengan suara lirih.

"Demi Mama, aku harus kuat, hehehe," balasku.

Mama tersenyum senang saat mendengarnya. Dia mencium pipiku dengan lembut. Setelahnya, aku baringkan mama di atas ranjang, lalu aku genjot kembali memeknya yang sempit dan nikmat.

"Oh, oh, oh, yeahh ... entot terus, Sayang," desah mama dengan binal.

Aku percepat genjotanku, agar mama kembali mendapatkan orgasme. Setiap sodokan yang aku lakukan menghasilkan suara plok plok plok yang nikmat untuk didengar. Liang kenikmatannya mama terasa hangat dan sangat becek. Dulu, lubang ini pernah melahirkan ciciku dan aku. Sekarang, lubang ini sedang aku sodok dengan kontolku. Beruntung mama sama sekali tidak keberatan. Tidak lama kemudian, aku merasa mau orgasme.

"Keluarin di mana, Ma?" tanyaku.

"Di dalam Sayang," jawab mama, "mama pengen merasakan kehangatan dari pejumu, hihihi."

Aku tancapkan penisku dalam - dalam, lalu aku muntahkan semua spermaku di dalam liang kenikmatannya mama. Aku kemudian ambruk di atas badannya mama. Mama memelukku dengan erat. Kita dalam posisi ini selama sekitar 3 menit. Setelah energiku pulih, aku beranjak menuju ke dapur. Aku ambil 2 gelas air dingin untuk mama dan diriku. Kita lalu meminumnya sampai habis.

"Lanjut?" tanya mama.

"Iya dong. Belum puas nih," jawabku.

Mama tersenyum senang saat mendengarnya. Aku kemudian meminta mama untuk menungging. Mama menurut dan dia segera menungging di sampingku. Menatap memeknya yang merah merekah, membuatku menjadi makin sange. Aku colok - colok memeknya dengan dua jariku.

"Wihh, banyak amat cairannya," ucapku sambil tersenyum.

"Cepetan, masukin Say," rengek mama seraya menggoyangkan pantatnya.

"Oke, oke," sahutku.

Aku berlutut di depan pantatnya mama yang montok. Sebelum kuentot, aku remas - remas bongkahan pantatnya yang montok dan empuk.

"Kamu nakal banget sih! Godain mama terus," protes mama.

"Iya dong. Masak body seksi kayak gini gak dimainin, hehehe," balasku.

"Kamu sekarang pinter ngegombal, ya? Hihihi," kata mama.

"Hehehehe." Aku tertawa terkekeh.

Aku arahkan kontolku ke memeknya mama, lalu aku dorong sampai masuk semua. Mama mendesah panjang saat memeknya kembali dimasuki kontolku. Kemudian, aku kembali menghajar memeknya. Sambil kusodok, aku jambak juga rambutnya, sampai kepalanya mendongak ke atas.

"Terus Sayang. Entotin mama Say," lenguh mama.

Kedua tanganku pindah ke toketnya mama. Aku remas - remas kedua toketnya yang dari tadi bergoyang ke depan dan ke belakang. Tidak lama kemudian, mama kembali mendapatkan orgasme. Aku cabut kontolku dari memeknya mama, lalu aku tancapkan ke boolnya mama.

"Aaaahhhhh!" Mama mendesah panjang dengan kepala mendongak ke atas.

Boolnya mama lebih sempit dari memeknya. Aku diamkan sejenak kontolku di dalam liang anusnya. Kemudian, aku mulai menggenjot pantatnya dengan tempo lambat.

"Agak cepet dikit, Say," kata mama.

"Oke Ma," sahutku.

Aku percepat genjotanku di anusnya mama. Jepitan lubang pantatnya sungguh sangat nikmat. Aku merasa seperti sedang terbang mengarungi awan di langit.

"Gimana? Enak gak boolnya mama?" tanya mama seraya melirikku.

"Enak banget Ma!" jawabku sambil kudorong kontolku ke dalam anusnya mama.

Tidak pakai lama, aku akan tiba di puncak kenikmatan. Aku tarik kontolku, lalu aku dorong ke dalam dengan kuat. Aku tancapkan dalam - dalam kontolku di pantatnya mama. Kusemburkan semua pejuku ke dalam pantatnya mama. Kemudian, aku ambruk ke samping kanan. Aku sangat puas dengan sesi ngentot ini. Mama kemudian memelukku sambil mencium keningku.

"Makasih yaa, Sayang," kata mama dengan lembut.

Kita lalu tertidur sambil berpelukan seperti sepasang kekasih. Badannya mama terasa begitu hangat dan lembut. Aku peluk dia erat - erat.

***

Sekitar jam 4 sore, aku terbangun dengan perasaan segar. Aku beranjak dari kasur, lalu menuju ke dapur. Ketika tiba di dapur, aku melihat mama sedang menyiapkan bahan makanan. Aku melongo kecil melihat mama cuma mengenakan BH dan CD warna ungu. Aku dekati dia, lalu aku remas kedua toketnya dari belakang. 

"Eh!? Jangan ganggu mama masak!" serunya. Mama menatapku dengan tatapan judes.

"Hahahahaha." Aku tertawa saat melihat responsnya.

Aku memutuskan menuju ke ruang keluarga, menunggu mama selesai memasak. Beberapa menit kemudian, aku mencium bau harum dari arah dapur. Sepertinya mama sedang membuat hidangan yang lezat. Aku berjalan pelan menuju ke dapur untuk mengintip apa yang sedang mama masak. Ternyata mama sedang membuat sup dan ayam katsu.

"Wihh, mantap," ucapku dalam hati.

Mama tiba - tiba menoleh ke arahku. "Sayang, bantu mama sini," panggilnya.

"Oh, oke," sahutku.

Aku membantu mama mengangkat hidangan lezat ini ke meja makan.

"Ma, sebelum makan, satu ronde bentar yuk," ajakku.

Mama menatapku dengan senyuman mesum. "Kamu kok sangen trus sih!" ucapnya seraya mencubit lenganku.

"Habisnya Mama seksi banget," balasku.

Aku kemudian menarik mama menuju ke sofa ruang keluarga. Aku duduk di atas sofa, sedangkan mama berlutut di depanku. Aku keluarkan kontolku yang tegak perkasa. Mama menggenggamnya, lalu dia masukkan ke dalam mulutnya. Berikutnya sudah dapat ditebak, tidak perlu diceritakan lagi. Aku puas sekali ngentot dengan mamaku.

Jumat, 01 Mei 2026

Cerita Seks Kisahku dengan Boneka - Bonekaku part 3

Aku senang sekali akhirnya bisa mendapatkan 3 boneka baru. Yang pertama adalah boneka cowo kulit hitam atau negro, yang kedua adalah boneka anjing besar. Sepertinya ini jenis anjing herder. Dan yang terakhir adalah boneka gremlin. Tampangnya sih menakutkan, tapi ukuran badannya sama seperti goblin. Ketiga bonekaku ini belum bergerak sama sekali. Di saat yang bersamaan, dua boneka teddy kesayangan sibuk menggerayangi tubuhku.

"Kalian mau ngentot ya?" tanyaku dengan nada menggoda.

Mereka mengangguk dan segera melucuti pakaianku. Kedua boneka sange itu kemudian memperkosaku dengan cukup kasar. Aku sangat menikmati permainan kasar mereka. Mulut, vagina dan pantatku disodok dengan penis besar dua boneka teddy-ku. Setelah puas menyetubuhiku, kedua teddy-ku kembali menjadi boneka biasa. Lantai kamarku jadi basah karena lendir dan keringatku.

"Nafsuan banget mereka, hihihi," ucapku.

Aku kemudian menuju ke ranjang untuk beristirahat sejenak. Beberapa menit kemudian, aku merasakan ada tangan yang meraba - raba pahaku. Aku buka mataku, ternyata si boneka cowo kulit hitam pelakunya.

"Sepertinya dia perlu nama, biar tidak susah saat memanggilnya," ucapku dalam hati.

Aku lalu beranjak dari rebahanku, memposisikan diriku duduk di atas ranjang. Si boneka itu langsung menghentikan rabaannya.

"Mulai sekarang, namamu adalah George," kataku.

George sama sekali tidak menunjukkan ekspresi. Tapi aku yakin, dia suka dengan nama pemberianku. Aku kemudian mendekati kepadanya, lalu aku cium bibirnya. Sambil berciuman, dia meremas - remas dadaku. Aku membalasnya dengan mengocok kontolnya yang besar, hitam dan keras. 1 menit kemudian, aku menyudahi ciuman kita. Aku turunkan kepalaku menuju ke batang kontolnya yang terlihat asli. Aku cium kepalanya, lalu aku jilat - jilat sampai ke batangnya. Setelahnya, aku masukkan 1/4 kontolnya ke dalam mulutku. Aku kulum - kulum batang hitamnya George seperti pelacur binal. Aku coba untuk memasukkannya lebih dalam, ternyata tidak mudah. Rahangku terasa sakit karena dipaksa untuk membuka lebih lebar. 2 menit kemudian, aku cabut kontolnya George dari mulutku.

"Ouw ... sakit," ucapku sambil memegang rahang bawahku.

Aku dorong badannya George sampai dia telentang, kemudian aku posisikan diriku di atas kontolnya. Aku turunkan pinggulku hingga kontol hitamnya George menempel di bibir memekku. Setelah itu, aku dorong pantatku sampai kontol besar tersebut masuk semua ke dalam liang senggamaku.

"Aahhhhh." Aku mendesah panjang, menikmati kontolnya George yang memenuhi lubang memekku.

Aku goyang pantatku secara perlahan, kemudian aku mulai percepat goyanganku. Aku mendesah keenakan, menikmati kontol besar ini. Badanku mulai berkeringat akibat goyanganku yang penuh semangat. Aku pegang tangannya George, lalu aku arahkan ke payudaraku yang gondal - gandul. Dia lalu meremas - remas payudaraku dengan lembut.

"Oh ... yeah! Enak banget say!" desahku.

Satu menit kemudian, aku mendapatkan orgasme yang dahsyat. Cairan cintaku muncrat dalam jumlah banyak. Aku lalu ambruk di atas badannya George. Kontolnya masih menancap di memekku. Aku biarkan saja karena rasanya sungguh nikmat. Kontolnya George kemudian menyusut menjadi kecil. Dia kembali menjadi boneka biasa.

"Yahhhh." Aku kecewa.

Beberapa detik kemudian, si boneka anjing besar berjalan mendekatiku. Aku tersenyum menatapnya. Sudah jelas dia mendatangiku untuk memasukkan kontolnya ke dalam memekku. Si anjing besar itu mendorong badanku sampai terguling dari badannya si George. Si boneka anjing itu lalu mengangkangi diriku yang berbaring dalam posisi terlentang.

"Sepertinya kamu perlu nama juga, biar penyebutannya lebih enak," kataku. "Namamu adalah ... Boldi."

Dia sama sekali tidak bereaksi. Boldi malah mendekatkan kontolnya yang besar ke mulutku. Sebagai betina yang baik, aku buka mulutku, membiarkan kontol boneka tersebut masuk ke dalamnya. Boldi memaju-mundurkan kontolnya di dalam mulutku, sedangkan aku menikmatinya sambil memainkan memekku. Boldi mendorong - dorong kontolnya cukup dalam ke tenggorokan. Entah kenapa, aku malah suka. Beberapa menit kemudian, Boldi mencabut kontolnya dari mulutku. Dia lalu mendorong badanku, mengubah posisiku menjadi tengkurap. Aku meliriknya dan dia menatapku tanpa menunjukkan ekspresi. Aku langsung tau apa yang dia inginkan. Boldi ingin aku menungging, jadi dia bisa ngentotin aku dari belakang.

"Oke," ucapku.

Aku lalu memposisikan diriku menungging. Boldi kemudian naik ke atas badanku. Dia mencengkeram area pinggangku, kemudian aku rasakan sebuah benda keras menempel di bibir memekku. Benda keras tersebut kemudian masuk seluruhnya ke dalam liang senggamaku.

"Aaahhhhhh!" desahku sambil mendongak ke atas.

Rasanya sungguh nikmat sekali dientot oleh sebuah boneka anjing. Rasanya seperti aku dientot oleh anjing sungguhan. Badanku bergoyang ke depan dengan kuat akibat sodokan Boldiku yang perkasa.

"Oh yeah! Terusin sayangku!" seruku.

Beruntung di rumah sedang tidak ada siapa pun, jadi aku bisa berteriak keenakan sepuasnya. Tiba - tiba, muncul sebuah ide gila di kepalaku. Aku ingin mencoba dientot di luar kamar.

"Boldi sayang, mau ngentot di luar gak?" tanyaku.

Aku terkejut ketika Boldi menghentikan genjotannya, dan langsung mencabut kontolnya. Dia ternyata memahami perkataanku. Aku beranjak berdiri, lalu berjalan menuju ke luar kamar bersama dengan Boldi. Kemudian, aku menungging di depan pintu kamarku. Boldi kembali menaiki badanku, lalu dia sodokkan kontolnya ke dalam memekku.

"Ouhhh ... Boldi!" lenguhku.

Dia menggenjotku dengan buas. Butiran keringat menetes dari badanku, membuat lantai di bawahku jadi basah. Tidak lama kemudian, Boldi memutar tubuhnya. Sekarang kita sedang beradu pantat.

"Ah, iya ... enak sayang," lenguhku.

Kita beradu pantat sekitar 30 menit. Setelahnya, Boldi melepas kontol dan bonggolnya dari memekku. Aku kemudian ambruk di atas lantai dengan badan kelelahan. Memekku berkedut - kedut akibat dientot 3 kontol besar. Karena kelelahan, Aku tertidur di lantai depan kamarku. Beberapa menit kemudian, aku terbangun dari tidurku.

"Hmph?" Aku merasa ada yang aneh.

Aku menyadari kalau kedua tanganku terikat di belakang, dan posisiku berbaring menyamping. Aku menoleh ke belakang, dan kulihat si boneka gremlin sedang berdiri di belakangku.

"Ternyata kamu ya?" ucapku.

Dia meresponsnya dengan menendang punggungku. Aku membalasnya dengan tawa kecil. Si gremlin kecil itu lalu menarik - narik tanganku. Aku langsung tau kalau dia ingin aku berdiri. Aku kemudian beranjak berdiri, lalu si boneka gremlin itu berdiri di depan. Si kecil itu memberikan kode untuk mengikuti dia.

"Sepertinya aku menjadi tahananmu, ya? Hihihihi," ucapku.

Aku lalu berjalan mengikuti si boneka gremlin itu. Dia membawaku turun ke lantai 1. Si Gremlin itu membawaku berjalan mengelilingi lantai 1. Aku tidak tahu dia mau membawaku ke mana. Kita cuma berputar - putar saja. Tidak lama kemudian, dia kembali menuju ke lantai 2. Aku sih ngikut aja, karena saat ini, aku adalah tahanannya. Kita lalu tiba di depan pintu kamarku. Si gremlin ini memberikan gestur, memintaku untuk berjongkok. Aku menurutinya dan berjongkok di depannya. Dia lalu melepas ikatan tanganku. Setelahnya, dia terjatuh ke lantai, kembali menjadi boneka biasa.

"Lahh!?" Aku terkejut saat melihatnya. "Cuma gitu aja??"

Aku menepuk dahiku. Aku lalu membawa si boneka gremlin ini masuk ke dalam kamar. Aku kemudian merebahkan badanku, memikirkan yang baru saja terjadi.

"Sepertinya dia hanya ingin bermain sebagai monster kecil yang berhasil menangkap seorang wanita," ujarku dalam hati.

Aku jadi penasaran jika pintu menuju ke halaman belakang dan halaman depan aku buka. Karena sudah lelah, aku segera bersiap untuk tidur. Aku sikat gigi terlebih dahulu, setelah itu aku langsung menjatuhkan badanku ke atas kasur. Aku tidur tanpa busana.

***

Esok paginya, aku bangun dengan badan segar. Energiku sudah pulih 100%, siap untuk dientot lagi, hihihi. Aku menuju ke lantai 1 tanpa mengenakan pakaian. Aku ambil susu di kulkas, lalu aku tuangkan ke dalam gelas. Pagi ini, aku hanya sarapan roti dan susu. Selesai sarapan, aku kembali ke kamar sebentar untuk mengambil HP. Kemudian, aku menuju ke ruang keluarga untuk menonton TV. Ketika sedang menonton TV, aku mendapatkan pesan dari Fey.

"Bagaimana dengan boneka gremlinnya?" tulisnya.

"Masih bingung dengan kelakuannya," balasku dalam pesan chat.

Fey kemudian menjelaskan kepribadian dari si boneka gremlin. Dari penjelasannya, aku langsung paham apa yang perlu aku lakukan.

"Sekarang apa nanti, ya?" pikirku.

Selama seharian ini, aku akan sendirian di rumah. Jadi, ini adalah kesempatan emas untuk bersenang - senang dengan boneka kesayanganku.

"Hmmm ... enaknya siapa yang akan aku entot terlebih dahulu?" pikirku.

Setelah memikirkannya selama 1 menit, aku putuskan untuk ngentot dengan semua bonekaku. Aku menuju ke kamar, lalu aku ambil dua boneka teddy-ku. Aku bawa mereka menuju ke ruang keluarga. Ketika aku letakkan dua boneka teddy-ku di atas sofa, mereka berdua menjadi hidup. Kedua boneka kesayanganku itu beranjak berdiri, lalu mereka mendekatiku. Aku tertawa geli saat mereka menelanjangiku secara paksa. Setelah sukses melucuti seluruh pakaianku, mereka secara kasar membuatku menungging di atas lantai.

"Hihihihi." Aku malah tertawa dengan kelakuan mereka.

Si teddy coklat memasukkan kontolnya ke dalam mulutku, sementara si teddy putih menyorongkan kontolnya ke dalam memekku. Tangan dan kakiku bergetar akibat kenikmatan dahsyat ini. Mereka ngentotin aku dengan kasar. Tidak lama kemudian, aku mendapatkan orgasme pertamaku. Mereka lalu bertukar posisi. Si teddy coklat yang tadi ngentot mulutku, sekarang ngentotin memekku. Kontolnya si teddy putih yang belepotan cairan cintaku, sekarang masuk ke dalam mulutku. Aku cukup diam dan membiarkan mereka menggenjot semua lubang di tubuhku. Selama 30 menit, kedua boneka kesayanganku mengentotku. Badanku dibuat lemas oleh mereka berdua. Aku terkapar di atas lantai ruang keluarga. Kedua boneka teddy-ku kembali menjadi boneka biasa. 2 menit kemudian, aku beranjak menuju ke kamarku. Aku terkejut ketika melihat George berdiri di tangga.

"Eh!? Sejak kapan kamu di situ?" tanyaku, bingung.

George kemudian mendekatiku, lalu dia menggendongku seperti sedang membawa karung beras. Dia lalu membawaku kembali ke sofa ruang keluarga.

"Aku istirahat dulu, ya. Badanku capek banget," ucapku, memohon.

Si boneka kulit hitam itu mengacuhkan permintaanku. George memegang rahang bawahku, lalu dia masukkan kontolnya ke dalam mulutku. Dia menyodok mulutku dengan kasar. Setelah puas membuat rahangku sakit, George mengangkat kedua pahaku sampai lututku berada di dekat wajahku. Kemudian, dia masukkan kontol besarnya ke dalam memekku. Aku mendesah keras dan panjang saat benda besar itu menyumpal liang kenikmatanku. Sofa dibawahku berguncang akibat sodokan penuh tenaga dari si George.

"Ah, ah, ah ... ampun, sayang," ucapku, agak memohon.

Jika diteruskan, aku akan pingsan karena kelelahan dan keenakan. Dugaanku ternyata benar, 2 menit kemudian, pandanganku mulai kabur. Aku sudah tidak kuat lagi. Akhirnya, aku benar - benar pingsan.

***

Mataku mulai terbuka secara perlahan. Aku sangat terkejut mendapati diriku berada di halaman belakang. Kedua tanganku terikat di tiang lampu taman. Posisi tanganku berada di atas kepalaku, membuat ketiakku yang mulus terekspos. Punggungku bersandar di tiang lampu, pantat dan kakiku berada di atas rumput taman.

"Aduh, siapa nih pelakunya!" ucapku dengan ekspresi agak kesal.

Aku kemudian menyadari sesuatu. Kedua putingku dijepit dengan jepitan pakaian. Pantes payudaraku terasa nikmat - nikmat gimana gitu. Dari arah samping kiriku, muncullah si boneka gremlin.

"Oh, ternyata kamu," ucapku sambil senyum - senyum.

Dia menatapku sambil membawa sebuah timun besar. Tidak salah lagi, itu adalah timun yang aku beli kemarin. Si Gremlin kemudian menendang kakiku. Aku langsung mengerti apa yang diminta oleh boneka seram ini. Dia ingin aku melebarkan kedua pahaku. Aku menurutinya dan aku lebarkan kedua kakiku. Aku pamerkan memekku kepada si cebol ini, hihihi. Dia kemudian mengarahkan timun besar tersebut ke bibir memekku. Aku sedikit gemetar melihat ukuran dari timun itu.

"Aaahhhh!" Aku mendesah lumayan panjang saat ujung dari timun itu menyeruak masuk ke dalam liang memekku.

Liang senggamaku dipaksa untuk terbuka lebih lebar. Timun besar itu masuk makin dalam ke memekku. Si boneka gremlin itu menyisakan sangat sedikit ujung dari timun itu. Jika terdorong sedikit, maka timun tersebut akan masuk seluruhnya ke dalam liang memekku. Badanku bergetar, menikmati benda besar yang ada di liang kenikmatanku. Si Gremlin menatapku tanpa melakukan apa pun. Dia sepertinya hanya ingin menyiksaku. Beberapa menit telah berlalu. Aku masih terikat di lampu taman. Memekku masih tersumpal timun besar. Dia pergi meninggalkanku begitu saja. Beruntung tidak ada orang di rumah. Kalau misal ada, bisa - bisa suami dan anak - anakku akan mengira kalau aku jadi korban pemerkosaan atau pencabulan oleh orang mesum.

"Berapa lama, ya, aku jadi tahanannya?" pikirku.

Meski gak disodok - sodok, timun besar ini sukses membuat memekku berkedut - kedut. Badanku terus menggeliat, menahan rasa nikmat yang luar biasa ini. Sekitar 3 menit kemudian, aku mendapatkan orgasme dahsyat. Cairan cinta menyembur sampai membasahi rumput yang ada di bawah. Si Gremlin kemudian pergi meninggalkanku begitu saja.

"Eh!? Dia mau membiarkan aku terikat di sini?" ucapku dalam hati.

Entah kenapa, aku malah tidak panik sama sekali. Memekku malah tambah berkedut. Sepertinya aku sudah gila.

***

Aku tidak tahu sudah berapa lama aku terikat di sini. Aku masih berharap si Gremlin datang untuk melepaskanku. Tidak lama kemudian, secercah harapan menghampiriku. George berjalan mendekatiku, lalu dia melepas tali yang mengikat kedua tanganku. Tantangan berikutnya adalah mencabut timun dari memekku. Jika aku salah bergerak, maka timun ini akan masuk semua ke dalam memekku. Dengan hati - hati, aku tarik timun tersebut sambil aku lebarkan kedua pahaku. Timun tersebut perlahan mulai tertarik keluar dari liang senggamaku. Akhirnya, timun besar tersebut berhasil aku cabut dari memekku. Liang kenikmatanku terasa ngilu dan panas. Kemudian, aku berjalan menuju ke kamar mandi untuk membilas badanku. Boneka - boneka yang ada di rumahku sukses membuat memekku basah terus. Aku belum pernah merasakan kenikmatan seperti ini. Selesai bilas, aku kembali ke dapur untuk memasak. Aku sengaja tidak berpakaian karena malas untuk kembali mengenakan bajuku.

"Setelah masak, enaknya ngapain, ya?" pikirku.

Kalo misal aku ngentot lagi, bisa - bisa aku mati karena kehabisan energi. Selesai memasak, aku merebahkan badanku di atas sofa. Badanku rasanya letih sekali akibat dikerjain oleh boneka - bonekaku.

Bersambung....

Kamis, 26 Maret 2026

Cerita Seks Remote Pengendali Pikiran part 6

Aku dan Joni belum membuat rencana lagi, karena tidak lama lagi kita akan menghadapi ujian. Ketika aku sedang sibuk belajar, tante Reni mengirimkan beberapa foto telanjangnya.

"Astaga!" seruku, sedikit kesal.

Aku diamkan saja, dan kembali lanjut belajar.

Beberapa menit kemudian, tante Reni mengirimkan sebuah video. Aku acuhkan dan memilih fokus menyelesaikan belajarku. 20 menit kemudian, aku memutuskan untuk istirahat sejenak. Aku buka HP-ku untuk melihat video yang dikirimkan oleh tante Reni. Aku terkejut dengan mulut terbuka saat melihat video tersebut. Tante Reni sedang melakukan hubungan intim dengan tante Astrid. Dari tatapan matanya, sudah jelas tante Astrid sedang dikendalikan dengan remot pengendali pikiran. Hubungan seks mereka begitu intens.

"Tante Reni melakukannya di mana coba?" pikirku.

Penisku mulai ngaceng saat menonton adegan seks yang dilakukan oleh kedua tante ini. Tante Reni sesekali melirik ke arah kamera HP, seolah dia sedang mencoba menggodaku. Baru berjalan 3 menit, aku pause videonya. Aku kembali ke meja belajarku untuk lanjut belajar. 30 menit kemudian, aku sudahi belajarku. Aku lanjutkan video yang tadi. Sambil menonton, aku mulai mengelus - elus penisku. Di akhir video, tante Reni menghadap ke kamera.

"Setelah ujianmu selesai, tante akan memberimu sebuah kejutan, hihihihi," ujarnya.

"Kejutan macam apa yang akan diberikan oleh tante binal ini?" pikirku.

***

Selama 8 hari, aku mengikuti ujian tengah semester yang lumayan berat. Materinya susah - susah. Selama masa ujian, aku tidak melakukan seks sama sekali. Entah ini sebuah keberuntungan atau kejanggalan, tante Reni tidak menggangguku dengan mengirimkan foto dan video mesumnya.

"Sepertinya akan terjadi sesuatu," kataku dengan tidak bersemangat.

Setelah ujian, kita mendapatkan libur satu hari. Kalau aku perhatikan, hari ini adalah hari Sabtu. Sudah jelas itu hari libur. Kita dikerjain sama pihak sekolah. Hari ini aku pergi ke mall dengan teman sekelasku. Ketika sedang asik mengobrol di sebuah restoran, HP-ku bergetar. Saat aku cek, ternyata ada chat dari tante Reni.

"Kamu pulang kapan?" tulisnya.

Aku jawab, "Mungkin 1 jam lagi."

"Oke, aku tunggu di rumahmu yaa," balasnya.

"Pasti dia mau main sama mamaku lagi," ucapku dalam hati.

Gara - gara tante Reni, aku jadi tidak sabar untuk pulang.

***

Sebelum acara jalan - jalanku selesai, aku memberitahu tante Reni kalau aku akan segera pulang. Tante hanya mengirimkan emoji oke. Akhirnya, acara jalan - jalan kita selesai. Aku bergegas menuju ke tempat parkir, lalu aku gas motorku menuju ke rumah. Setibanya di rumah, aku berlari kecil menuju ke ruang keluarga.

"Halo Will," sapa mama sambil melirik ke belakang..

"Kamu datang tepat waktu," imbuh tante Reni, juga melirik ke belakang. Dia duduk di sampingnya mama.

Aku terdiam menatap mereka. Tidak ada kata yang keluar dari mulutku.

"Kok diem aja?" tanya mama sembari bangkit berdiri, "ayo, kita ke kamarku."

Mama dan tante Reni berjalan bersama menuju ke kamarnya mama. Aku bingung melihat apa yang terjadi saat ini. Semuanya terasa janggal bagiku. Yang pertama, mama dalam kondisi sadar. Yang kedua, dia terlihat sudah akrab dengan tante Reni. Setauku mereka tidak saling kenal. Aku kemudian tersadar dari lamunanku setelah tante Reni memanggil namaku. Aku berlari kecil menuju ke kamarnya mama yang ada di lantai 2. Saat aku masuk ke dalam, mama memintaku mengambil kursi dari meja riasnya, lalu duduk menghadap mama dan tante Reni yang duduk berdua di atas ranjang. Aku melakukan apa yang diperintahkan oleh mama, meski diriku bingung apa yang sebenarnya sedang terjadi.

"Will, langsung ke poin utamanya ya," kata mama dengan ekspresi serius, "Reni sudah cerita banyak ke mama," lanjutnya sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada.

Deg, badanku seketika membeku. Aku terdiam dengan ekspresi cemas dan takut. Tante Reni senyum - senyum menatapku.

"Hahahahaha." Tiba - tiba tante Reni tertawa lepas, "ekspresimu lucu banget! Hahahahaha."

Ingin rasanya aku sleding si tante jalang itu. Kemudian, aku lihat mama mulai tersenyum.

"Hahahahaha ... perutku jadi sakit nih, hahahaha." Mama tertawa keras sambil memegangi perutnya.

"Sepertinya prank kita sukses Beb," kata tante Reni.

"Benar sekali," sahut mama.

Aku terkejut saat mendengarnya. "Huh!?"

Mama kemudian menceritakan mengenai hubungannya dengan tante Reni. Aku kembali terkejut ketika mama mengatakan kalau dia dan tante Reni sudah lama saling kenal.

"Mama juga tahu lhoo tentang remot tersebut," ucap mama dengan senyum bangga. "Kamu dan temanmu pertama kali menggunakannya ke Reni, kan?" sambungnya.

"Hah!? Kok tau?" Aku terbelalak saat mendengarnya.

"Kan, udah kubilang, Reni cerita semuanya ke aku," jawab mama. "Mama juga tahu lho siapa saja wanita yang kamu entot bersama dengan si Joni," ucapnya kemudian.

Aku tidak dapat berkata apa - apa. Mama dan tante Reni saling melirik sambil tersenyum, kemudian mereka berdua kembali menatapku.

"Kamu tau gak, mama pernah dientot satu kali sama Joni, partnermu," kata mama.

Aku sudah tidak tau mau bereaksi apa. Ini sungguh sangat tidak terduga. Mama kemudian tersenyum menatapku.

"Santai saja Sayang, mama gak marah kok," kata mama, "mama cuma kecewa, kenapa Joni gak minta baik - baik. Kalo minta dengan sopan, mama bakal bolehin dia ngentotin aku."

"Lahh!? Kok gitu??" Aku keberatan.

"Kamu aja ngentot dengan banyak wanita, masak mama gak boleh?" kata mama.

"Bener itu," imbuh tante Reni.

Apa yang dikatakan mama membuatku tidak bisa membalasnya. Aku jadi bingung mau berkata apa.

"Beb, aku udah sange nih," kata tante Reni sembari menyentuh pahanya mama.

Mama menatap tante dengan senyum lebar, kemudian mereka saling berciuman. Aku melongo melihat mereka berdua berciuman seperti pasangan lesbi. Mama dan tante Reni sesekali melirikku. Aku hanya bisa diam membeku seperti orang bego. Tidak lama kemudian, mama melepas kaosnya tante Reni, dan tante Reni membalasnya dengan melepas kaosnya mama. Tubuh bagian atas mereka sekarang hanya ditutupi oleh BH saja. Mereka berdua lanjut berciuman sambil peluk - pelukan. Tidak lama kemudian, mama dan tante Reni beranjak berdiri. Mereka melepas celana pendek yang masih melekat di badan, lalu dilemparkan begitu saja ke arah lain. Sekarang mama dan tante Reni hanya mengenakan pakaian dalam saja. Tante Reni kemudian mengambil posisi membelakangi mama, lalu mama menempelkan badannya ke badannya tante Reni. Mama kemudian meremas - remas dadanya tante Reni yang masih terbungkus BH.

"Gimana? Kamu suka gak?" tanya mama dengan lirikan mesum.

"I-iya," jawabku dengan nada canggung.

"Uhhh ... sayang ... terusin yaa," desah tante Reni sambil melirikku.

Mama kemudian mengarahkan tangan kanannya ke selangkangannya tante Reni. Dia meraba - raba vaginanya tante Reni yang masih tertutup CD.

"Ohh, sayang," lenguh tante Reni.

Tidak lama kemudian, mama dan tante Reni menatapku dengan tatapan mesum.

"Mau ikut juga?" tawar tante Reni.

"Hah!?" Aku terkejut.

"Ayo, mau gak?" tanya mama.

Aku diselimuti kebingungan. Di satu sisi, aku mau - mau saja ikut bergabung, tapi, sekarang ini, mamaku ada di sini, meskipun dia juga terlibat. Mereka berdua menghampiriku, lalu membawaku menuju ke pinggir ranjangnya mama. Aku pasrah saja ketika mama dan tante Reni menelanjangiku. Aku lalu didudukkan di pinggir ranjang. Mama dan tante Reni kemudian berlutut di depanku. Aku sangat terkejut ketika melihat mama kandungku sendiri sedang menjilati batang penisku bersama dengan tante Reni. Kalau dijilat sama tante Reni udah biasa, tapi kalau mama sendiri ... benar - benar diluar prediksi. 

"Gimana? Enak gak jilatannya mama?" tanya mama sambil melirikku.

"Anu ... ummm ...." Aku jadi semakin canggung.

"Kalo sama tante, enak mana?" tanya tante Reni.

Tante Reni dan mama menghentikan jilatan mereka. Keduanya fokus menatapku.

"E-enak semuanya," jawabku.

Mama dan tante Reni tersenyum menatapku. Mereka kemudian lanjut menjilati penis dan bijiku. Tidak lama kemudian, tante Reni berdiri sedikit, lalu dia menjilati putingku. Aku kemudian dibuat pusing 9 keliling ketika mama memasukkan penisku ke dalam mulutnya. Benar sekali, batang penisku sedang dikulum oleh mama kandungku.

"Uhh ... ahhh ...," lenguhku.

Mama begitu lihai mengulum penisku. Aku dibuat melayang ke angkasa.

"Beb, gantian dong," pinta tante Reni.

Mama mencabut penisku dari mulutnya. Tante Reni kemudian memasukkan penisku ke dalam mulutnya. Mama beralih ke dadaku, lalu dia menjilatinya dengan lembut.

"Gimana? Enak gak?" tanya mama.

"Enak," jawabku.

Mama dan tante Reni tersenyum menatapku. Kemudian, mereka berdua mendorongku sampai aku terlentang di atas kasur.

"Nah, sekarang giliranmu," kata tante Reni sembari duduk di atas wajahku, "jilatin memekku ya."

Aku turuti perkataannya, lalu aku julurkan lidahku ke bibir vaginanya. Tante Reni mendesah keenakan, menikmati lidahku yang menyapu area vaginanya. Kemudian, aku merasakan sebuah vagina hangat menyentuh kepala penisku. 

"Oh, shit!" ucapku dalam hati. 

Saat ini, tante Reni berada di atas mukaku. Jadi, dapat dipastikan yang ada di area selangkanganku adalah mama. Aku seketika menjadi takut. Mama akan memasukkan penisku ke dalam vaginanya, tempat di mana aku dilahirkan. Bukannya jadi lemas, penisku justru semakin mengeras.

"Wow ... kontolmu keras banget," kata mama.

Aku sebenarnya ingin mengatakan sesuatu, tapi mulutku disumpal dengan vaginanya tante Reni. Kemudian, kurasakan penisku masuk ke dalam sebuah liang sempit yang hangat.

"Gila! Vaginanya mama sempit banget!" seruku dalam hati.

Penisku masuk semakin dalam, hingga mentok ke dalam vaginanya mama.

"Ouhhh! Aku suka kontolmu, Will!" seru mama.

Entah kenapa, aku senang penisku dipuji oleh mama. Kemudian, mama mulai menggoyang pinggulnya dengan perlahan, lalu semakin cepat.

"Shit! Enak banget njir!" ucapku dalam hati.

"Sayang ... jilatnya yang bener dong," kata tante Reni seraya menggesekkan vaginanya ke mulutku.

"Oh iya, sampe lupa aku," kataku dalam hati.

Konsentrasiku pecah gara - gara goyangannya mama. Tidak lama kemudian, sebuah cairan hangat membasahi mukaku.

"Makan nih, cairan memekku!" seru tante Reni.

"Nakal banget sih kamu! Masak muka anakku kamu siram dengan cairan orgasmemu," ucap mama.

"Hihihi, biarin," balas tante Reni, "kamu pasti juga mau, kan?"

"Iya dong, hihihi," jawab mama, masih menggoyangkan pinggulnya, "pasti asik banget bisa nyiram cairan orgasmeku ke wajah anakku."

"Sudah jelas itu, beb," ujar tante Reni.

Aku terkejut sekali saat mendengarnya. Tidak kusangka mamaku se-binal itu.

"Ah, aku jadi pengen nyiram cairan memekku ke Budi juga," kata tante Reni.

"Bukankah kamu sudah ngentot dengan anakmu?" tanya mama.

"Iya, tapi masih di bawah kendali alatku," jawab tante Reni, "Aku pengennya kayak kamu dan Will. Ngentot dalam kondisi sadar."

"Mereka berdua sudah gila," kataku dalam hati.

"Beb, gantian yuk," kata tante Reni.

"Boleh," sahut mama.

Mama mencabut penisku dari vaginanya, dan tante Reni mengangkat pantatnya dari wajahku. Akhirnya aku bisa bernafas dengan lega. Mama kemudian menatapku dengan senyum binal. Aku menelan ludah saat melihat kedua payudara besarnya yang menggantung di depanku.

"Gimana? Enak gak dientot sama dua wanita seksi?" tanya mama sembari membelai pipiku.

"E-enak," jawabku dengan agak gugup.

"Sip!" balas mama.

Tanpa banyak bicara, mama menduduki wajahku. "Jilat memek mama, Sayang."

Aku menuruti permintaannya, lalu aku mulai menjilati vaginanya mama yang sangat basah. Mama mendesah keenakan menikmati permainan lidahku.

"Ouhh, Sayang. Kamu pinter banget," ucap mama, "terusin Say."

Aku semakin bersemangat menjilati vaginanya mama. Saking semangatnya, kedua tanganku mendarat di bongkahan pantatnya mama, lalu aku remas - remas. Ini pertama kalinya aku meremas pantatnya mama.

"Kamu pinter banget Sayang," ucap mama.

"Dia udah berpengalaman, hihihi," ujar tante Reni, masih menggoyang pinggulnya.

Tidak lama kemudian, mama mengesek - gesekkan vaginanya ke mulutku. Dia mendesah panjang.

"Aku keluaaar, Sayang!" seru mama.

Cairan hangat menyembur dengan deras dari vaginanya mama. Sepertinya mama puas dengan permainan lidahku. Mama kemudian ambruk ke samping kiriku.

"Luar biasa kamu, hihihi," puji tante Reni, "kamu bikin mamamu lemes."

Aku jadi malu - malu saat mendengarnya. Tante Reni kemudian mempercepat goyangan pinggulnya.

"Akkkhhhh! Aku mau keluaarr!" seru tante Reni.

Badannya tante Reni mengejang. Kepalanya terdongak ke atas. Kemudian, cairan hangat meluber keluar dari liang vaginanya. Tante Reni ambruk di atas badanku.

"Makasih ya, Sayang," ucap tante Reni dengan nada lirih.

Mama kemudian bangun dari rebahannya. Dia mencabut penisku dari vaginanya tante Reni, lalu dia dorong tubuhnya tante Reni ke samping kananku. 

"Kamu belum keluar, kan?" tanya mama.

"Belum," jawabku.

"Sini, entotin mama dari belakang ya," pinta mama.

Mama kemudian menungging membelakangi diriku. Penisku tegang maksimal saat melihat vaginanya yang begitu menggoda. Area bibir vaginanya basah karena cairan lendirnya. Yang paling aku suka adalah selangkangannya yang bersih dan gundul. Tanganku sedikit gemetar ketika aku arahkan ke bongkahan pantatnya mama yang montok. Aku sentuh gumpalan kenyal tersebut dengan telapak tanganku.

"Kok lama amat? Ayo cepat, masukin! Memekku udah gatal banget, pengen disodok sama kontolmu," kata mama sambil menoleh ke belakang.

Aku tidak percaya sebuah kalimat vulgar keluar dari mulut mamaku. Aku kemudian mengarahkan penisku ke bibir vaginanya mama. Aku dorong kepala penisku hingga masuk ke dalam. Aku diamkan sejenak. Kemudian, aku dorong seluruh penisku sampai masuk semua.

"Gimana? Memeknya mama enak, kan?" tanya mama.

"Enak banget!" jawabku.

Aku mulai menggenjot vaginanya sambil aku pegang pinggulnya. Aku tidak menduga akan tiba hari di mana aku menyetubuhi mamaku sendiri dalam posisi doggy style. Vaginanya mama sangatlah sempit. Pantas saja si Joni keenakan saat dia menyetubuhi mamaku.

"Oh ya, terusin Sayang. Kontolmu nikmat banget," racau mama.

Aku kemudian mengarahkan tangan kananku ke depan. Aku raih payudaranya mama, lalu aku remas - remas. Lalu, dari arah samping kanan, tante Reni datang dan memelukku.

"Ayo, genjot mamamu dengan buas," ucap tante Reni, menyemangatiku.

Aku melirik tante Reni, lalu aku tersenyum menyeringai. "Oke."

Aku percepat sodokanku di vaginanya mama. Dari desahannya, mama sepertinya sangat menikmati genjotanku. Tidak pakai lama, mama kembali orgasme. Cairan cintanya menetes lumayan banyak di atas sprei. Mama kemudian ambruk ke kanan. Tanpa basa - basi, tante Reni memelukku dan dia menciumku dengan buas. Kemudian, tante Reni merebahkan badannya, lalu dia menguak vaginanya.

"Sini Sayang, entotin tante dengan kontol kerasmu itu," kata tante Reni dengan nada binal.

"Siap!" sahutku.

Sekarang aku sedang menyetubuhi tante Reni. Tidak pakai lama, tante Reni mencapai orgasmenya. Baru saja aku mencabut penisku dari vaginanya tante Reni, mama langsung memasukkan penisku ke dalam vaginanya.

***

30 menit kemudian, kita bertiga terkapar di atas ranjangnya mama yang basah karena lendir dan keringat. Aku beranjak dari kasur, lalu berjalan menuju ke kamar mandi. Setelah bilas sebentar, aku ambil pakaianku yang berserakan di lantai, kemudian aku kembali ke kamarku, meninggalkan mama dan tante Reni yang masih tertidur. Aku kemudian merebahkan diriku di atas kasurku.

"Capeknya," ucapku.

Mama dan tante Reni menyedot energiku sampai habis. Sepertinya aku bakal ketiduran sampai malam. Dugaanku ternyata benar, aku cuma memejamkan mata sebentar, setelahnya aku terbawa ke dalam alam mimpi.

***

Jam 8 malam, aku terbangun dengan badan yang segar. Aku berjalan menuju ke luar, lalu turun ke lantai 1. Aku melihat mama sedang duduk menonton TV.

"Gimana? Tidurmu nyenyak?" tanya mama dengan ekspresi biasa saja.

"Iya," jawabku.

"Sini, duduk di samping mama," ujarnya.

Aku nurut saja dan duduk di sampingnya. Mama kemudian meletakkan tangannya di atas pahanya.

"Sejak kapan kamu memulai petualangan seks-mu?" tanya mama dengan lembut.

"Su-sudah lumayan lama," jawabku dengan gugup.

"Jangan gugup, Sayang. Santai saja," kata mama, "lagi pula, kita sudah berhubungan badan, jadi tidak ada yang perlu disembunyikan."

Aku lalu menceritakan semua petualanganku dengan Joni. Mama tersenyum saat mendengarnya.

"10 tahun yang lalu, mama juga pernah melakukannya dengan Reni. Tapi, mama cuma main sama 2 pria," kata mama.

Aku terkejut saat mendengarnya. Aku kemudian jadi teringat ketika aku masih SD. Mama lumayan sering ijin pergi entah ke mana. Ternyata mama pergi untuk main dengan pria lain.

"Dasar Mama nakal!" ucapku, agak kesal.

"Tenang dulu, Sayang," kata mama sambil senyum - senyum, "mama gak terus - terusan kok. Cuma bertahan 2 bulan saja, setelah itu kita berhenti dan fokus mengurus keluarga."

Aku sedikit lega saat mendengarnya. Mama kemudian menceritakan bagaimana tante Reni bisa mendapatkan remot pengendali pikiran. Pada hari itu, tante Reni mengajak mama ke sebuah klub malam misterius. Klub tersebut hanya diketahui oleh sedikit orang.

"Tante Reni mengatakan bahwa kita akan mendapatkan sesuatu yang menarik, jika mau menari erotis di atas panggung," kata mama.

"Biar kutebak, Mama dan tante Reni naik ke atas panggung, kan?" ucapku.

Mama mengangguk mantap. "Benar sekali!"

"Trus, Mama dan tante Reni menari erotis?" tanyaku dengan tatapan datar.

"Iyalah," jawab mama, "bahkan mama masih punya pakaiannya."

"serius?" Aku terkejut dengan mulut agak terbuka.

Mama bangkit berdiri, lalu dia berjalan menuju ke lantai 2. Cukup lama mama berada di kamarnya. Setelah menunggu agak lama, mama turun dengan mengenakan BH dan CD berkelip. Aku terkejut saat melihatnya.

"Ini adalah pakaian yang kita pakai untuk menari," kata mama, "ini terbuat dari berlian imitasi."

"Ohh." Aku mengangguk.

"Mau lihat mama menari gak?" tanya mama.

"Mama masih bisa menari?" tanyaku balik.

Mama berkacak pinggang, menatapku dengan wajah kesal. "Kamu jangan ngejek ya."

"Kalo gitu, buktikan dong," ucapku, menantang.

Mama tersenyum menatapku. Dia mengambil HP-nya, lalu terdengarlah suara musik DJ dari Hp-nya. Mama meletakkan HP-nya di atas meja, lalu dia mulai bergoyang erotis. Goyangan pinggulnya membuatku ngaceng lagi. Mamaku ternyata hebat juga dalam menari erotis.

"Gimana? Tarianku bagus, kan?" tanya mama sambil menari erotis.

Aku mengacungkan kedua jempolku. "Bagus banget. Aku bahkan sampai ngaceng, liat Mama menari."

Mama tersenyum lebar menatapku. "Turunin celanamu. Mama mau liat kontolmu."

Aku pelorotkan celana dan celana dalamku. Penisku yang perkasa langsung mengacung dengan kokohnya. Mama kemudian mendekatiku, lalu dia duduk di atas penisku dengan posisi membelakangiku. Mama kemudian menggesek - gesekkan pantatnya ke penisku.

"Gimana? Enak gak gesekan dari pantatnya mama?" tanya mama.

"Uhhh ... enak banget Ma," jawabku.

Mama sangat pandai dalam menggoyang pantat dan pinggulnya. Aku arahkan kedua tanganku ke depan, lalu aku remas kedua payudaranya. Mama mulai mendesah keenakan. Sekitar 3 menit kemudian, mama berhenti menggoyang pantatnya.

"Lanjutin di kamarmu yuk," ajak mama.

Aku mengangguk. "Yuk!"

Mama menggandeng tanganku, lalu menarikku menuju ke kamarku. Saat tiba di kamarku, mama langsung melucuti semua pakaianku, lalu lanjut melepas BH dan CD berkelipnya. Mama mendorongku ke atas kasur, lalu dia menindih badanku. Mama mencium bibirku dengan penuh gairah. Aku membalas ciumannya sambil meraba punggung dan rambutnya. Kemudian, mama menghentikan ciumannya.

"Aku masukin ya," kata mama seraya mengarahkan penisku ke vaginanya.

Mama dorong pinggulnya dan penisku masuk semua ke dalam liang senggamanya. Mama mendesah panjang dengan kepala terdongak ke atas.

"Uhhh ... sempit dan hangat Ma," ucapku.

"Kontolmu enak banget, Say," kata mama, tersenyum menatapku.

Mama kemudian mulai menggoyang pinggulnya. Goyangannya pelan dan lembut. Aku remas kedua pahanya mama, menikmati jepitan vaginanya yang sempit dan hangat. 

"Remas dada mama, Sayang," pinta mama seraya mengarahkan tanganku ke payudara kirinya.

Aku remas dada kirinya dengan lembut. Mama mendesah semakin keras. Semenit kemudian, aku meminta ganti gaya.

"Oke, sekarang kamu berdiri ya," kata mama.

"Mama mau nungging, ya?" ucapku.

"Bener banget," balas mama sambil tersenyum.

Aku arahkan penisku ke vaginanya mama, lalu aku dorong sampai masuk semua. Aku pegang pinggulnya, lalu aku mulai menggenjot vaginanya mama.

"Ah, ah, ah, ahh," desah mama, menikmati sodokanku.

Sangat nikmat sekali menyetubuhi mamaku sendiri. Penisku terasa seperti disedot - sedot oleh vaginanya mama. Tidak lama kemudian, mama mendapatkan orgasme. Cairan cintanya membasahi penisku.

"Sayang, sekarang entot boolnya mama, ya," pinta mama.

"Oke Ma!" sahutku dengan semangat.

Aku oleskan cairan cintanya mama ke liang anusnya. Kemudian, aku masukkan jari tengahku ke dalam pantatnya mama, untuk melemaskan otot - ototnya. Kemudian, aku arahkan penisku ke lubang pantatnya mama. Aku dorong perlahan penisku masuk ke dalam pantatnya mama. Saat masuk setengahnya, aku diamkan sejenak. Kemudian, aku tarik sampai mau lepas, lalu aku dorong lagi sampai masuk semua.

"Gimana Ma? Sakit gak?" tanyaku.

Mama menoleh ke arahku. "Enggak. Mama sangat menikmatinya."

"Oke!" sahutku.

Aku sedikit mempercepat sodokanku. Saking nikmatnya, aku tidak dapat menahannya lagi. Aku semburkan maniku ke dalam anusnya mama.

"Ohhh ... bool mama jadi anget," ucap mama.

Aku dan mama kemudian berbaring bersama di atas kasurku. Mama menempelkan badannya ke badanku dengan posisi menyamping. Aku merangkul mama seolah dia adalah kekasihku.

"Sayang," panggil mama.

"Iya?" balasku.

"Kalo misal kamu mau ngentot cewe lain, ajak mama ya," kata mama.

Aku terkejut saat mendengarnya. "Mama serius??"

Mama tersenyum menatapku. "Iya, serius. Masak kamu doang yang seneng - seneng."

"Tapi ... ada Joni juga. Gapapa?" ucapku.

"Gapapa," jawab mama, "mama ingin gabung dengan komplotan mesum kalian, hihihi."

Aku melongo tidak percaya. "Mama serius mau jadi penjahat kayak kita??"

Mama tertawa kecil saat mendengarnya. "Mama aja sejak awal udah jadi penjahat seks, hihihi," balas mama, "gimana, boleh gak mama ikut?

"Ummm ... aku tanya Joni dulu," ucapku.

"Nanti aja," balas mama, "sementara ini, kita berdua dulu aja. Kita akan menjadi duo mama dan anak sebagai penjahat seks, hihihi."

Aku tertawa seraya mencubit dada kanannya. Mama kemudian membalasnya dengan mengocok penisku. Setelahnya, kita lanjut ngeseks sampai jam 11 malam.

***

Besoknya, aku kembali bersekolah. Sementara mama kembali bekerja. Tiba di sekolah, aku menemui Joni.

"Ada target baru?" tanyaku.

"Belum ada sih. Selama Sabtu dan Minggu, aku cuma main sama 2 tante yang pernah kita kunjungi," jawab Joni.

"Wah, gak ngajak - ngajak," ucapku.

"Sebenarnya aku mau ajak kamu, tapi tante Reni tiba - tiba chat aku dan bilang kalau kamu lagi di booking," ujar Joni, "chat-nya muncul tepat sebelum aku mengirimkan chat ajakan ke kamu."

"Astaga! Ngapain dia ikut campur," kataku sambil menepuk dahi.

"Hahahaha. Sepertinya tante Reni pengen menguasai kontolmu," kata Joni.

Kemudian, bel sekolah berbunyi. Jam pelajaran telah dimulai.

***

Saat jam istirahat, Joni menemuiku. 

"Setelah jam sekolah selesai, kita entot tante Reni yuk," usulnya.

"Boleh," sahutku, "Budi bagaimana?" 

"Dia ada kerja kelompok. Jadi kita bisa bebas ngentotin mamanya sampai jam 4 sore," jawab Joni.

"Oke, oke," sahutku.

Kita kemudian lanjut menuju ke kantin untuk makan siang. Di kantin, kita makan siang bersama Budi. Aku jadi merasa bersalah dengannya.

"Kalian kerja kelompok kapan?" tanya Budi.

"Besok," jawabku dan Joni secara bersamaan.

"Hmph ... oke, oke," sahut Budi.

Selesai makan siang, kita bertiga kembali ke kelas. Tidak pakai lama, bel sekolah berbunyi. Jam pelajaran kembali dimulai.

***

Setelah jam sekolah berakhir, Joni dan aku langsung tancap gas menuju ke rumahnya tante Reni. Tiba di sana, kita disambut hangat oleh beliau.

"Ayo, masuk," ucap tante Reni.

Kita dorong tante Reni menuju ke kamarnya, lalu kita entot dia dengan berbagai macam gaya. Aku hanya 1 ronde saja, sementara Joni sampai 3 ronde.

"Kok cuma sekali doang?" tanya Joni.

"Aku ada acara nanti. Takut kecapekan, hehehe," jawabku.

"Pasti mau maen sama cewe lain," kata Joni sambil senyum - senyum.

"Terserah aku lahh," balasku.

Joni tertawa seraya menepukku. Kita lalu kembali ke rumah masing - masing, meninggalkan tante Reni yang masih tertidur pulas sambil telanjang. Tiba di rumah, aku mendapatkan pesan dari tante Reni. Dia agak kesal karena ditinggal dalam kondisi bugil. Selain itu, dia juga kesal karena aku cuma satu ronde dengan dia. Aku menjelaskan kalau nanti sore ada kerjaan bersama dengan mamaku. Tante Reni membalasnya dengan mengirimkan emot senyum dan emot jari tengah. Aku membalasnya dengan emot tawa.

***

Mendekati jam 6 sore, aku mendengar suara klakson dari mobilnya mama. Sebelumnya, mama memberitahuku untuk segera ke luar ketika dia menekan klakson. Aku menuju ke luar, aku buka pintu gerbang rumah, tidak lupa aku kunci pintunya, lalu aku masuk ke dalam mobil.

"Kita mau ke mana?" tanyaku.

"Ke apartemennya temen," jawab mama.

"Mama dapat siapa?" tanyaku.

"Nanti kamu liat aja, hihihi," jawab mama.

Mama tancap gas dan mobil melaju ke jalan besar. Perjalanan memakan waktu 10 menit. Kita kemudian tiba di sebuah kompleks apartemen mewah.

"Sudah dihipnotis belum?" tanyaku.

"Sudah," jawab mama.

"Gila ... udah berapa lama?" tanyaku lagi.

"Mungkin sekitar 20 menit," jawab mama dengan santainya.

Aku geleng - geleng saat mendengarnya. Mama kemudian menggandeng tanganku, dan mengajakku masuk ke dalam lobi apartemen. Kita kemudian menuju ke lantai 6.

"Ini dia. Kamar 615," kata mama. "Sudah siap?" tanyanya kemudian.

"Siap dong," jawabku sambil mengacungkan jempolku.

Mama membuka pintu apartemen, dan kita disambut oleh dua wanita dengan pakaian kantor yang duduk berlutut di depna pintu.

"Mereka siapa?" tanyaku.

"Yang di kanan, namanya Tesa," jawab mama, "dia adalah teman kantornya mama. Umurnya 35 tahun. Sudah punya suami dan 1 anak."

"Eh!? Emang gak bakal dicariin keluarganya?" tanyaku.

"Santai aja. Dia tinggal jauh dari keluarganya," jawab mama.

"Kalau yang di kiri?" tanyaku lagi.

"Kita masuk ke dalam kamar dulu aja ya," ucap mama sembari mendorongku masuk ke dalam kamar.

Ketika sudah masuk ke dalam kamar, mama meminta mereka berdua untuk melepas pakaian luar mereka. Kedua wanita tersebut menurut dan mulai melepas pakaian kantor mereka. Sekarang mereka berdua hanya mengenakan pakaian dalam. Aku melongo ketika melihat mama membuka pakaian kantornya juga. Mama sekarang juga hanya berbalut pakaian dalam.

"Ayo, lepas pakaianmu," perintah mama.

"Oh, oke," sahutku.

Aku lepas seluruh pakaian luarku sampai menyisakan boxer saja. 

"Nah, wanita yang terakhir juga rekan kerjanya mama. Namanya Rina. Dia berumur 25 tahun. Hobinya ngentot dengan manajernya mama," kata mama.

"Hehh!?" Aku terkejut ketika mendengarnya.

"Sekarang, siapa yang ingin kamu entot lebih dulu?" tanya mama.

"Lho!? Kita gak langsung main berempat?" tanyaku.

"Enggak lah!" jawab mama, "mama juga pengen main sama cewe."

Aku menghela nafas. "Oke deh, terserah Mama aja."

Aku kemudian memilih Rina, karena aku sudah lama tidak main dengan wanita muda. Mama berjalan mendekati tante Tesa, lalu dia menciumnya sambil memeluknya. Ciuman mereka begitu romantis. Tidak mau kalah, aku peluk kak Rina, lalu aku cium bibirnya. Kita berdua sekarang sedang berciuman partner seks kita. Berikutnya, kulihat mama dan tante Tesa membuka pakaian dalam mereka. Sekarang mereka berdua telanjang bulat. Mama mendorong tante Tesa ke atas kasur, kemudian dia menindih badannya. Mereka kembali berciuman. Aku lepas BH dan CD-nya kak Rina, lalu aku lepas boxer-ku.

"Kulum penisku," perintahku.

Tanpa berkata apa pun, Rina berlutut di depanku, lalu dia masukkan penisku ke dalam mulutnya. Kak Rina memaju-mundurkan mulutnya dengan tempo sedang. Permainan lidahnya begitu nikmat. Sambil menikmati oral seks, aku menyempatkan diri untuk melihat mama. Sekarang mereka berdua sedang melakukan 69. Pergulatan seks mereka begitu erotis. Mama berada di atas, menjilati vaginanya tante Tesa sambil meremas - remas pahanya. Sedangkan tante Tesa asik menjilati vaginanya mama. Aku jadi semakin sange saat melihatnya. Aku jambak rambutnya kak Rina, lalu aku sodokkan penisku dengan kasar.

"Mmmpppfff ... mmmpppfff ...." Sepertinya kak Rina kurang menikmatinya.

Aku lepaskan penisku dari mulutnya, dan dia terbatuk - batuk. Aku bergegas ke luar untuk mengambilkan segelas air putih. Kak Rina meminumnya sampai habis. Kemudian, aku gotong dia ke atas kasur. Aku jatuhkan badannya di samping mama. Aku remas - remas dadanya sambil aku hisap putingnya. Sementara itu, mama dan tante Tesa sedang melakukan gaya scissor. Aku semakin sange melihat adegan erotis yang ada di samping kiriku ini. Aku lebarkan pahanya kak Rina, lalu aku jilat bibir vaginanya. Desahan halus mulai keluar dari mulutnya kak Rina. Puas menjilati vaginanya, aku arahkan penisku vaginanya, lalu aku dorong penisku dengan perlahan.

"Uhhh ... sempit banget," ucapku.

"Enak, gak?" tanya mama, masih asik scissor dengan tante Tesa.

"Sempit Ma," jawabku.

"Berarti kamu harus nyodok dia dengan keras, hihihi," kata mama.

"Wokee!" sahutku.

Aku percepat sodokanku di vaginanya kak Rina. Mama dan tante Tesa semakin beringas menggesekkan vagina mereka. Tidak pakai lama, kak Rina menumpahkan banyak cairan ke atas kasur.

"Wahh, kamu hebat, Say, hihihihi," puji mama.

Kak Rina terbaring lemas dengan nafas terengah - engah. Mama kemudian menyudahi permainannya dengan tante Tesa. Mama duduk di atas kakinya, lalu dia memposisikan tante Tesa tidur di atas pahanya. Mama menarik kedua kakinya tante Tesa ke atas.

"Nih, entot memeknya sampe muncrat kayak air mancur, hihihi," kata mama.

"Oke Ma," sahutku.

Aku arahkan penisku ke bibir vaginanya tante Tesa yang sudah basah, lalu aku dorong dengan kuat sampai masuk semuanya ke dalam. Tante Tesa meringis keenakan saat vaginanya aku jejali dengan penisku. Aku tarik perlahan, lalu aku dorong lagi. Setelahnya, aku mulai menggenjot dengan tempo cepat.

"Sip! Ayo Sayang, entotin dia sampe memeknya melar, hihihi," ujar mama.

"Heheheh, siap!" sahutku.

Sambil aku genjot, aku juga meremas - remas kedua dadanya tante Tesa.

"Habis ini, mama mau main sama Rina," kata mama.

"Oke, Ma," sahutku.

Beberapa menit kemudian, aku sudah berada di ujung kenikmatan.

"Ini aku keluarin di dalam, gapapa?" tanyaku.

"Gapapa," jawab mama, "ini hari amannya Tesa."

Aku tancapkan dalam - dalam penisku, lalu aku semburkan semua maniku ke dalam vaginanya. Mama kemudian beralih menuju ke kak Rina. Dia memeluk kak Rina, lalu mencium bibirnya. Mereka berciuman dengan buas. Aku kemudian rebahan sambil melihat mama dan kak Rina saling memuaskan birahi. Mereka kemudian berganti posisi. Mama duduk bersila, sementara kak Rina duduk di atas pangkuannya. Mama dan kak Rina saling berpelukan sambil menggesek - gesekkan payudara mereka. Melihat mereka berdua membuat penisku ngaceng lagi. Aku tarik tante Tesa, lalu aku gesekkan penisku di belahan dadanya.

"Uhhh ... payudaranya empuk banget," kataku dalam hati.

Setelah puas melakukan tits fuck, aku meminta tante Tesa untuk menungging. Tante Tesa menurut dan dia pamerkan vaginanya kepadaku. Aku masukkan dua jariku ke dalam liang senggamanya.

"Hmmm ... becek dan hangat," ucapku.

Setelahnya, aku arahkan penisku ke vaginanya, lalu aku dorong sampai mentok. Sambil aku genjot, aku tampar pantatnya yang montok. Di tempat lain, mama dan kak Rina sedang dalam posisi scissor. Desahan mereka saling bersahutan. Setiap kali aku menyodokkan penisku ke vaginanya tante Tesa, selalu terdengar suara plok plok plok.

"Lihat kontolmu keluar-masuk, bikin mama jadi kepengen juga," kata mama.

"Kalo gitu, aku entot Mama sekarang, ya," ucapku.

"Kamu selesaiin dulu sama Tesa. Setelah itu baru mama," ujar mama.

Aku sedikit kecewa. "Oke deh."

Aku percepat genjotanku di vaginanya tante Tesa, agar dia segera orgasme. Tidak pakai lama, aku berhasil membuat tante Tesa orgasme. Mama kemudian mendekat kepadaku, lalu dia mencium bibirku.

"Kamu semakin hebat, Sayang," puji mama.

Aku jadi sedikit malu saat dipuji mama. Kemudian, mama memintaku rebahan. Dia kemudian memposisikan dirinya di atas penisku yang mengacung.

"Mama mau main di atas," kata mama.

Aku mengacungkan jempolku. "Oke, Ma."

Mama menurunkan pantatnya secara perlahan. Penisku mulai masuk ke dalam liang senggamanya mama yang sempit dan hangat.

"Aaahhh ... kontolmu enak banget," lenguh mama.

"Ayo, Ma, digoyang," pintaku.

Mama tersenyum menatapku. Dia kemudian mulai menggoyang pinggulnya. Goyangannya mama memang yang terbaik. Tante Reni juga enak, tapi sensasinya beda. Bisa dikatakan, aku adalah cowo yang beruntung. Memiliki mama yang cantik dan seksi, bisa dientot pula. Saking gemasnya, aku remas - remas kedua payudaranya dengan kuat. Tidak lama kemudian, mama mendapatkan orgasmenya.

"Mama istirahat bentar. Kamu lanjut entotin Rina, ya," kata mama seraya mencabut penisku dari vaginanya.

"Padahal aku masih pengen ngeseks sama Mama," kataku.

"Kan, bisa lanjut di rumah," balas mama dengan senyum menggoda.

"Oh, iya ya," ucapku.

Aku dekati kak Rina, lalu aku minta dia untuk menungging. Kak Rina menurut dan dia menungging membelakangiku. Aku masukkan dua jariku ke dalam vaginanya.

"Hmmm ... masih becek," ucapku.

Kemudian, aku arahkan penisku ke vaginanya, lalu aku dorong sampai masuk semua. Kak Rina mendesah panjang, menikmati sodokanku. Sambil menyetubuhi kak Rina, aku lihat mama tidur sambil memeluk tante Tesa. Aku tersenyum geli saat melihatnya. 

***

Aku terkejut saat melihat jam dinding. Aku dan mama telah mencabuli kak Rina dan tante Tesa selama 1 jam. Badanku terasa lemas semua.

"Kita mandikan mereka dulu, setelah itu kita pulang," ujar mama.

"Yaa," sahutku.

Aku lalu menggotong kak Rina menuju ke kamar mandi. Sementara mama menuntun tante Tesa. Kita mandikan mereka supaya tidak meninggalkan jejak bau dari persetubuhan tadi.

"Kontolmu ditahan, yaa. Jangan sodok memek mereka," ujar mama.

"Siap!" sahutku.

Selesai memandikan kak Rina dan tante Tesa, mama memerintahkan mereka untuk kembali berpakaian.

"Trus, berikutnya apa?" tanyaku.

"Kita mandi dulu, setelah itu kamu langsung ke tempat parkir. Nanti mama menyusul," jawab mama.

Aku bergegas turun menuju ke tempat parkir. 15 menit kemudian, mama tiba dengan bau badan yang wangi.

"Yuk, kita pulang," ajak mama.

"Oke," sahutku.

Di dalam mobil, aku menanyakan tentang kak Rina dan tante Tesa. Mama bilang semua sudah diurusnya.

"Oh iya, setelah sampai di rumah, boleh aku lanjut ngeseks sama Mama?" tanyaku.

Mama tertawa kecil. "Boleh banget lah."

"Hehehehe." Aku tertawa senang.

Setibanya di rumah, aku langsung mendorong mama menuju ke kamarku. Aku telanjangi dia, lalu aku setubuhi dia sampai jam 11 malam. 

Bersambung....

Senin, 23 Februari 2026

Cerita Seks Bertukar Mama

Sejak peristiwa itu, aku jadi tahu ke mana perginya Ronald tiap membolos sekolah tanpa mengajakku. Belakangan memang Ronald sering membolos tetapi tidak memberitahu dan mengajakku. Rupanya dia punya acara ngentot dengan mamaku. Tetapi yang membuatku kagum dan mengundang rasa ingin tahuku, bagaimana awal mulanya hingga ia bisa berselingkuh dengan mamaku?

Untuk bertanya langsung padanya aku tidak berani. Takut dia jadi tahu bahwa perbuatannya dengan mamaku telah diketahui olehku dan pertemananku dengannya jadi renggang. Terus terang, kalau diberi kesempatan, aku juga ingin banget bisa menikmati memeknya mama. Aku juga ingin ngentot dengan mamanya Ronald yang bodi dan keseksiannya sama dengan mamaku. Jadi, aku harus membina keakraban dengan Ronald. Hanya untuk melangkah ke arah itu aku belum berani dan tidak punya pengalaman seperti Ronald.

Belakangan, sejak mengetahui antara mama dan Ronald ada hubungan khusus, aku sering memberikan kesempatan agar mereka bisa menyalurkan hasratnya secara lebih leluasa. Saat Ronald main ke rumah, aku pura-pura punya acara dengan teman lain dan meninggalkan mereka.

Padahal, aku malah ke rumah 
Ronald dengan berpura-pura pada mamanya hendak menemui dia. Hingga belakangan ini, hubunganku dengan mamanya Ronald makin akrab dan aku bebas melakukan apa saja di rumahnya seperti halnya Ronald di rumahku.

Seperti sore, di saat 
Ronald main ke rumah, aku berpura-pura udah janjian dengan pacarku untuk menghadiri acara ulang tahun. Padahal aku langsung ke rumahnya Ronald. 

“Halo Ren. Ayo, sini masuk,” kata mamanya Ronald.

Saat membukakan pintu,
mamanya Ronald ternyata habis mandi. Tubuhnya basah dan hanya dibungkus handuk. Tetapi, handuk yang dipakai melilit tubuhnya sangat kekecilan. Hingga di bagian bawah hanya menutup sampai ke pangkal pahanya.

Sementara toketnya yang besar menggunung tampak menyembul karena handuk itu tidak mampu menutup rapat bagian itu sepenuhnya. Seperti mamaku, 
mamanya Ronald juga berbodi tinggi besar. Pantatnya besar membusung dengan pinggul yang seksi. Tapi, kulitnya Tante Veni (nama mamanya Ronald) agak sedikit gelap.

Semua bagian tubuhnya benar-benar merangsang hingga membuatku terpana menatapinya. Namun anehnya, kendati tatapanku terang-terangan tertuju pada paha dan dadanya yang menyembul, ia seperti tak menghiraukannya.

Setelah mempersilahkanku masuk dan menutup pintu, dengan santai ia membereskan koran dan majalah yang terserak di ruang tamu. Posisinya yang agak membungkuk saat melakukan aktivitasnya itu menjadikan gairahku terpacu lebih kencang.

Bagaimana tidak, karena handuknya yang kelewat kecil, bongkahan pantat besarnya kini benar-benar terpampang di hadapanku. Aku juga bisa melihat memeknya yang mengintip di antara pangkal pahanya. Kuyakin itu disengaja. Karena ia seperti berlama-lama dalam posisi itu kendati koran dan majalah yang dibereskan hanya sedikit.

Ah, ingin rasanya meremas pantat besar yang montok itu, atau mengelus memeknya yang gundul itu. Kalau Ronald, mungkin ia sudah nekad melakukan apa yang dia inginkan. Tetapi aku tidak memiliki keberanian hingga hanya jakunku yang turun naik menelan ludah.

“Eh Ren, kamu ada acara nggak? Kalau nggak ada acara, tolong antar tante ya. Tante harus menagih ke orang tapi tempatnya jauh dan sulit kendaraan,” ujarnya setelah semua koran dan majalah tertata rapi di tempatnya.

“Eee.. ee bi.. bisa tante. Nggak ada acara kok,” kataku agak tergagap.

“Kalau begitu tante ganti baju dulu. Oh ya kalau kamu haus ambil sendiri di kulkas, mungkin masih ada yang bisa diminum,” ujarnya sambil tersenyum. Senyum yang sangat manis namun sangat sulit kuartikan.

Satu buah teh botol dingin yang kuambil dari kulkas langsung kutenggak dari botolnya. Rupanya, tontonan gratis yang sangat menggairahkanku tadi membuat tenggorokanku jadi kering hingga teh botol dingin itu langsung tandas.

Belakangan baru kusadari, ternyata Tante Veni tidak menutup kembali pintu kamarnya. Dia sekarang telanjang bulat, karena handuk yang melilit tubuhnya telah dilepas. Tante Veni santai memilih-milih baju yang hendak dikenakan. Maka kembali suguhan mengundang itu tersaji di hadapanku.

Bukan hanya pantatnya yang besar membusung. Buah dada Tante Veni juga besar dan kencang. Putingnya yang berwarna coklat, terlihat mencuat. Ah, ingin banget bisa membelai dan meremasnya atau menghisapnya seperti yang dilakukan Ronald pada toket mamaku.

Sebenarnya, aku ingin banget melihat bentuk memek Tante Veni secara jelas. Namun karena posisinya membelakangiku, aku tak dapat melihatnya. Tetapi benar seperti kata Ronald, tubuh mamanya yang berambut sebahu itu masih belum kehilangan pesonanya sebagai wanita.

Setelah menemukan baju yang dicari, Tante Veni berbalik dan memergokiku tengah menatap tubuh telanjangnya. Tetapi sepertinya ia tidak marah. Bahkan dengan santai, ia kenakan celana dalam di hadapanku.

Hanya karena merasa tidak enak dan takut dianggap terlalu kurang ajar, aku segera meninggalkannya menuju ke ruang tamu untuk menunggunya. Meskipun mamanya Ronald memiliki usaha toko perhiasan, ia masih menjalankan usaha tercela.

Dia meminjamkan uang dengan bunga tinggi atau bekerja sebagai rentenir. Kalau di rumah, pakaiannya sangat terbuka dan tidak sungkan-sungkan memamerkan tubuh indahnya seperti yang barusan dia lakukan di hadapanku.

Rumah orang yang ditagih Tante Veni ternyata memang cukup jauh dan kondisi jalannya juga jelek. Untung orangnya ada dan memenuhi janjinya membayar hutang hingga Tante Veni terlihat sangat senang. Saat pulang, karena sudah malam dan kondisi jalan sangat jelek, beberapa kali motorku nyaris terguling.

Karena takut terjatuh, Tante Veni membonceng dengan memeluk erat tubuhku. Dengan posisi membonceng yang terlalu mepet, sepasang gunung kembar Tante Veni menekan punggungku. Aku jadi membayangkan bentuknya yang kulihat saat ia telanjang di rumahnya.

Hal itu membuatku terangsang dan menjadikan konsentrasiku mengendarai sepeda motor agak terganggu. Bahkan nyaris menabrak pengendara sepeda yang ada di hadapanku. Untung Tante Veni segera mengingatkannya.

“Ren, karena kamu sudah mengantar tante, tante akan memberi hadiah istimewa. Tapi kamu harus menjawab dulu pertanyaan tante dengan jujur,” kata Tante Veni saat hampir sampai rumah.

“Pertanyaan apa Tan?” tanyaku.

“Tadi waktu lihat tante telanjang di kamar, kamu terangsang, kan?” tanyanya, berbisik di telingaku sambil kian merapatkan tubuhnya.

Aku tak menyangka ia akan bertanya seperti itu. Aku jadi bingung buat menjawabnya. Harusnya kujawab jujur bahwa aku sudah sangat terangsang. Tetapi aku nggak berani, takut salah. Sampai akhirnya, kurasakan tangan Tente Veni meraba bagian depan celana dan meraba kontolku yang telah tegang mengacung. 

“Ini buktinya punyamu tegang dan mengeras. Pasti karena terangsang membayangkan toket tante yang menempel di punggungmu kan?” ucap tante Veni.

“I..i.. iya tan,” kataku, akhirnya menyerah.

“Nah gitu dong ngaku. Makanya cepet deh bawa motornya biar cepet sampai rumah. Kalau Ronald belum pulang, nanti kamu boleh lihat punya tante sepuasmu,” ujarnya lagi sambil terus mengelus kontolku.

Penawaran mamanya Ronald adalah sesuatu yang paling kudambakan selama ini. Maka langsung saja kupacu kencang laju sepeda motor seperti yang diperintahkannya. Mudah-mudahan saja Ronald belum pulang hingga tidak membatalkan niat Tante Veni untuk memberi hadiah istimewa seperti yang dijanjikannya. Mudah-mudahan ia masih terus asyik menikmati kehangatan tubuh mamaku seperti yang pernah kulihat.

Sampai di rumah, setelah tahu Ronald belum pulang, aku diminta memasukkan sepeda motor dan menutup pintu.

“Setelah itu tante tunggu di kamar,” ujarnya. Namun setelah semua perintahnya kulaksanakan, aku ragu untuk masuk ke kamar Tante Veni seperti yang diperintahkannya.

Tidak seperti Ronald yang telah berpengalaman dengan wanita setidaknya dengan pembantu di rumahnya dan dengan mamaku, aku belum pernah melakukannya meskipun sering beronani dan membayangkan menyetubuhi mamaku maupun mamanya Ronald. Hingga aku hanya duduk merenung di ruang tamu, menunggu panggilan Tante Veni.

Sampai akhirnya, mungkin karena aku tak kunjung masuk ke kamarnya, Tante Veni sendiri yang keluar kamar menemuiku. Hanya yang membuatku kaget, ia keluar kamar bertelanjang bulat tanpa sehelai benang menutupi tubuhnya. 

“Katanya suka melihat tante telanjang, kok nggak cepet masuk ke kamar tante?” katanya menghampiriku.

Ia berdiri tepat di hadapan tempatku duduk seolah ingin mempertontonkan bagian paling pribadi miliknya agar terlihat jelas olehku. Tak urung jantungku berdegup lebih kencang dan jakunku turun naik menelan ludah. Betapa tidak, tubuh telanjang Tante Veni kini benar-benar terpampang di hadapanku.

Diantara kedua pahanya yang membulat padat, di selangkangannya kulihat memeknya yang menggoda, licin tanpa rambut, sama seperti memek mamaku.

Sama seperti mamaku, perutnya Tante Veni rata dan masih kencang. Buah dadanya yang menggantung dengan putingnya yang menonjol, nampak lebih besar ketimbang milik mamaku. Mama temanku itu hanya tersenyum melihat ulahku yang seperti terpana menatapi bukit kemaluannya.

Entah darimana datangnya keberanian itu, tiba-tiba tanganku terulur untuk meraba memek Tante Veni. Hanya sebelum berhasil menyentuh, keraguan seperti menyergap hingga nyaris kuurungkan niatku. 

“Ayo Ren, pegang saja. Kamu ingin merabanya kan? Sudah lama punya tante nggak ada yang menyentuh lho,” kata Tante Veni, melihat keraguanku.

Hangat, itu yang pertama kali kurasakan saat telapak tanganku akhirnya mengusap memek wanita itu. Permukaannya halus. Di bagian belahannya, daging kenyalnya itu terasa lebih hangat. Aku mengelus dan mengusapnya perlahan. Ah, tak kusangka akhirnya aku dapat menjamah kemaluan Tante Veni yang sudah lama kudambakan.

Sambil tetap duduk, aku terus merabai memek mama temanku itu. Bahkan jariku mulai mencolek-colek celah diantara bibir vaginanya yang berkerut. Lebih hangat dan terasa agak basah. Sebenarnya aku ingin sekali melihat bentuk kelentitnya. Namun karena Tante Veni berdiri dengan kaki agak merapat, jadi agak sulit untuk dapat melihat kelentitnya dengan leluasa.

Untungnya, Tante Veni langsung tanggap. Tanpa kuminta, kaki kanannya diangkat dan ditempatkan di sandaran kursi tempat aku duduk. Dengan posisinya itu, memek mamanya Ronald jadi lebih terpampang di hadapanku dalam jarak yang sangat dekat. Kini bibir kemaluannya tampak terbuka lebar.

Di bagian dalam warnanya kemerah-merahan. Dan kelentitnya yang ukurannya cukup besar juga terlihat mencuat.

“Pasti kamu ingin lihat itil tante kan? Ayo lihat sepuasmu Ren. Atau jilati sekalian. Tante ingin merasakan jilatan lidahmu,” ujar Tante Veni.

Ia mengatakan itu sambil memegang kepalaku dan menekannya agar mendekati ke selangkangannya. Jadilah wajahku langsung menyentuh memeknya karena tarikan Tante Veni pada kepalaku memang cukup kuat. Saat itulah, aroma yang sangat asing yang belum pernah kukenal sebelumnya membaui hidungku. Bau yang timbul dari lubang memek mamanya Ronald. Bau yang asing tapi membuatku makin terangsang.

Aku jadi ingat segala yang dilakukan Ronald pada memek mamaku. Maka setelah menciumi dengan hidungku untuk menikmati baunya, bibir kemaluannya langsung kulahap dan kucerucupi. Bahkan seperti menari, lidahku menjalari setiap inci lubang nikmat Tante Veni.

Sesekali lidahku menyodok masuk sedalam yang bisa dicapai dan di kesempatan yang lain, ujung lidahku menyapu itilnya. Hasilnya, Tante Veni mulai merintih perlahan. Tampaknya ia mulai merasakan kenikmatan dari tarian lidahku di lubang kemaluannya.

“Ahh… sshh … aahh enak banget Ren. Terus sayang, aahh .. ya.. ya enak sayang ahhh,” suara Tante Veni mulai merintih dan mendesis.

Ia juga mulai merabai dan meremasi sendiri buah dadanya. Aku jadi makin bersemangat karena yang kulakukan telah membuatnya terangsang. Itil Tente Veni tidak hanya kujilat, tetapi kukecup dan kuhisap-hisap. Sementara bongkahan pantat besarnya juga kuraih dan kuremasi dengan tanganku. 

“Auu … enak banget itil tante kamu hisap sayang! Aahh…. sshhh ..ohh… enak banget. Kamu pinter banget Ren,… ahhh ….ssshh …ahhh,” rintihanya makin menjadi.

Cukup lama aku mengobok-obok memek Tante Veni dengan mulut dan lidahku. Memeknya menjadi sangat basah karena dibalur ludahku bercampur dengan cairan memeknya yang mulai keluar. Akhirnya, mungkin karena kecapaian berdiri atau gairahnya semakin memuncak, ia memintaku untuk menghentikan jilatan dan kecupanku di liang sanggamanya. 

“Kalau diterusin bisa bobol deh pertahanan tante,” ujarnya sambil memintaku untuk berganti posisi.

Namun sebelumnya, ia memintaku untuk membuka semua yang masih kukenakan. Bahkan seperti tak sabar, saat aku tengah melepas bajuku ia membantu melepas ikat pinggang dan memelorotkan celana jins yang kukenakan. Termasuk celana dalamku juga dilolosinya.

”Wow… kontol kamu gede banget Ren! Keras lagi,” seru Tante Veni saat melihat kontolku telah terbebas dari pembungkusnya.

Dibelai dan di elus-elusnya kontolku sesaat. Ia sepertinya mengagumi ukuran kontolku. Dia lalu duduk di kursi tempat aku duduk sebelumnya dengan posisi mengangkang. Kedua kakinya dibukanya lebar-lebar hingga memeknya yang membusung terpampang dengan belahan di bagian tengahnya membuka. Kelentitnya yang mencuat nampak mengintip di sela-sela bibir luar kemaluannya.

Tante Veni yang nampaknya jadi tak sabar langsung menarikku mendekat. Dibimbing tangan wanita itu kontolku diarahkan ke lubang memeknya. 

“Dorong dan masukkan Ren kontolmu. Ih gemes deh, punya kamu besar banget,” ucapnya.

Tanpa menunggu perintahnya yang kedua kali, aku langsung menekan dan mendorong masuk kontolku ke lubang memeknya. 

“Aaauuww,.. jangan kencang-kencang Ren. Bisa jebol nanti memek tante,” pekik Tante Veni. 

Aku jadi kaget dan berusaha menarik kembali kontolku namun dicegah olehnya. 

“Jangan sayang! Jangan ditarik! Biarkan masuk tetapi pelan-pelan saja ya,” pintanya.

Seperti yang dimintanya, batang kontolku yang baru masuk sepertiga bagian kembali kudorong masuk. Namun dorongan yang kulakukan kali ini sangat perlahan. Hasilnya, bukan cuma Tante Veni yang terlihat menikmati sodokan kontolku di memeknya. Tetapi aku pun merasakan sensasi kenikmatan yang sangat luar biasa. Kenikmatan yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Kenikmatan yang sulit kulukiskan.

Terlebih ketika kontolku mulai aku keluarmasukkan ke dalam lubang nikmat itu. Ah, luar biasa nikmat. Jauh lebih enak menikmati kehangatan memek Tante Veni secara langsung ketimbang hanya membayangkan dan mengocok sendiri dengan tangan. Bagian dalam dinding memek Tante Veni seperti menjepit dan menghisap hingga menimbulkan kenikmatan tiada tara.

“Terus Ren ,.. uh… uhh… kontolmu enak banget. Gede dan marem banget. Ah iya Ren, terus sogok memek Tante sayang. Ah,.. ahh… ahhhh,” Tante Veni mengerang nikmat.

Mendengar erangannya, aku jadi kian bersemangat mengentotinya. Apalagi aku melakukannya sambil terus memandangi memeknya yang tengah diterobosi kontolku. Melihat itu sodokan kontolku pada lubang nikmat wanita itu kian bersemangat.

“Memek Tante nggak enak ya Ren? Kok dilihatin begitu?” tanya Tante Veni. 

Rupanya ia memperhatikan ulahku.

“Eee. enak bangat Tante. Sungguh. Memek tante bisa meremas. Saya sangat suka,” ujarku.

“Bener Did? Kalau kamu suka, kapanpun kamu boleh entotin tante terus. Tante juga suka banget kontol kamu. Ahhh sshhh… aakkhhh… enakk bangat sayang. Ohhh terus Ren, ayo sayang sogok terus. Ahhh… ahh …ah,”

Sambil terus melakukan sodokan ke liang sanggamanya, perhatianku juga tertarik pada buah dada Tante Veniyang terlihat terguncang-guncang seiring dengan guncangan tubuhnya. Maka langsung saja kuremas-remas toketnya yang berukuran besar itu. Sesekali kedua putingnya yang mencuat, kupilin dengan jari-jariku. Alhasil Tante Veni kian kelojotan, desah nafasnya semakin berat dan erangannya semakin menjadi.

Aku menjadi keteter ketika wanita itu mulai melancarkan serangan balik dan menunjukkan kelihaiannya sebagai wanita berusia matang. Ia yang tadinya mengambil sikap pasif dan hanya menikmati setiap sogokan kontolku di memeknya, mulai menggoyangkan pinggulnya. Goyangannya seakan mengikuti irama sodokan kontolku di memeknya.

Maka yang kurasakan sungguh di luar perhitunganku. Jepitan dinding memeknya pada kemaluanku terasa semakin menghimpit dan putarannya membuat batang kontolku serasa digerus dan dihisap. 

“Oohh… ohh… sshhh ..ssh ah enak bangat tante. Memek tante enak banget. Sss sa.. saya nggakk.. tahan tante. Ohh… ohhhh,”

“Tahan Ren, tante juga hampir sampai. Ah enak banget… kontol kamu enak banget Ren. Ah.. sshhh ahh….sshh ahh ahhh,”

Seperti yang diinginkannya, aku berusaha keras menahan jebolnya pertahananku. Namun saat goyangan pantat Tante Veni kian menjadi, berputar dan meliuk-liuk lalu disusul dengan melingkarnya kedua kaki wanita itu ke pinggangku dan menariknya, akhirnya ambrol juga semua yang kutahan. Seperti air bah, air maniku memancar deras dari ujung penis mengguyur bagian dalam memek mama temanku itu diantara rasa nikmat yang sulit kulukiskan. 

“Saya nggak tahan tante, ahh… ssshhh ..ahhh… ah..aakkhhhhhhh,”

Kenikmatan yang kudapat semakin berlipat ketika beberapa detik berselang, memek Tante Veni berkejut-kejut menjepit, meremas dan seperti menghisap dengan keras kontolku. Rupanya, ia juga telah sampai pada puncak gairahnya. 

“Tante juga nyampai Ren. Ahh.. sshhh… ohhh …ooohh … aakkkhhh,. Enak bangat Ren,… ahhh,.. akkhhhh …..aaaakkkkhhhhhhhh,” ia merintih keras dan diakhiri dengan erangan panjang.

Tante Veni menciumiku dan memeluk erat tubuhku dalam dekapan hangat tubuhnya yang bermandi keringat setelah puncak kenikmatan yang kami rasakan. 

“Tante sangat puas Ren. Sudah lama tante tidak merasakan yang seperti ini. Kalau kamu suka, pintu rumah tante selalu terbuka kapan saja,” katanya sambil terus memeluk dan menciumiku sampai akhirnya ia mengajakku mandi bersama.

Malam itu setelah makan bersama, aku dan Tante Veni mengulang beberapa kali permainan panas yang tidak sepantasnya dilakukan. Berkali-kali air maniku muncrat membasahi lubang memeknya dan membuat lemas sendi-sendiku.

Namun, berkali-kali pula Tante Veni mengerang dan merintih oleh sogokan kontolku. Baru saat menjelang pagi kami sama-sama terkapar kelelahan.