Namaku Jon, umurku 19 tahun. Yang jelas saat ini aku sudah kuliah. Aku berkuliah di kota kelahiranku, jadi aku tidak perlu kost. Aku tinggal Bersama dengan mamaku yang cantik dan seksi. Kakak perempuanku kuliah di luar kota. Papaku juga kerja di luar kota. Sekarang kita kembali ke mamaku. Dia saat ini berumur 42 tahun. Meski sudah kepala 4, dia terlihat awet muda. Aku sering salah tingkah setiap kali fitness sama mama. Pakaian olahraganya selalu minim, dan itu selalu membuat jantungku berdebar - debar. Aku sebenarnya juga bingung kenapa aku bisa terangsang kepada mamaku sendiri. Kalau dipikir - pikir, aku juga tidak sepenuhnya salah. Aku masih muda, semangatku masih tinggi, dan aku juga sangat penasaran dengan perempuan. Seperti yang kubilang tadi, mamaku punya body yang seksi, dada besar, pantat montok dan kulit yang masih kencang. Wajahnya juga cantik dan terlihat awet muda. Mama sering dianggap masih berumur 20-an oleh kenalannya di gym. Suatu hari, di hari Sabtu yang cerah, mama kembali mengajak fitness. Tentu saja aku menyanggupinya, karena itu adalah salah satu momen terbaik untuk melihat body-nya mama. Aku segera menyiapkan pakaian olahragaku, kemudian aku bergegas menuju ke garasi. Aku panaskan mesin mobil terlebih dahulu, baru kemudian aku bawa ke luar. Tidak pakai lama, mama datang dan segera masuk ke dalam mobil.
"Setelah ini, kamu ada kegiatan gak?" tanya mama.
"Enggak," jawabku.
"Kalo gitu, temenin mama di rumah ya," kata mama.
"Siap!" sahutku.
Siapa sih yang gak betah nemenin wanita cantik dan seksi kayak mamaku. Setibanya di gym, kita langsung ke kamar ganti untuk ganti pakaian olahraga. Selesai ganti pakaian olahraga, aku berjalan menuju ke ruang gym. Tidak pakai lama, mama menyusulku. Dia hari ini mengenakan sport bra dan celana pendek ketat. Kontolku langsung bergejolak melihat lekuk tubuhnya yang terpampang dengan jelas. Beruntung, di tempat ini, cowo - cowonya kebanyakan agak gay, jadi mereka gak begitu tertarik dengan mama. Kalo cewe - cewenya, ada yang normal, ada yang biseks. Nah, cewe - cewe yang biseks lumayan sering ngajakin mama ngobrol. Aku sih gak masalah kalo cewe yang ngajak ngobrol. Kemungkinannya kecil mama bakal ikut - ikutan mereka. Aku mulai dengan mengangkat dumbbell 5 kg. Sambil berlatih otot lengan, kedua mataku fokus ke mama yang sedang melatih otot punggungnya. Selama fitness, aku selalu fokus menatap mama. Beberapa kenalannya mengajak dia mengobrol. Aku santai saja karena mereka semua cewe.
***
Selesai fitness, mama mengajakku untuk langsung pulang.
"Kita mandi di rumah aja ya," kata mama.
"Oke," sahutku.
Aku dan mama tidak ganti pakaian. Kita langsung menuju ke tempat parkir. Aku nyalakan mesin mobil, lalu aku gas menuju ke rumah. Sekitar 10 menit kemudian, kita akhirnya tiba di rumah. Mama membukakan pintu gerbang, lalu aku parkirkan mobil di depan garasi. Setelah itu, kita masuk ke rumah bersama.
"Lho!? Kok gak nyala?" kata mama sambil menekan saklar lampu.
"Waduh, mati lampu nih," ucapku sambil mencoba menyalakan lampu yang lain.
"Gak bisa nih kalo mandi sekarang," ujar mama.
"Emang kenapa?" tanyaku.
"Gak keliatan lah! Gelap," jawab mama.
"Ya udah, mandinya nanti aja," kataku.
"Gak mau! Gerah banget ini!" balas mama.
"Hmph ... susah juga," ucapku.
Tiba - tiba, sebuah ide gila terlintas di pikiranku.
"Kalau gitu, aku temenin Mama mandi. Gimana?" tawarku.
Mama melirikku dengan tatapan sinis. "Kamu udah besar masak mandi berdua sama mama?"
"Kalo gitu, Mama mandi sendiri sana," kataku sambil berjalan ke depan.
Mama kemudian menggenggam lengan kiriku. "Tunggu sebentar! Mama tadi cuma bercanda."
Aku melirik mama sambil tersenyum lebar. "Iyakah?"
Mama mengangguk. "Iya," jawabnya, "temani mama mandi, ya."
"Oke!" sahutku dengan penuh semangat.
Mama usul mandi di kamar mandiku. Aku sih ngikut aja. Yang penting bisa mandi bareng sama mama.
"Kita buka bajunya di dalam kamar mandi aja ya," kata mama.
"Kenapa?" tanyaku, sok polos.
Mama melotot kepadaku. "Kok pake nanya? Masak mama telanjang di depanmu!"
"Bukannya nanti kita juga telanjang bareng di kamar mandi?" tanyaku, menggodanya.
"Beda itu!" balas mama, "kamar mandi sedang gelap, jadi gak akan keliatan!"
"Bener juga," sahutku.
"Payah kamu!" balas mama sambil menepuk lenganku.
Aku dan mama lalu masuk ke dalam kamar mandiku. Di dalam begitu gelap, karena tidak ada jendela. Aku lepas seluruh pakaianku, lalu aku taruh di lantai. Mama juga melepas bajunya, dan ditaruh di lantai. Kontolku langsung ngaceng saat membayangkan aku telanjang bersama mama di dalam kamar mandi yang gelap.
"Hati - hati ya, jangan sampai menabrak kaca ruang shower," kata mama.
Kita akhirnya berhasil masuk ke dalam ruang shower dengan aman. Mama kemudian menyalakan shower. Air dingin mengucur ke lantai dengan deras.
"Mama dulu aja yang bilas," kataku.
"Yaa," sahut mama.
Aku menunggu di tepat di belakangnya mama. Kontolku mengacung dengan tegak memikirkan mama yang sedang membasuh tubuh seksinya. Tidak lama kemudian, kontolku yang ngaceng disenggol oleh mama.
"Ehh!? Apa itu tadi?" tanya mama.
"Tanganku," jawabku, bohong.
"Masak tangan sekeras itu? Lagi pula, lenganmu gak sekecil itu lho," balas mama.
"Masak gak percaya," ucapku.
Aku sangat terkejut ketika mama tiba - tiba menggenggam kontolku. Dia menggenggam dengan cukup erat.
"Waktu mama senggol, sensasinya terasa familiar," kata mama, "kamu kok bohong sih??"
"Masak aku bilang batangku sedang tegak," jawabku.
"Yaa gapapa lah. Gak perlu malu sama mama sendiri," balas mama.
"Mama aja malu telanjang di depanku," timpalku.
"Dasar kamu ini!" ucap mama seraya meremas kontolku.
"Auuwww! Sakit!" seruku.
"Oke, sekarang ke bagian utama," kata mama, "kok kamu bisa ngaceng? Kamu bayangin mama ya?"
"Ummm ... i-iya," jawabku.
"Kok bisa kamu terangsang sama mamamu sendiri?" tanya mama.
"Anu ... ka-karena ... Mama punya badan seksi dan wajah yang cantik," jawabku dengan gugup.
Mama terdiam, tidak merespons. Tangannya masih menggenggam kontolku yang keras.
"Emang mama secantik dan seseksi itu?" tanya mama.
"Iyalah," jawabku, "kalo gak, mana mungkin aku ngaceng."
"Sudah berapa lama kamu terangsang sama mama?" tanya mama.
"Lu-lumayan lama," jawabku.
Mama terdiam sejenak. Kontolku masih digenggamnya. "Kalo sama cicimu, lebih cantik dan seksi siapa?" tanyanya.
"Mama, hehehe," jawabku.
"Yakin?" balas mama, "cicimu juga cantik dan seksi lhoo."
"Iya, bener," kataku, "tapi, kalau buat aku, Mama lebih cantik dan seksi."
Mama tertawa kecil. "Makasih yaa, Sayang," kata mama. "Sebagai rasa terima kasih, mama mau kasih sesuatu."
"Hah!? Apa itu?" tanyaku, penasaran.
Mama kemudian mengocok kontolku dengan perlahan lalu cepat. Aku terkejut sekaligus senang. Tidak lama kemudian, mama menghentikan kocokannya di kontolku. Sebuah benda lembut dan hangat menyapu kepala kontolku.
"Bentar!? Mama menjilati kontolku?" ucapku dalam hati.
Mama menjilati seluruh batang kontolku. Kemudian, kontolku masuk ke sebuah lorong yang hangat. Aku sangat yakin mama sedang memasukkan kontolku ke dalam mulutnya.
"Uuhhhhh!" Aku merasakan kenikmatan luar biasa ketika mama mulai mengulum kontolku.
Separuh dari kontolku ada di dalam mulut mama. Dia memaju-mundurkan mulutnya, seolah aku sedang menyetubuhi mulutnya. Tanpa sadar, kedua tanganku sekarang sedang meremas rambutnya mama.
"Uhh ... enak banget! Terus emut kontolku," racauku.
Tidak lama kemudian, mama mencabut kontolku dari mulutnya.
"Lho!? Kok dicabut?" kataku, kecewa.
"Kita mandi dulu ya. Nanti lanjut di kamarmu," ujar mama.
"Gak di sini aja?" tanyaku.
"Gelap," jawab mama.
"Bukannya lebih seru gelap - gelapan? Hehehe," kataku.
"Kalo kamu udah pengalaman, gapapa," timpal mama, "kamu aja masih pemula."
"Bener juga sih," balasku. "Bentar, kalo main di kamarku, berarti aku bisa melihat tubuh telanjangnya Mama dong," kataku kemudian.
"Terus kenapa?" tanya mama, "itu udah wajar kalo sedang ngentot."
"Tadi Mama protes kalau aku melihat tubuhnya Mama. Kok sekarang Mama biasa aja?" tanyaku, iseng menggodanya.
"Kamu kalo tanya terus, ngentotnya mama batalin!" ucap mama dengan nada kesal.
"Ampun Ma," ucapku sambil menundukkan kepala.
"Dasar kamu ini! Godain mama terus!" kata mama, masih dengan nada kesal.
Mama kemudian kembali menyalakan shower. Dengan percaya diri, aku mendekati mama. Aku sentuh punggungnya yang mulus. Mama diam saja. Aku lanjut menyentuh perut dan dadanya yang besar.
"Ohhhh," desah mama.
Aku remas kedua payudaranya mama dengan lembut. Payudaranya kenyal dan empuk. Kemudian, aku turunkan tangan kananku ke selangkangannya mama. Gila! Gak ada jembutnya.
"Dicukur semua ya?" tanyaku.
"Iya," jawab mama, "papamu suka memek tanpa jembut."
"Aku juga suka, hehehe," balasku.
"Hihihi, papa dan anak sama aja," kata mama.
Aku raba memeknya mama, sambil aku cubit klitorisnya. Mama mendesah keenakan akibat permainan tanganku.
"Sayang, sabunin badannya mama dong," pinta mama.
"Siap!" sahutku.
Aku ambil sabun cair, lalu aku mulai menyabuni tubuh seksi dan mulusnya mama. Tentu saja aku gunakan kesempatan ini untuk mengeksplorasi tubuhnya mama. Selesai menyabuni mama, giliran dia yang menyabuni badanku. Mama menyabuniku dengan telaten. Dia juga mengambil kesempatan untuk meraba - rada dada, perut dan kontolku.
"Mama suka sama badanmu," kata mama.
"Aku juga suka sama badannya mama," balasku.
Selesai menyabuni badanku, aku nyalakan shower untuk membilas badan. Aku tidak sabar ingin keluar dari kamar mandi, supaya bisa melihat tubuh telanjangnya mama.
"Oh iya, kita lupa ambil handuk," kata mama seraya menepuk punggung atasku.
"Aku ambilin," ucapku.
Aku bergegas keluar dan menuju ke lemariku. Aku ambil dua handuk, lalu berbalik untuk kembali ke kamar mandi. Betapa terkejutnya aku saat balik badan, kulihat mama berdiri di depan kamar mandi. Dia sama sekali tidak menutupi tubuhnya. Aku melongo melihat tubuh seksinya yang tidak tertutup apapun.
"Kok kamu diem aja?? Ayo, cepetan sini!" kata mama.
"Aku sedang terpesona dengan keseksiannya Mama," ucapku.
"Itu nanti aja! Bawa ke sini handuknya!" perintah mama.
Aku berikan handukku kepada mama, lalu dia gunakan untu mengeringkan air yang ada di sekujur tubuhnya.
"Oke, sudah siap?" tanya mama.
"Siap apa?" tanyaku balik.
"Siap main futsal!" jawab mama dengan mata melotot, "yaa, siap ngentot lah!"
"Kalo itu, udah sangat siap," balasku.
"Sekarang kamu berbaring di ranjangmu," perintah mama.
"Woke!" sahutku.
Aku naik ke ranjang, lalu berbaring di atasnya. Kontolku mengacung tegak seperti menara. Mama naik ke atas ranjang, lalu dia merangkak mendekatiku Mama kemudian memposisikan dirinya di atas kontolku.
"Gak masalah nih, perjakamu diambil mama?" tanya mama.
"Jelas tidak dong," jawabku.
Mama tersenyum menatapku. "Oke, mama masukin ya."
Mama menurunkan pinggulnya secara perlahan. Dia arahkan kontolku ke bibir memeknya. Kemudian, mama mendorong pantatnya, membuat kontolku masuk ke dalam liang senggamanya. Baru masuk kepalanya saja, badanku terasa seperti disengat listrik.
"Gila! Sempit banget!" seruku dalam hati.
Kontolku masuk semakin dalam ke memeknya mama. Jepitan dinding memeknya memaksaku untuk menahan pejuku yang mau muncrat.
"Ohhh ... kontolmu besar dan panjang," lenguh mama.
Setelah melewati perjalanan yang sangat nikmat, akhirnya kontolku masuk semua ke dalam memeknya mama.
"Kamu dulu keluar dari sini," kata mama seraya menunjuk memeknya, "sekarang, malah dimasukin sama kontolmu."
"Hehehe, Mama suka, kan?" ucapku.
Mama tersenyum menatapku. "Suka ... suka banget."
"Kalo gitu, digoyang dong," pintaku.
Mama mengangguk dan dia mulai menggoyang pantatnya. Goyangannya sangatlah nikmat. Aku belum pernah merasakan kenikmatan yang seperti ini. Suara desahan mulai keluar dari mulutnya mama.
"Remas dada mama, Sayang," kata mama seraya mengarahkan tangan kananku ke payudara kirinya.
Aku remas - remas payudaranya dengan gemas. Tangan yang satunya aku gunakan untuk meremas pantatnya. Badannya mama mulai basah lagi karena keringat yang mengucur dengan deras. Tidak lama kemudian, mama mendapatkan orgasmenya. Cairan cintanya mengalir dengan deras, membasahi area selangkanganku.
"Kontolmu bikin mama jadi tidak terkendali," kata mama.
"Memeknya Mama bikin aku melayang ke angkasa," balasku.
Mama tersenyum senang. "Oke, sekarang kamu mau ganti gaya apa?" tanyanya.
"Ummm ... doggy style?" usulku.
"Boleh," sahut mama.
Mama kemudian menungging di sampingku. Aku beranjak berdiri, lalu aku berlutut di belakangnya mama. Aku remas - remas pantatnya sebentar untuk pemanasan. Kemudian, aku arahkan kontolku ke memeknya mama yang basah kuyup. Ketika kepala kontolku sudah masuk, aku dorong kontolku hingga masuk semua.
"Aaaahhhhh." Mama mendesah panjang.
Aku sodok memeknya mama dengan tempo cepat. Benturan antara pahaku dan pantatnya mama menghasilkan suara plok plok plok. Selain kuentot, aku juga menampar - nampar pantatnya mama yang mulus dan montok.
"Uhhh ... nikmat banget Ma!" seruku.
"Oh, yeah! Entotin mama Say," lenguh mama.
Kemudian, tanganku beralih ke dadanya. Aku remas payudaranya yang daritadi berguncang hebat. Beberapa menit kemudian, kontolmu mau memuncratkan laharnya.
"Keluarin mana, Ma?" tanyaku.
"Di dalam aja Sayang," jawab mama, "siram memek mama dengan pejumu."
"Siap!" sahutku.
Aku percepat sodokanku di memeknya mama. Tidak pakai lama, aku semburkan isi testisku ke dalam memeknya mama.
"Ouhhh ... kamu bikin hangat rahimku, Say," kata mama.
Aku cabut kontolku dari memeknya mama, lalu aku merebahkan badanku di atas kasur. Mama kemudian bergabung denganku. Dia berbaring di samping kananku.
"Mau lanjut ronde dua atau udahan dulu?" tanya mama sambil memelukku.
"Bentar, 1 menit lagi," jawabku.
"Oke," sahut mama seraya mencium bibirku.
30 detik kemudian, kontolku siap tempur kembali. Mama tersenyum menatap kontolku yang mengacung dengan perkasa.
"Ma, aku pengen nyoba tits fuck," kataku.
"Boleh," sahut mama.
Aku lalu beranjak berdiri, lalu duduk di pinggir ranjang. Mama berlutut di depanku, kemudian dia jepit kontolku dengan gumpalan dagingnya yang besar dan empuk.
"Uhhh ... enak banget Ma," ucapku sambil memejamkan mata.
Mama menaik-turunkan dadanya seperti sedang menggenjot kontolku. Gesekan di belahan dadanya begitu nikmat.
"Ma, kepala kontolku juga dijilatin dong," pintaku.
Mama tersenyum menatapku. "Boleh."
Mama kemudian mulai menjilati kepala kontolku. Kenikmatannya langsung naik dua kali lipat. Saking nikmatnya, aku sampai tidak mampu menahan pejuku. Aku lepaskan seluruh pejuku sampai mengenai dada dan wajahnya mama.
"Nakal banget sih kamu!" kata mama sembari menepuk pahaku.
"Maaf Ma, habisnya enak banget," ucapku.
Mama mengelap mani yang menempel di wajahnya, lalu dia jilat sampai bersih. "Mani yang enak gini, masak dibuang sembarangan, hihihi."
"Karena toketnya Mama enak banget. Lembut, besar, kenyal," ucapku.
Mama tersenyum senang. Dia lalu bergegas menuju ke kamar mandi. Tidak pakai lama, mama kembali dengan dada yang sudah bersih.
"Sini Sayang, emut toket mama," kata mama sambil duduk di sampingku.
Aku genggam toketnya mama, lalu aku emut seperti bayi. Mama tertawa melihatku ngemut putingnya.
"Waktu masih bayi, kamu suka banget sama susunya mama," ujar mama.
"Sekarang udah gak ada susunya," kataku.
"Hihihi, tapi kamu tetap suka, kan?" tanya mama.
"Suka banget," jawabku.
Aku bergantian menyedot puting kiri dan kanannya mama. Jika aku menyedot dada kirinya mama, maka dada kanannya aku remas, begitu pun sebaliknya.
"Bentar Sayang, mama mau mencoba sesuatu," kata mama.
Mama kemudian memintaku untuk merebahkan kepalaku di atas pahanya. Lalu, dia menyodorkan putingnya kepadaku.
"Hihihi, kamu jadi kayak bayi lagi," ucap mama.
Aku kembali melahap toketnya mama yang lezat. Mama mendesah pelan, menikmati permainan lidah dan mulutku. Tidak lama kemudian, aku menyudahi kegiatanku mengulum dadanya.
"Ma, aku ada permintaan nih," kataku.
"Permintaan apa, Sayang?" tanya mama sambil membelai rambutku.
"Aku pengen nyobain anal sex," jawabku.
Mama tersenyum kepadaku. "Boleh."
Aku lalu beranjak dari rebahanku. Mama kemudian mengambil posisi menungging. Aku remas - remas pantatnya agar mama lebih rileks. Kemudian, aku arahkan kontolku ke boolnya mama. Aku dorong kontolku masuk ke liang analnya secara perlahan.
"Pelan - pelan ya Say. Mama belum pernah," kata mama.
"Wihh ... berarti aku dapat keperawanan analnya mama dong," ucapku dengan senyum lebar.
"Hihihi, iya Sayang. Mama belum pernah main di pantat," ujar mama.
Perlahan tapi pasti, kontolku akhirnya masuk semua ke dalam anusnya mama. Aku diamkan sejenak agar liang analnya mama beradaptasi dengan kontolku.
"Uhhh ... pantatnya mama jadi penuh," kata mama.
Aku tarik kontolku perlahan, lalu aku dorong masuk kembali. Mama mulai bisa menikmati anal sex.
"Oh yeah ... terusin Sayang," desah mama, "entot bool mama, Sayang."
"Siap Mamaku sayang," balasku.
Aku mulai sedikit mempercepat sodokanku di pantatnya mama. Saking sempitnya, aku tidak bisa bertahan lama. Aku tancapkan kontolku dalam - dalam ke anusnya mama, lalu aku semburkan seluruh pejuku ke dalamnya.
"Ohhh ... anus mama jadi hangat," ucap mama.
Aku dan mama kemudian kembali ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Ketika sampai di kamar mandi, lampu kembali menyala.
"Yess! Lampu nyala lagi!" seruku.
"Hey! Ayo fokus bilas dulu," kata mama seraya menepuk lengank.
"Iya, hehehe," sahutku.
Aku bersihkan kontolku yang tadi keluar-masuk di boolnya mama. Sementara mama membersihkan belahan pantatnya. Cairan putih menetes keluar dari lubang anusnya.
"Habis ini istirahat dulu ya," kata mama.
"Oke Ma," sahutku.
Selesai bilas, mama mengambil kembali pakaian olahraganya, lalu dia berjalan keluar dari kamarku, menuju ke kamarnya.
***
Tidur siangku hari ini terasa sangat nikmat. Tidak kusangka kontolku akhirnya bisa keluar-masuk di semua lubang kenikmatannya mama. Aku beranjak dari kasur, lalu turun ke lantai 1 untuk mencari mama.
"Ma??" panggilku.
"Apa Sayang?" tanya mama. Suaranya berasal dari dapur.
Aku menuju ke dapur. Kulihat mama sedang mencuci alat masak.
"Mau aku bantu?" tawarku.
"Gak usah," tolak mama, "kamu mending bantu mama mengepel dapur."
"Siap!" sahutku.
"Mentang - mentang habis ngentotin mamanya, kamu jadi sok rajin, hihihi," ucap mama dengan nada centil.
"Enak aja! Kemarin aja aku bantuin mama bersih - bersih lantai 2," balasku.
Mama tertawa saat mendengarnya. Aku kemudian ambil pel, lalu aku mulai mengepel seluruh lantai dapur. Saat sedang mengepel, muncul ide nakal di kepalaku. Aku iseng sodokkan ujung pel ke pantatnya mama.
"Akkhhh! Nakal ya kamu!" ucap mama sambil menepuk punggungku.
"Hehehe, gak sengaja Ma," kataku, membela diri.
"Bohong!" balas mama, "kamu mau masukkin gagang pel ke dalam pantatnya mama?"
"Eng-enggak," jawabku sambil menggelengkan kepala.
Mama tersenyum lebar menatapku. "Yakin? Mama gak keberatan, kalau kamu mau mencoba masukin gagang pel ke dalam boolnya mama."
"Jangan dong Ma," ucapku, "nanti bisa robek pantatnya mama."
"Mama tersenyum sambil mengelus rambutku. "Kamu memang anak yang baik," ujarnya. "Sebagai gantinya, mama ada permintaan."
"Hah??" Aku bingung.
Mama menuju ke kulkas, lalu dia mengambil sebuah timun berukuran cukup besar.
"Mama dari dulu penasaran, bagaimana rasanya ketika memek dimasukin timun," kata mama sambil meraba - raba timun tersebut.
"Hahhh!?" Aku terkejut saat mendengarnya.
"Nih, kamu pegang," kata mama seraya menyerahkan timun itu kepadaku.
Mama kemudian melepas seluruh pakaiannya, lalu dia menungging dalam posisi berdiri. Dia menyandarkan dadanya di atas meja dapur.
"Ayo Sayang, masukin timunnya ke dalam memek mama," pinta mama seraya melebarkan kedua pahanya, memamerkan memeknya yang bersih dan pink.
Aku kemudian menampar pantatnya mama sampai dia menjerit.
"Ih, nakal banget sih kamu!" ucap mama.
"Gemes banget aku sama Mama," balasku.
Ini pertama kalinya aku melihat sisi mesum dari mamaku. Selama ini, aku mengenal mama sebagai pribadi yang ramah, agak judes dan cerewet. Sekarang, mamaku menjadi seorang wanita binal.
"Ayo, cepetan masukin!" kata mama. Sisi judesnya mulai keluar.
"Oke, oke," sahutku.
Aku arahkan timun besar ini ke bibir memeknya mama. Setelah pas, aku dorong secara perlahan. Bibir memeknya mama dipaksa untuk membuka lebih lebar.
"Uuuhhhhh." Mama meringis.
"Sakit Ma?" tanyaku.
"Gapapa," jawab mama, "terusin Sayang."
Timun besar tersebut mulai masuk ke dalam memeknya mama. Kedua kakinya bergetar dan agak menegang. Sepertinya mama sedang merasakan sakit dan nikmat di waktu yang bersamaan. Ketika sudah masuk seperempatnya, aku hentikan doronganku.
"Kok berhenti?" tanya mama, melirik ke belakang.
"Ini mau dimasukin semuanya atau setengahnya?" tanyaku.
"Sampai mama bilang berhenti," jawab mama, "ayo, lanjutin sayang."
Aku dorong perlahan timun besar tersebut. Benda hijau ini masuk semakin dalam ke memeknya mama.
"Oke, stop!" ucap mama.
Timun tersebut nyaris masuk semua ke dalam liang senggamanya mama. Aku lalu melepaskan tanganku dari timun besar itu.
"Gini aja?" tanyaku.
"Iya Sayang," jawab mama.
"Bentar, kalau cuma masukin timun, kenapa Mama sampai telanjang?" tanyaku, "bukannya nurunin celana aja udah cukup?"
"Kalau berurusan dengan seks, mama lebih suka telanjang. Sensasinya lebih nikmat," jawab mama.
Mendengar hal tersebut, aku secara reflek menampar pantatnya mama.
"Akh! Nakal banget sih kamu!" ucap mama.
"Mama bikin aku tambah sange," balasku.
"Kalo gitu, kamu sodok memek mama pake timun ini ya," kata mama seraya menunjuk timun yang menancap di memeknya.
"Siap!" sahutku.
Aku tarik perlahan timun tersebut sampai keluar setengahnya, lalu aku dorong masuk lagi. Berikutnya, aku tarik sampai nyaris keluar, lalu aku dorong masuk ke dalam memeknya mama dengan cepat.
"Ahhhh ... enak banget Sayang," lenguh mama.
"Sama kontolku enak mana Ma?" tanyaku.
"Enak timun ini lah," jawab mama, melirik ke belakang dengan senyum menggoda.
Aku tersenyum saat mendengarnya. "Kalo gitu, mulai sekarang Mama ngentot dengan timun aja ya."
"Yahh ... jangan gitu dong Sayang," kata mama. "Meskipun timun ini enak banget di memeknya mama, tapi kontolmu tetap menjadi favoritnya mama."
"Berarti habis ini, aku boleh dong ngentotin Mama lagi," ucapku.
Mama tersenyum melirikku. "Kamu boleh ngentotin mama sepuasnya, Sayang."
Perkataannya membuat aku menjadi semakin sange. Aku percepat sodokan timun besar ini ke dalam memeknya mama.
"Ah, ah, ah, ah ... enak Sayang," desah mama.
Tidak lama kemudian, mama mendapatkan orgasme. Cairan cintanya meluber keluar dari memeknya. Mama masih dalam posisi menungging sambil berdiri. Aku kemudian mencabut timun itu dari memeknya mama. Aku arahkan kontolku ke memeknya, lalu aku dorong sampai masuk semua.
"Aaahhhhhh." Mama mendesah panjang.
Sambil kuentot, aku tampar - tampar pantatnya yang montok. Benturan antara pahaku dan pantatnya mama menghasilkan suara plok plok plok plok. Aku sangat suka dengan suara ini. Tidak lama kemudian, mama memintaku berhenti.
"Sodok boolnya mama, ya," pinta mama, "trus, timun yang tadi, masukin ke memeknya mama. Mama mau merasakan kenikmatan DP, hihihi," sambungnya.
Aku tersenyum lebar. "Mama ternyata binal juga, ya."
Mama membalasnya dengan tawa renyah. Aku cabut kontolku dari memeknya mama, kemudian aku masukkan kembali timun yang tadi ke dalam memeknya mama. Setelah itu, aku sorongkan kontolku ke dalam liang anusnya mama.
"Aaahhhhhh." Mama mendesah panjang.
"Gimana? Enak gak?" tanyaku sembari menampar pantatnya.
"Enak banget, Sayang," jawab mama, "badan mama gemeter trus ini."
Aku tarik kontolku dengan pelan, lalu aku masukkan lagi dengan pelan. Mama mendesah menikmati kedua lubangnya dijejali oleh benda keras. Tidak lama kemudian, mama kembali mendapatkan orgasme.
"Jangan dicabut Sayang. Entot terus sampe kamu muncrat," kata mama.
Aku lanjut menyodok pantatnya mama sampai aku muncrat. Aku tancapkan kontolku dalam - dalam, lalu aku tumpahkan semua maniku ke dalam boolnya mama. Aku diamkan sejenak kontolku di dalam anusnya mama. Setelah itu, kita mandi bersama di kamar mandinya mama. Saat mandi, sesekali aku meraba - raba tubuhnya mama.
"Kamu masih kuat ngentotin mama?" tanya mama dengan nada menggoda.
"Jelas enggak lah, hahaha," jawabku.
"Kalo gitu, diistirahatin dulu kontolmu. Kalo sampe kamu pingsan, yang repot mama nanti," kata mama.
"Hehehe, oke," sahutku.
***
Aku merasa hubunganku dengan mama semakin intim. Namun, sikap judesnya mama masih belum hilang. Misal aku menggoda mama yang sedang sibuk, dia pasti akan merespons dengan perkataan ketus dan tatapan judesnya yang khas. Tapi, setelah itu, mama duduk di atas kontolku, lalu menggoyang pinggulnya dengan gaya erotis. Aku tidak masalah dengan sikap judesnya. Karena mamaku sebenarnya adalah sosok yang penyayang dan perhatian. Setelah insiden di kamar mandi, aku semakin mengenal siapakah mamaku ini. Ternyata beliau juga punya sisi mesum yang membuatku makin sange kepadanya. Suatu hari, kebetulan aku sedang tidak ada kelas. Aku menuju ke dapur untuk menghampiri mama yang sedang sibuk memasak. Aku dekati mama, lalu aku remas pantatnya. Mama menoleh ke belakang dengan ekspresi marah, lalu memukul lengan kiriku.
"Mama lagi masak! Jangan ganggu!" ketusnya.
Aku membalasnya dengan tawa riang. Mama kemudian berbalik dan lanjut memasak. Kalo dulu aku langsung takut kalo misal mama bernada judes kayak tadi. Sekarang aku malah geli melihatnya. Aku lalu menuju ke ruang keluarga untuk menikmati siaran TV. Bau harum mulai muncul di sekitarku. Masakannya mama selalu lezat.
"Makanan sudah siap," kata mama.
Aku segera bergegas menuju ke meja makan. Kita lalu makan malam bersama. Sambil menikmati hidangan yang ada di meja makan, mama mengajak mengobrolkan hal - hal simpel. Mama sama sekali tidak mengobrolkan hal mesum. Aku jadi sungkan mau membahas hal - hal berbau seks. Selesai makan, aku membantu mama mencuci peralatan makan. Suasana terasa biasa, seperti masa sebelum kita menyatukan kelamin. Setelah selesai mencuci alat makan, mama tiba - tiba menarik tanganku, membawaku menuju ke kamarnya. Mama memintaku duduk di tepi ranjang, Kemudian, dia melepas kaos dan celana pendeknya, menyisakan BH dan CD model thong warna hitam di tubuhnya. Mamaku benar - benar seksi. Dia lalu berlutut di hadapanku, dilanjutkan dengan menurunkan celana kolorku.
"Wihh, sudah tegang maksimal, hihihi," ucap mama sembari menggenggam kontolku.
Tanpa basa - basi, mama memasukkan seluruh kontolku ke dalam mulutnya. Mama memaju-mundurkan mulutnya dengan tempo cepat.
"Ohh, ahhh ... enak Ma," desahku.
Beberapa menit kemudian, aku lepaskan kontolku dari mulutnya. Aku tidak ingin keluar di awal. Mama mendorong badanku ke ranjang, lalu dia naik ke atasku.
"Oh ya, mama belum memberitahukan dua fakta yang sangat menarik ke kamu," ucap mama seraya mendekatkan wajahnya ke wajahku.
"Apa itu?" tanyaku, penasaran.
"Yang pertama, beberapa cewe di tempat gym-nya mama, pengen banget bersenggama sama mama. Bahkan ada yang mau membayar, supaya bisa gesek - gesek memek dengan mama," kata mama dengan nada mesum.
Aku menelan ludah saat mendengarnya. Membayangkan mama melakukan hubungan sejenis dengan wanita yang sama seksinya, membuat kontolku menjadi semakin keras.
"Yang kedua, ada sebagian cowo pengen banget bisa ngontolin semua lubangnya mama," lanjutnya.
Aku hanya bisa melongo saat mendengarnya. Mama lalu menoleh ke belakang.
"Hihihihi, kontolmu sampe keras kayak gitu. Respons-mu lucu," ucap mama. "Jangan bilang kamu pengen liat mama ngentot sama orang lain," sambungnya.
"Gak lah!" balasku.
"Hihihihi, santai aja. Tubuhku cuma buat papamu dan kamu," kata mama seraya membelai pipiku.
"Wow! Mama memang yang terbaik," pujiku.
Mama tersenyum saat mendengarnya. Kemudian, mama melepas BH dan CD-nya. Sekarang kita sama - sama telanjang.
"Mama masukin ya," ucap mama.
Mama arahkan kontolku ke bibir memeknya yang sudah basah, lalu kontolku masuk ke dalam liang senggamanya secara perlahan. Ketika sudah masuk semua, mama mendiamkannya sejenak.
"Mama suka banget sama kontolmu," ujar mama.
"Aku suka banget sama memeknya Mama," balasku.
Memeknya mama tiba - tiba menjadi semakin rapat. Pasti karena ucapanku tadi. Mama kemudian menaikkan pinggulnya secara perlahan, lalu menurunkannya dengan perlahan juga. Memeknya mama terasa hangat dan lembut.
"Kita lakukan dengan lembut dan perlahan, ya," ucap mama.
"Oke Ma," sahutku.
Mama mulai menggoyang pinggulnya dengan perlahan tapi tetap terlihat erotis.
"Ohh, yeahh ... kontolmu nikmat banget," lenguh mama.
Aku remas kedua toketnya yang menggantung bebas. Mama mendesah makin keras. Dia lalu membantuku meremas toket kanannya. Tidak lama kemudian, mama mengejang dengan kepala mendongak ke atas.
"Mama keluaaarrr, Sayaaaanngggg!" seru mama.
Cairan cintanya menyembur seperti banjir bandang. Paha dan selangkanganku jadi basah semua. Mama kemudian ambruk di atas dadaku.
"Kayaknya enak banget, ya?" kataku sambil menepuk pantatnya mama.
"Iya, Sayang," jawab mama.
Karena kontolku masih menancap di memeknya mama, jadi aku gerakkan sendiri sambil aku goyang pinggulnya. Mama meringis menahan nikmat sambil menggigit jarinya. Memeknya terasa makin nikmat akibat cairan kelaminnya.
"Kamu kuat banget, Say," kata mama dengan suara lirih.
"Demi Mama, aku harus kuat, hehehe," balasku.
Mama tersenyum senang saat mendengarnya. Dia mencium pipiku dengan lembut. Setelahnya, aku baringkan mama di atas ranjang, lalu aku genjot kembali memeknya yang sempit dan nikmat.
"Oh, oh, oh, yeahh ... entot terus, Sayang," desah mama dengan binal.
Aku percepat genjotanku, agar mama kembali mendapatkan orgasme. Setiap sodokan yang aku lakukan menghasilkan suara plok plok plok yang nikmat untuk didengar. Liang kenikmatannya mama terasa hangat dan sangat becek. Dulu, lubang ini pernah melahirkan ciciku dan aku. Sekarang, lubang ini sedang aku sodok dengan kontolku. Beruntung mama sama sekali tidak keberatan. Tidak lama kemudian, aku merasa mau orgasme.
"Keluarin di mana, Ma?" tanyaku.
"Di dalam Sayang," jawab mama, "mama pengen merasakan kehangatan dari pejumu, hihihi."
Aku tancapkan penisku dalam - dalam, lalu aku muntahkan semua spermaku di dalam liang kenikmatannya mama. Aku kemudian ambruk di atas badannya mama. Mama memelukku dengan erat. Kita dalam posisi ini selama sekitar 3 menit. Setelah energiku pulih, aku beranjak menuju ke dapur. Aku ambil 2 gelas air dingin untuk mama dan diriku. Kita lalu meminumnya sampai habis.
"Lanjut?" tanya mama.
"Iya dong. Belum puas nih," jawabku.
Mama tersenyum senang saat mendengarnya. Aku kemudian meminta mama untuk menungging. Mama menurut dan dia segera menungging di sampingku. Menatap memeknya yang merah merekah, membuatku menjadi makin sange. Aku colok - colok memeknya dengan dua jariku.
"Wihh, banyak amat cairannya," ucapku sambil tersenyum.
"Cepetan, masukin Say," rengek mama seraya menggoyangkan pantatnya.
"Oke, oke," sahutku.
Aku berlutut di depan pantatnya mama yang montok. Sebelum kuentot, aku remas - remas bongkahan pantatnya yang montok dan empuk.
"Kamu nakal banget sih! Godain mama terus," protes mama.
"Iya dong. Masak body seksi kayak gini gak dimainin, hehehe," balasku.
"Kamu sekarang pinter ngegombal, ya? Hihihi," kata mama.
"Hehehehe." Aku tertawa terkekeh.
Aku arahkan kontolku ke memeknya mama, lalu aku dorong sampai masuk semua. Mama mendesah panjang saat memeknya kembali dimasuki kontolku. Kemudian, aku kembali menghajar memeknya. Sambil kusodok, aku jambak juga rambutnya, sampai kepalanya mendongak ke atas.
"Terus Sayang. Entotin mama Say," lenguh mama.
Kedua tanganku pindah ke toketnya mama. Aku remas - remas kedua toketnya yang dari tadi bergoyang ke depan dan ke belakang. Tidak lama kemudian, mama kembali mendapatkan orgasme. Aku cabut kontolku dari memeknya mama, lalu aku tancapkan ke boolnya mama.
"Aaaahhhhh!" Mama mendesah panjang dengan kepala mendongak ke atas.
Boolnya mama lebih sempit dari memeknya. Aku diamkan sejenak kontolku di dalam liang anusnya. Kemudian, aku mulai menggenjot pantatnya dengan tempo lambat.
"Agak cepet dikit, Say," kata mama.
"Oke Ma," sahutku.
Aku percepat genjotanku di anusnya mama. Jepitan lubang pantatnya sungguh sangat nikmat. Aku merasa seperti sedang terbang mengarungi awan di langit.
"Gimana? Enak gak boolnya mama?" tanya mama seraya melirikku.
"Enak banget Ma!" jawabku sambil kudorong kontolku ke dalam anusnya mama.
Tidak pakai lama, aku akan tiba di puncak kenikmatan. Aku tarik kontolku, lalu aku dorong ke dalam dengan kuat. Aku tancapkan dalam - dalam kontolku di pantatnya mama. Kusemburkan semua pejuku ke dalam pantatnya mama. Kemudian, aku ambruk ke samping kanan. Aku sangat puas dengan sesi ngentot ini. Mama kemudian memelukku sambil mencium keningku.
"Makasih yaa, Sayang," kata mama dengan lembut.
Kita lalu tertidur sambil berpelukan seperti sepasang kekasih. Badannya mama terasa begitu hangat dan lembut. Aku peluk dia erat - erat.
***
Sekitar jam 4 sore, aku terbangun dengan perasaan segar. Aku beranjak dari kasur, lalu menuju ke dapur. Ketika tiba di dapur, aku melihat mama sedang menyiapkan bahan makanan. Aku melongo kecil melihat mama cuma mengenakan BH dan CD warna ungu. Aku dekati dia, lalu aku remas kedua toketnya dari belakang.
"Eh!? Jangan ganggu mama masak!" serunya. Mama menatapku dengan tatapan judes.
"Hahahahaha." Aku tertawa saat melihat responsnya.
Aku memutuskan menuju ke ruang keluarga, menunggu mama selesai memasak. Beberapa menit kemudian, aku mencium bau harum dari arah dapur. Sepertinya mama sedang membuat hidangan yang lezat. Aku berjalan pelan menuju ke dapur untuk mengintip apa yang sedang mama masak. Ternyata mama sedang membuat sup dan ayam katsu.
"Wihh, mantap," ucapku dalam hati.
Mama tiba - tiba menoleh ke arahku. "Sayang, bantu mama sini," panggilnya.
"Oh, oke," sahutku.
Aku membantu mama mengangkat hidangan lezat ini ke meja makan.
"Ma, sebelum makan, satu ronde bentar yuk," ajakku.
Mama menatapku dengan senyuman mesum. "Kamu kok sangen trus sih!" ucapnya seraya mencubit lenganku.
"Habisnya Mama seksi banget," balasku.
Aku kemudian menarik mama menuju ke sofa ruang keluarga. Aku duduk di atas sofa, sedangkan mama berlutut di depanku. Aku keluarkan kontolku yang tegak perkasa. Mama menggenggamnya, lalu dia masukkan ke dalam mulutnya. Berikutnya sudah dapat ditebak, tidak perlu diceritakan lagi. Aku puas sekali ngentot dengan mamaku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar