Aku dan Joni belum membuat rencana lagi, karena tidak lama lagi kita akan menghadapi ujian. Ketika aku sedang sibuk belajar, tante Reni mengirimkan beberapa foto telanjangnya.
"Astaga!" seruku, sedikit kesal.
Aku diamkan saja, dan kembali lanjut belajar.
Beberapa menit kemudian, tante Reni mengirimkan sebuah video. Aku acuhkan dan memilih fokus menyelesaikan belajarku. 20 menit kemudian, aku memutuskan untuk istirahat sejenak. Aku buka HP-ku untuk melihat video yang dikirimkan oleh tante Reni. Aku terkejut dengan mulut terbuka saat melihat video tersebut. Tante Reni sedang melakukan hubungan intim dengan tante Astrid. Dari tatapan matanya, sudah jelas tante Astrid sedang dikendalikan dengan remot pengendali pikiran. Hubungan seks mereka begitu intens.
"Tante Reni melakukannya di mana coba?" pikirku.
Penisku mulai ngaceng saat menonton adegan seks yang dilakukan oleh kedua tante ini. Tante Reni sesekali melirik ke arah kamera HP, seolah dia sedang mencoba menggodaku. Baru berjalan 3 menit, aku pause videonya. Aku kembali ke meja belajarku untuk lanjut belajar. 30 menit kemudian, aku sudahi belajarku. Aku lanjutkan video yang tadi. Sambil menonton, aku mulai mengelus - elus penisku. Di akhir video, tante Reni menghadap ke kamera.
"Setelah ujianmu selesai, tante akan memberimu sebuah kejutan, hihihihi," ujarnya.
"Kejutan macam apa yang akan diberikan oleh tante binal ini?" pikirku.
***
Selama 8 hari, aku mengikuti ujian tengah semester yang lumayan berat. Materinya susah - susah. Selama masa ujian, aku tidak melakukan seks sama sekali. Entah ini sebuah keberuntungan atau kejanggalan, tante Reni tidak menggangguku dengan mengirimkan foto dan video mesumnya.
"Sepertinya akan terjadi sesuatu," kataku dengan tidak bersemangat.
Setelah ujian, kita mendapatkan libur satu hari. Kalau aku perhatikan, hari ini adalah hari Sabtu. Sudah jelas itu hari libur. Kita dikerjain sama pihak sekolah. Hari ini aku pergi ke mall dengan teman sekelasku. Ketika sedang asik mengobrol di sebuah restoran, HP-ku bergetar. Saat aku cek, ternyata ada chat dari tante Reni.
"Kamu pulang kapan?" tulisnya.
Aku jawab, "Mungkin 1 jam lagi."
"Oke, aku tunggu di rumahmu yaa," balasnya.
"Pasti dia mau main sama mamaku lagi," ucapku dalam hati.
Gara - gara tante Reni, aku jadi tidak sabar untuk pulang.
***
Sebelum acara jalan - jalanku selesai, aku memberitahu tante Reni kalau aku akan segera pulang. Tante hanya mengirimkan emoji oke. Akhirnya, acara jalan - jalan kita selesai. Aku bergegas menuju ke tempat parkir, lalu aku gas motorku menuju ke rumah. Setibanya di rumah, aku berlari kecil menuju ke ruang keluarga.
"Halo Will," sapa mama sambil melirik ke belakang..
"Kamu datang tepat waktu," imbuh tante Reni, juga melirik ke belakang. Dia duduk di sampingnya mama.
Aku terdiam menatap mereka. Tidak ada kata yang keluar dari mulutku.
"Kok diem aja?" tanya mama sembari bangkit berdiri, "ayo, kita ke kamarku."
Mama dan tante Reni berjalan bersama menuju ke kamarnya mama. Aku bingung melihat apa yang terjadi saat ini. Semuanya terasa janggal bagiku. Yang pertama, mama dalam kondisi sadar. Yang kedua, dia terlihat sudah akrab dengan tante Reni. Setauku mereka tidak saling kenal. Aku kemudian tersadar dari lamunanku setelah tante Reni memanggil namaku. Aku berlari kecil menuju ke kamarnya mama yang ada di lantai 2. Saat aku masuk ke dalam, mama memintaku mengambil kursi dari meja riasnya, lalu duduk menghadap mama dan tante Reni yang duduk berdua di atas ranjang. Aku melakukan apa yang diperintahkan oleh mama, meski diriku bingung apa yang sebenarnya sedang terjadi.
"Will, langsung ke poin utamanya ya," kata mama dengan ekspresi serius, "Reni sudah cerita banyak ke mama," lanjutnya sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
Deg, badanku seketika membeku. Aku terdiam dengan ekspresi cemas dan takut. Tante Reni senyum - senyum menatapku.
"Hahahahaha." Tiba - tiba tante Reni tertawa lepas, "ekspresimu lucu banget! Hahahahaha."
Ingin rasanya aku sleding si tante jalang itu. Kemudian, aku lihat mama mulai tersenyum.
"Hahahahaha ... perutku jadi sakit nih, hahahaha." Mama tertawa keras sambil memegangi perutnya.
"Sepertinya prank kita sukses Beb," kata tante Reni.
"Benar sekali," sahut mama.
Aku terkejut saat mendengarnya. "Huh!?"
Mama kemudian menceritakan mengenai hubungannya dengan tante Reni. Aku kembali terkejut ketika mama mengatakan kalau dia dan tante Reni sudah lama saling kenal.
"Mama juga tahu lhoo tentang remot tersebut," ucap mama dengan senyum bangga. "Kamu dan temanmu pertama kali menggunakannya ke Reni, kan?" sambungnya.
"Hah!? Kok tau?" Aku terbelalak saat mendengarnya.
"Kan, udah kubilang, Reni cerita semuanya ke aku," jawab mama. "Mama juga tahu lho siapa saja wanita yang kamu entot bersama dengan si Joni," ucapnya kemudian.
Aku tidak dapat berkata apa - apa. Mama dan tante Reni saling melirik sambil tersenyum, kemudian mereka berdua kembali menatapku.
"Kamu tau gak, mama pernah dientot satu kali sama Joni, partnermu," kata mama.
Aku sudah tidak tau mau bereaksi apa. Ini sungguh sangat tidak terduga. Mama kemudian tersenyum menatapku.
"Santai saja Sayang, mama gak marah kok," kata mama, "mama cuma kecewa, kenapa Joni gak minta baik - baik. Kalo minta dengan sopan, mama bakal bolehin dia ngentotin aku."
"Lahh!? Kok gitu??" Aku keberatan.
"Kamu aja ngentot dengan banyak wanita, masak mama gak boleh?" kata mama.
"Bener itu," imbuh tante Reni.
Apa yang dikatakan mama membuatku tidak bisa membalasnya. Aku jadi bingung mau berkata apa.
"Beb, aku udah sange nih," kata tante Reni sembari menyentuh pahanya mama.
Mama menatap tante dengan senyum lebar, kemudian mereka saling berciuman. Aku melongo melihat mereka berdua berciuman seperti pasangan lesbi. Mama dan tante Reni sesekali melirikku. Aku hanya bisa diam membeku seperti orang bego. Tidak lama kemudian, mama melepas kaosnya tante Reni, dan tante Reni membalasnya dengan melepas kaosnya mama. Tubuh bagian atas mereka sekarang hanya ditutupi oleh BH saja. Mereka berdua lanjut berciuman sambil peluk - pelukan. Tidak lama kemudian, mama dan tante Reni beranjak berdiri. Mereka melepas celana pendek yang masih melekat di badan, lalu dilemparkan begitu saja ke arah lain. Sekarang mama dan tante Reni hanya mengenakan pakaian dalam saja. Tante Reni kemudian mengambil posisi membelakangi mama, lalu mama menempelkan badannya ke badannya tante Reni. Mama kemudian meremas - remas dadanya tante Reni yang masih terbungkus BH.
"Gimana? Kamu suka gak?" tanya mama dengan lirikan mesum.
"I-iya," jawabku dengan nada canggung.
"Uhhh ... sayang ... terusin yaa," desah tante Reni sambil melirikku.
Mama kemudian mengarahkan tangan kanannya ke selangkangannya tante Reni. Dia meraba - raba vaginanya tante Reni yang masih tertutup CD.
"Ohh, sayang," lenguh tante Reni.
Tidak lama kemudian, mama dan tante Reni menatapku dengan tatapan mesum.
"Mau ikut juga?" tawar tante Reni.
"Hah!?" Aku terkejut.
"Ayo, mau gak?" tanya mama.
Aku diselimuti kebingungan. Di satu sisi, aku mau - mau saja ikut bergabung, tapi, sekarang ini, mamaku ada di sini, meskipun dia juga terlibat. Mereka berdua menghampiriku, lalu membawaku menuju ke pinggir ranjangnya mama. Aku pasrah saja ketika mama dan tante Reni menelanjangiku. Aku lalu didudukkan di pinggir ranjang. Mama dan tante Reni kemudian berlutut di depanku. Aku sangat terkejut ketika melihat mama kandungku sendiri sedang menjilati batang penisku bersama dengan tante Reni. Kalau dijilat sama tante Reni udah biasa, tapi kalau mama sendiri ... benar - benar diluar prediksi.
"Gimana? Enak gak jilatannya mama?" tanya mama sambil melirikku.
"Anu ... ummm ...." Aku jadi semakin canggung.
"Kalo sama tante, enak mana?" tanya tante Reni.
Tante Reni dan mama menghentikan jilatan mereka. Keduanya fokus menatapku.
"E-enak semuanya," jawabku.
Mama dan tante Reni tersenyum menatapku. Mereka kemudian lanjut menjilati penis dan bijiku. Tidak lama kemudian, tante Reni berdiri sedikit, lalu dia menjilati putingku. Aku kemudian dibuat pusing 9 keliling ketika mama memasukkan penisku ke dalam mulutnya. Benar sekali, batang penisku sedang dikulum oleh mama kandungku.
"Uhh ... ahhh ...," lenguhku.
Mama begitu lihai mengulum penisku. Aku dibuat melayang ke angkasa.
"Beb, gantian dong," pinta tante Reni.
Mama mencabut penisku dari mulutnya. Tante Reni kemudian memasukkan penisku ke dalam mulutnya. Mama beralih ke dadaku, lalu dia menjilatinya dengan lembut.
"Gimana? Enak gak?" tanya mama.
"Enak," jawabku.
Mama dan tante Reni tersenyum menatapku. Kemudian, mereka berdua mendorongku sampai aku terlentang di atas kasur.
"Nah, sekarang giliranmu," kata tante Reni sembari duduk di atas wajahku, "jilatin memekku ya."
Aku turuti perkataannya, lalu aku julurkan lidahku ke bibir vaginanya. Tante Reni mendesah keenakan, menikmati lidahku yang menyapu area vaginanya. Kemudian, aku merasakan sebuah vagina hangat menyentuh kepala penisku.
"Oh, shit!" ucapku dalam hati.
Saat ini, tante Reni berada di atas mukaku. Jadi, dapat dipastikan yang ada di area selangkanganku adalah mama. Aku seketika menjadi takut. Mama akan memasukkan penisku ke dalam vaginanya, tempat di mana aku dilahirkan. Bukannya jadi lemas, penisku justru semakin mengeras.
"Wow ... kontolmu keras banget," kata mama.
Aku sebenarnya ingin mengatakan sesuatu, tapi mulutku disumpal dengan vaginanya tante Reni. Kemudian, kurasakan penisku masuk ke dalam sebuah liang sempit yang hangat.
"Gila! Vaginanya mama sempit banget!" seruku dalam hati.
Penisku masuk semakin dalam, hingga mentok ke dalam vaginanya mama.
"Ouhhh! Aku suka kontolmu, Will!" seru mama.
Entah kenapa, aku senang penisku dipuji oleh mama. Kemudian, mama mulai menggoyang pinggulnya dengan perlahan, lalu semakin cepat.
"Shit! Enak banget njir!" ucapku dalam hati.
"Sayang ... jilatnya yang bener dong," kata tante Reni seraya menggesekkan vaginanya ke mulutku.
"Oh iya, sampe lupa aku," kataku dalam hati.
Konsentrasiku pecah gara - gara goyangannya mama. Tidak lama kemudian, sebuah cairan hangat membasahi mukaku.
"Makan nih, cairan memekku!" seru tante Reni.
"Nakal banget sih kamu! Masak muka anakku kamu siram dengan cairan orgasmemu," ucap mama.
"Hihihi, biarin," balas tante Reni, "kamu pasti juga mau, kan?"
"Iya dong, hihihi," jawab mama, masih menggoyangkan pinggulnya, "pasti asik banget bisa nyiram cairan orgasmeku ke wajah anakku."
"Sudah jelas itu, beb," ujar tante Reni.
Aku terkejut sekali saat mendengarnya. Tidak kusangka mamaku se-binal itu.
"Ah, aku jadi pengen nyiram cairan memekku ke Budi juga," kata tante Reni.
"Bukankah kamu sudah ngentot dengan anakmu?" tanya mama.
"Iya, tapi masih di bawah kendali alatku," jawab tante Reni, "Aku pengennya kayak kamu dan Will. Ngentot dalam kondisi sadar."
"Mereka berdua sudah gila," kataku dalam hati.
"Beb, gantian yuk," kata tante Reni.
"Boleh," sahut mama.
Mama mencabut penisku dari vaginanya, dan tante Reni mengangkat pantatnya dari wajahku. Akhirnya aku bisa bernafas dengan lega. Mama kemudian menatapku dengan senyum binal. Aku menelan ludah saat melihat kedua payudara besarnya yang menggantung di depanku.
"Gimana? Enak gak dientot sama dua wanita seksi?" tanya mama sembari membelai pipiku.
"E-enak," jawabku dengan agak gugup.
"Sip!" balas mama.
Tanpa banyak bicara, mama menduduki wajahku. "Jilat memek mama, Sayang."
Aku menuruti permintaannya, lalu aku mulai menjilati vaginanya mama yang sangat basah. Mama mendesah keenakan menikmati permainan lidahku.
"Ouhh, Sayang. Kamu pinter banget," ucap mama, "terusin Say."
Aku semakin bersemangat menjilati vaginanya mama. Saking semangatnya, kedua tanganku mendarat di bongkahan pantatnya mama, lalu aku remas - remas. Ini pertama kalinya aku meremas pantatnya mama.
"Kamu pinter banget Sayang," ucap mama.
"Dia udah berpengalaman, hihihi," ujar tante Reni, masih menggoyang pinggulnya.
Tidak lama kemudian, mama mengesek - gesekkan vaginanya ke mulutku. Dia mendesah panjang.
"Aku keluaaar, Sayang!" seru mama.
Cairan hangat menyembur dengan deras dari vaginanya mama. Sepertinya mama puas dengan permainan lidahku. Mama kemudian ambruk ke samping kiriku.
"Luar biasa kamu, hihihi," puji tante Reni, "kamu bikin mamamu lemes."
Aku jadi malu - malu saat mendengarnya. Tante Reni kemudian mempercepat goyangan pinggulnya.
"Akkkhhhh! Aku mau keluaarr!" seru tante Reni.
Badannya tante Reni mengejang. Kepalanya terdongak ke atas. Kemudian, cairan hangat meluber keluar dari liang vaginanya. Tante Reni ambruk di atas badanku.
"Makasih ya, Sayang," ucap tante Reni dengan nada lirih.
Mama kemudian bangun dari rebahannya. Dia mencabut penisku dari vaginanya tante Reni, lalu dia dorong tubuhnya tante Reni ke samping kananku.
"Kamu belum keluar, kan?" tanya mama.
"Belum," jawabku.
"Sini, entotin mama dari belakang ya," pinta mama.
Mama kemudian menungging membelakangi diriku. Penisku tegang maksimal saat melihat vaginanya yang begitu menggoda. Area bibir vaginanya basah karena cairan lendirnya. Yang paling aku suka adalah selangkangannya yang bersih dan gundul. Tanganku sedikit gemetar ketika aku arahkan ke bongkahan pantatnya mama yang montok. Aku sentuh gumpalan kenyal tersebut dengan telapak tanganku.
"Kok lama amat? Ayo cepat, masukin! Memekku udah gatal banget, pengen disodok sama kontolmu," kata mama sambil menoleh ke belakang.
Aku tidak percaya sebuah kalimat vulgar keluar dari mulut mamaku. Aku kemudian mengarahkan penisku ke bibir vaginanya mama. Aku dorong kepala penisku hingga masuk ke dalam. Aku diamkan sejenak. Kemudian, aku dorong seluruh penisku sampai masuk semua.
"Gimana? Memeknya mama enak, kan?" tanya mama.
"Enak banget!" jawabku.
Aku mulai menggenjot vaginanya sambil aku pegang pinggulnya. Aku tidak menduga akan tiba hari di mana aku menyetubuhi mamaku sendiri dalam posisi doggy style. Vaginanya mama sangatlah sempit. Pantas saja si Joni keenakan saat dia menyetubuhi mamaku.
"Oh ya, terusin Sayang. Kontolmu nikmat banget," racau mama.
Aku kemudian mengarahkan tangan kananku ke depan. Aku raih payudaranya mama, lalu aku remas - remas. Lalu, dari arah samping kanan, tante Reni datang dan memelukku.
"Ayo, genjot mamamu dengan buas," ucap tante Reni, menyemangatiku.
Aku melirik tante Reni, lalu aku tersenyum menyeringai. "Oke."
Aku percepat sodokanku di vaginanya mama. Dari desahannya, mama sepertinya sangat menikmati genjotanku. Tidak pakai lama, mama kembali orgasme. Cairan cintanya menetes lumayan banyak di atas sprei. Mama kemudian ambruk ke kanan. Tanpa basa - basi, tante Reni memelukku dan dia menciumku dengan buas. Kemudian, tante Reni merebahkan badannya, lalu dia menguak vaginanya.
"Sini Sayang, entotin tante dengan kontol kerasmu itu," kata tante Reni dengan nada binal.
"Siap!" sahutku.
Sekarang aku sedang menyetubuhi tante Reni. Tidak pakai lama, tante Reni mencapai orgasmenya. Baru saja aku mencabut penisku dari vaginanya tante Reni, mama langsung memasukkan penisku ke dalam vaginanya.
***
30 menit kemudian, kita bertiga terkapar di atas ranjangnya mama yang basah karena lendir dan keringat. Aku beranjak dari kasur, lalu berjalan menuju ke kamar mandi. Setelah bilas sebentar, aku ambil pakaianku yang berserakan di lantai, kemudian aku kembali ke kamarku, meninggalkan mama dan tante Reni yang masih tertidur. Aku kemudian merebahkan diriku di atas kasurku.
"Capeknya," ucapku.
Mama dan tante Reni menyedot energiku sampai habis. Sepertinya aku bakal ketiduran sampai malam. Dugaanku ternyata benar, aku cuma memejamkan mata sebentar, setelahnya aku terbawa ke dalam alam mimpi.
***
Jam 8 malam, aku terbangun dengan badan yang segar. Aku berjalan menuju ke luar, lalu turun ke lantai 1. Aku melihat mama sedang duduk menonton TV.
"Gimana? Tidurmu nyenyak?" tanya mama dengan ekspresi biasa saja.
"Iya," jawabku.
"Sini, duduk di samping mama," ujarnya.
Aku nurut saja dan duduk di sampingnya. Mama kemudian meletakkan tangannya di atas pahanya.
"Sejak kapan kamu memulai petualangan seks-mu?" tanya mama dengan lembut.
"Su-sudah lumayan lama," jawabku dengan gugup.
"Jangan gugup, Sayang. Santai saja," kata mama, "lagi pula, kita sudah berhubungan badan, jadi tidak ada yang perlu disembunyikan."
Aku lalu menceritakan semua petualanganku dengan Joni. Mama tersenyum saat mendengarnya.
"10 tahun yang lalu, mama juga pernah melakukannya dengan Reni. Tapi, mama cuma main sama 2 pria," kata mama.
Aku terkejut saat mendengarnya. Aku kemudian jadi teringat ketika aku masih SD. Mama lumayan sering ijin pergi entah ke mana. Ternyata mama pergi untuk main dengan pria lain.
"Dasar Mama nakal!" ucapku, agak kesal.
"Tenang dulu, Sayang," kata mama sambil senyum - senyum, "mama gak terus - terusan kok. Cuma bertahan 2 bulan saja, setelah itu kita berhenti dan fokus mengurus keluarga."
Aku sedikit lega saat mendengarnya. Mama kemudian menceritakan bagaimana tante Reni bisa mendapatkan remot pengendali pikiran. Pada hari itu, tante Reni mengajak mama ke sebuah klub malam misterius. Klub tersebut hanya diketahui oleh sedikit orang.
"Tante Reni mengatakan bahwa kita akan mendapatkan sesuatu yang menarik, jika mau menari erotis di atas panggung," kata mama.
"Biar kutebak, Mama dan tante Reni naik ke atas panggung, kan?" ucapku.
Mama mengangguk mantap. "Benar sekali!"
"Trus, Mama dan tante Reni menari erotis?" tanyaku dengan tatapan datar.
"Iyalah," jawab mama, "bahkan mama masih punya pakaiannya."
"serius?" Aku terkejut dengan mulut agak terbuka.
Mama bangkit berdiri, lalu dia berjalan menuju ke lantai 2. Cukup lama mama berada di kamarnya. Setelah menunggu agak lama, mama turun dengan mengenakan BH dan CD berkelip. Aku terkejut saat melihatnya.
"Ini adalah pakaian yang kita pakai untuk menari," kata mama, "ini terbuat dari berlian imitasi."
"Ohh." Aku mengangguk.
"Mau lihat mama menari gak?" tanya mama.
"Mama masih bisa menari?" tanyaku balik.
Mama berkacak pinggang, menatapku dengan wajah kesal. "Kamu jangan ngejek ya."
"Kalo gitu, buktikan dong," ucapku, menantang.
Mama tersenyum menatapku. Dia mengambil HP-nya, lalu terdengarlah suara musik DJ dari Hp-nya. Mama meletakkan HP-nya di atas meja, lalu dia mulai bergoyang erotis. Goyangan pinggulnya membuatku ngaceng lagi. Mamaku ternyata hebat juga dalam menari erotis.
"Gimana? Tarianku bagus, kan?" tanya mama sambil menari erotis.
Aku mengacungkan kedua jempolku. "Bagus banget. Aku bahkan sampai ngaceng, liat Mama menari."
Mama tersenyum lebar menatapku. "Turunin celanamu. Mama mau liat kontolmu."
Aku pelorotkan celana dan celana dalamku. Penisku yang perkasa langsung mengacung dengan kokohnya. Mama kemudian mendekatiku, lalu dia duduk di atas penisku dengan posisi membelakangiku. Mama kemudian menggesek - gesekkan pantatnya ke penisku.
"Gimana? Enak gak gesekan dari pantatnya mama?" tanya mama.
"Uhhh ... enak banget Ma," jawabku.
Mama sangat pandai dalam menggoyang pantat dan pinggulnya. Aku arahkan kedua tanganku ke depan, lalu aku remas kedua payudaranya. Mama mulai mendesah keenakan. Sekitar 3 menit kemudian, mama berhenti menggoyang pantatnya.
"Lanjutin di kamarmu yuk," ajak mama.
Aku mengangguk. "Yuk!"
Mama menggandeng tanganku, lalu menarikku menuju ke kamarku. Saat tiba di kamarku, mama langsung melucuti semua pakaianku, lalu lanjut melepas BH dan CD berkelipnya. Mama mendorongku ke atas kasur, lalu dia menindih badanku. Mama mencium bibirku dengan penuh gairah. Aku membalas ciumannya sambil meraba punggung dan rambutnya. Kemudian, mama menghentikan ciumannya.
"Aku masukin ya," kata mama seraya mengarahkan penisku ke vaginanya.
Mama dorong pinggulnya dan penisku masuk semua ke dalam liang senggamanya. Mama mendesah panjang dengan kepala terdongak ke atas.
"Uhhh ... sempit dan hangat Ma," ucapku.
"Kontolmu enak banget, Say," kata mama, tersenyum menatapku.
Mama kemudian mulai menggoyang pinggulnya. Goyangannya pelan dan lembut. Aku remas kedua pahanya mama, menikmati jepitan vaginanya yang sempit dan hangat.
"Remas dada mama, Sayang," pinta mama seraya mengarahkan tanganku ke payudara kirinya.
Aku remas dada kirinya dengan lembut. Mama mendesah semakin keras. Semenit kemudian, aku meminta ganti gaya.
"Oke, sekarang kamu berdiri ya," kata mama.
"Mama mau nungging, ya?" ucapku.
"Bener banget," balas mama sambil tersenyum.
Aku arahkan penisku ke vaginanya mama, lalu aku dorong sampai masuk semua. Aku pegang pinggulnya, lalu aku mulai menggenjot vaginanya mama.
"Ah, ah, ah, ahh," desah mama, menikmati sodokanku.
Sangat nikmat sekali menyetubuhi mamaku sendiri. Penisku terasa seperti disedot - sedot oleh vaginanya mama. Tidak lama kemudian, mama mendapatkan orgasme. Cairan cintanya membasahi penisku.
"Sayang, sekarang entot boolnya mama, ya," pinta mama.
"Oke Ma!" sahutku dengan semangat.
Aku oleskan cairan cintanya mama ke liang anusnya. Kemudian, aku masukkan jari tengahku ke dalam pantatnya mama, untuk melemaskan otot - ototnya. Kemudian, aku arahkan penisku ke lubang pantatnya mama. Aku dorong perlahan penisku masuk ke dalam pantatnya mama. Saat masuk setengahnya, aku diamkan sejenak. Kemudian, aku tarik sampai mau lepas, lalu aku dorong lagi sampai masuk semua.
"Gimana Ma? Sakit gak?" tanyaku.
Mama menoleh ke arahku. "Enggak. Mama sangat menikmatinya."
"Oke!" sahutku.
Aku sedikit mempercepat sodokanku. Saking nikmatnya, aku tidak dapat menahannya lagi. Aku semburkan maniku ke dalam anusnya mama.
"Ohhh ... bool mama jadi anget," ucap mama.
Aku dan mama kemudian berbaring bersama di atas kasurku. Mama menempelkan badannya ke badanku dengan posisi menyamping. Aku merangkul mama seolah dia adalah kekasihku.
"Sayang," panggil mama.
"Iya?" balasku.
"Kalo misal kamu mau ngentot cewe lain, ajak mama ya," kata mama.
Aku terkejut saat mendengarnya. "Mama serius??"
Mama tersenyum menatapku. "Iya, serius. Masak kamu doang yang seneng - seneng."
"Tapi ... ada Joni juga. Gapapa?" ucapku.
"Gapapa," jawab mama, "mama ingin gabung dengan komplotan mesum kalian, hihihi."
Aku melongo tidak percaya. "Mama serius mau jadi penjahat kayak kita??"
Mama tertawa kecil saat mendengarnya. "Mama aja sejak awal udah jadi penjahat seks, hihihi," balas mama, "gimana, boleh gak mama ikut?
"Ummm ... aku tanya Joni dulu," ucapku.
"Nanti aja," balas mama, "sementara ini, kita berdua dulu aja. Kita akan menjadi duo mama dan anak sebagai penjahat seks, hihihi."
Aku tertawa seraya mencubit dada kanannya. Mama kemudian membalasnya dengan mengocok penisku. Setelahnya, kita lanjut ngeseks sampai jam 11 malam.
***
Besoknya, aku kembali bersekolah. Sementara mama kembali bekerja. Tiba di sekolah, aku menemui Joni.
"Ada target baru?" tanyaku.
"Belum ada sih. Selama Sabtu dan Minggu, aku cuma main sama 2 tante yang pernah kita kunjungi," jawab Joni.
"Wah, gak ngajak - ngajak," ucapku.
"Sebenarnya aku mau ajak kamu, tapi tante Reni tiba - tiba chat aku dan bilang kalau kamu lagi di booking," ujar Joni, "chat-nya muncul tepat sebelum aku mengirimkan chat ajakan ke kamu."
"Astaga! Ngapain dia ikut campur," kataku sambil menepuk dahi.
"Hahahaha. Sepertinya tante Reni pengen menguasai kontolmu," kata Joni.
Kemudian, bel sekolah berbunyi. Jam pelajaran telah dimulai.
***
Saat jam istirahat, Joni menemuiku.
"Setelah jam sekolah selesai, kita entot tante Reni yuk," usulnya.
"Boleh," sahutku, "Budi bagaimana?"
"Dia ada kerja kelompok. Jadi kita bisa bebas ngentotin mamanya sampai jam 4 sore," jawab Joni.
"Oke, oke," sahutku.
Kita kemudian lanjut menuju ke kantin untuk makan siang. Di kantin, kita makan siang bersama Budi. Aku jadi merasa bersalah dengannya.
"Kalian kerja kelompok kapan?" tanya Budi.
"Besok," jawabku dan Joni secara bersamaan.
"Hmph ... oke, oke," sahut Budi.
Selesai makan siang, kita bertiga kembali ke kelas. Tidak pakai lama, bel sekolah berbunyi. Jam pelajaran kembali dimulai.
***
Setelah jam sekolah berakhir, Joni dan aku langsung tancap gas menuju ke rumahnya tante Reni. Tiba di sana, kita disambut hangat oleh beliau.
"Ayo, masuk," ucap tante Reni.
Kita dorong tante Reni menuju ke kamarnya, lalu kita entot dia dengan berbagai macam gaya. Aku hanya 1 ronde saja, sementara Joni sampai 3 ronde.
"Kok cuma sekali doang?" tanya Joni.
"Aku ada acara nanti. Takut kecapekan, hehehe," jawabku.
"Pasti mau maen sama cewe lain," kata Joni sambil senyum - senyum.
"Terserah aku lahh," balasku.
Joni tertawa seraya menepukku. Kita lalu kembali ke rumah masing - masing, meninggalkan tante Reni yang masih tertidur pulas sambil telanjang. Tiba di rumah, aku mendapatkan pesan dari tante Reni. Dia agak kesal karena ditinggal dalam kondisi bugil. Selain itu, dia juga kesal karena aku cuma satu ronde dengan dia. Aku menjelaskan kalau nanti sore ada kerjaan bersama dengan mamaku. Tante Reni membalasnya dengan mengirimkan emot senyum dan emot jari tengah. Aku membalasnya dengan emot tawa.
***
Mendekati jam 6 sore, aku mendengar suara klakson dari mobilnya mama. Sebelumnya, mama memberitahuku untuk segera ke luar ketika dia menekan klakson. Aku menuju ke luar, aku buka pintu gerbang rumah, tidak lupa aku kunci pintunya, lalu aku masuk ke dalam mobil.
"Kita mau ke mana?" tanyaku.
"Ke apartemennya temen," jawab mama.
"Mama dapat siapa?" tanyaku.
"Nanti kamu liat aja, hihihi," jawab mama.
Mama tancap gas dan mobil melaju ke jalan besar. Perjalanan memakan waktu 10 menit. Kita kemudian tiba di sebuah kompleks apartemen mewah.
"Sudah dihipnotis belum?" tanyaku.
"Sudah," jawab mama.
"Gila ... udah berapa lama?" tanyaku lagi.
"Mungkin sekitar 20 menit," jawab mama dengan santainya.
Aku geleng - geleng saat mendengarnya. Mama kemudian menggandeng tanganku, dan mengajakku masuk ke dalam lobi apartemen. Kita kemudian menuju ke lantai 6.
"Ini dia. Kamar 615," kata mama. "Sudah siap?" tanyanya kemudian.
"Siap dong," jawabku sambil mengacungkan jempolku.
Mama membuka pintu apartemen, dan kita disambut oleh dua wanita dengan pakaian kantor yang duduk berlutut di depna pintu.
"Mereka siapa?" tanyaku.
"Yang di kanan, namanya Tesa," jawab mama, "dia adalah teman kantornya mama. Umurnya 35 tahun. Sudah punya suami dan 1 anak."
"Eh!? Emang gak bakal dicariin keluarganya?" tanyaku.
"Santai aja. Dia tinggal jauh dari keluarganya," jawab mama.
"Kalau yang di kiri?" tanyaku lagi.
"Kita masuk ke dalam kamar dulu aja ya," ucap mama sembari mendorongku masuk ke dalam kamar.
Ketika sudah masuk ke dalam kamar, mama meminta mereka berdua untuk melepas pakaian luar mereka. Kedua wanita tersebut menurut dan mulai melepas pakaian kantor mereka. Sekarang mereka berdua hanya mengenakan pakaian dalam. Aku melongo ketika melihat mama membuka pakaian kantornya juga. Mama sekarang juga hanya berbalut pakaian dalam.
"Ayo, lepas pakaianmu," perintah mama.
"Oh, oke," sahutku.
Aku lepas seluruh pakaian luarku sampai menyisakan boxer saja.
"Nah, wanita yang terakhir juga rekan kerjanya mama. Namanya Rina. Dia berumur 25 tahun. Hobinya ngentot dengan manajernya mama," kata mama.
"Hehh!?" Aku terkejut ketika mendengarnya.
"Sekarang, siapa yang ingin kamu entot lebih dulu?" tanya mama.
"Lho!? Kita gak langsung main berempat?" tanyaku.
"Enggak lah!" jawab mama, "mama juga pengen main sama cewe."
Aku menghela nafas. "Oke deh, terserah Mama aja."
Aku kemudian memilih Rina, karena aku sudah lama tidak main dengan wanita muda. Mama berjalan mendekati tante Tesa, lalu dia menciumnya sambil memeluknya. Ciuman mereka begitu romantis. Tidak mau kalah, aku peluk kak Rina, lalu aku cium bibirnya. Kita berdua sekarang sedang berciuman partner seks kita. Berikutnya, kulihat mama dan tante Tesa membuka pakaian dalam mereka. Sekarang mereka berdua telanjang bulat. Mama mendorong tante Tesa ke atas kasur, kemudian dia menindih badannya. Mereka kembali berciuman. Aku lepas BH dan CD-nya kak Rina, lalu aku lepas boxer-ku.
"Kulum penisku," perintahku.
Tanpa berkata apa pun, Rina berlutut di depanku, lalu dia masukkan penisku ke dalam mulutnya. Kak Rina memaju-mundurkan mulutnya dengan tempo sedang. Permainan lidahnya begitu nikmat. Sambil menikmati oral seks, aku menyempatkan diri untuk melihat mama. Sekarang mereka berdua sedang melakukan 69. Pergulatan seks mereka begitu erotis. Mama berada di atas, menjilati vaginanya tante Tesa sambil meremas - remas pahanya. Sedangkan tante Tesa asik menjilati vaginanya mama. Aku jadi semakin sange saat melihatnya. Aku jambak rambutnya kak Rina, lalu aku sodokkan penisku dengan kasar.
"Mmmpppfff ... mmmpppfff ...." Sepertinya kak Rina kurang menikmatinya.
Aku lepaskan penisku dari mulutnya, dan dia terbatuk - batuk. Aku bergegas ke luar untuk mengambilkan segelas air putih. Kak Rina meminumnya sampai habis. Kemudian, aku gotong dia ke atas kasur. Aku jatuhkan badannya di samping mama. Aku remas - remas dadanya sambil aku hisap putingnya. Sementara itu, mama dan tante Tesa sedang melakukan gaya scissor. Aku semakin sange melihat adegan erotis yang ada di samping kiriku ini. Aku lebarkan pahanya kak Rina, lalu aku jilat bibir vaginanya. Desahan halus mulai keluar dari mulutnya kak Rina. Puas menjilati vaginanya, aku arahkan penisku vaginanya, lalu aku dorong penisku dengan perlahan.
"Uhhh ... sempit banget," ucapku.
"Enak, gak?" tanya mama, masih asik scissor dengan tante Tesa.
"Sempit Ma," jawabku.
"Berarti kamu harus nyodok dia dengan keras, hihihi," kata mama.
"Wokee!" sahutku.
Aku percepat sodokanku di vaginanya kak Rina. Mama dan tante Tesa semakin beringas menggesekkan vagina mereka. Tidak pakai lama, kak Rina menumpahkan banyak cairan ke atas kasur.
"Wahh, kamu hebat, Say, hihihihi," puji mama.
Kak Rina terbaring lemas dengan nafas terengah - engah. Mama kemudian menyudahi permainannya dengan tante Tesa. Mama duduk di atas kakinya, lalu dia memposisikan tante Tesa tidur di atas pahanya. Mama menarik kedua kakinya tante Tesa ke atas.
"Nih, entot memeknya sampe muncrat kayak air mancur, hihihi," kata mama.
"Oke Ma," sahutku.
Aku arahkan penisku ke bibir vaginanya tante Tesa yang sudah basah, lalu aku dorong dengan kuat sampai masuk semuanya ke dalam. Tante Tesa meringis keenakan saat vaginanya aku jejali dengan penisku. Aku tarik perlahan, lalu aku dorong lagi. Setelahnya, aku mulai menggenjot dengan tempo cepat.
"Sip! Ayo Sayang, entotin dia sampe memeknya melar, hihihi," ujar mama.
"Heheheh, siap!" sahutku.
Sambil aku genjot, aku juga meremas - remas kedua dadanya tante Tesa.
"Habis ini, mama mau main sama Rina," kata mama.
"Oke, Ma," sahutku.
Beberapa menit kemudian, aku sudah berada di ujung kenikmatan.
"Ini aku keluarin di dalam, gapapa?" tanyaku.
"Gapapa," jawab mama, "ini hari amannya Tesa."
Aku tancapkan dalam - dalam penisku, lalu aku semburkan semua maniku ke dalam vaginanya. Mama kemudian beralih menuju ke kak Rina. Dia memeluk kak Rina, lalu mencium bibirnya. Mereka berciuman dengan buas. Aku kemudian rebahan sambil melihat mama dan kak Rina saling memuaskan birahi. Mereka kemudian berganti posisi. Mama duduk bersila, sementara kak Rina duduk di atas pangkuannya. Mama dan kak Rina saling berpelukan sambil menggesek - gesekkan payudara mereka. Melihat mereka berdua membuat penisku ngaceng lagi. Aku tarik tante Tesa, lalu aku gesekkan penisku di belahan dadanya.
"Uhhh ... payudaranya empuk banget," kataku dalam hati.
Setelah puas melakukan tits fuck, aku meminta tante Tesa untuk menungging. Tante Tesa menurut dan dia pamerkan vaginanya kepadaku. Aku masukkan dua jariku ke dalam liang senggamanya.
"Hmmm ... becek dan hangat," ucapku.
Setelahnya, aku arahkan penisku ke vaginanya, lalu aku dorong sampai mentok. Sambil aku genjot, aku tampar pantatnya yang montok. Di tempat lain, mama dan kak Rina sedang dalam posisi scissor. Desahan mereka saling bersahutan. Setiap kali aku menyodokkan penisku ke vaginanya tante Tesa, selalu terdengar suara plok plok plok.
"Lihat kontolmu keluar-masuk, bikin mama jadi kepengen juga," kata mama.
"Kalo gitu, aku entot Mama sekarang, ya," ucapku.
"Kamu selesaiin dulu sama Tesa. Setelah itu baru mama," ujar mama.
Aku sedikit kecewa. "Oke deh."
Aku percepat genjotanku di vaginanya tante Tesa, agar dia segera orgasme. Tidak pakai lama, aku berhasil membuat tante Tesa orgasme. Mama kemudian mendekat kepadaku, lalu dia mencium bibirku.
"Kamu semakin hebat, Sayang," puji mama.
Aku jadi sedikit malu saat dipuji mama. Kemudian, mama memintaku rebahan. Dia kemudian memposisikan dirinya di atas penisku yang mengacung.
"Mama mau main di atas," kata mama.
Aku mengacungkan jempolku. "Oke, Ma."
Mama menurunkan pantatnya secara perlahan. Penisku mulai masuk ke dalam liang senggamanya mama yang sempit dan hangat.
"Aaahhh ... kontolmu enak banget," lenguh mama.
"Ayo, Ma, digoyang," pintaku.
Mama tersenyum menatapku. Dia kemudian mulai menggoyang pinggulnya. Goyangannya mama memang yang terbaik. Tante Reni juga enak, tapi sensasinya beda. Bisa dikatakan, aku adalah cowo yang beruntung. Memiliki mama yang cantik dan seksi, bisa dientot pula. Saking gemasnya, aku remas - remas kedua payudaranya dengan kuat. Tidak lama kemudian, mama mendapatkan orgasmenya.
"Mama istirahat bentar. Kamu lanjut entotin Rina, ya," kata mama seraya mencabut penisku dari vaginanya.
"Padahal aku masih pengen ngeseks sama Mama," kataku.
"Kan, bisa lanjut di rumah," balas mama dengan senyum menggoda.
"Oh, iya ya," ucapku.
Aku dekati kak Rina, lalu aku minta dia untuk menungging. Kak Rina menurut dan dia menungging membelakangiku. Aku masukkan dua jariku ke dalam vaginanya.
"Hmmm ... masih becek," ucapku.
Kemudian, aku arahkan penisku ke vaginanya, lalu aku dorong sampai masuk semua. Kak Rina mendesah panjang, menikmati sodokanku. Sambil menyetubuhi kak Rina, aku lihat mama tidur sambil memeluk tante Tesa. Aku tersenyum geli saat melihatnya.
***
Aku terkejut saat melihat jam dinding. Aku dan mama telah mencabuli kak Rina dan tante Tesa selama 1 jam. Badanku terasa lemas semua.
"Kita mandikan mereka dulu, setelah itu kita pulang," ujar mama.
"Yaa," sahutku.
Aku lalu menggotong kak Rina menuju ke kamar mandi. Sementara mama menuntun tante Tesa. Kita mandikan mereka supaya tidak meninggalkan jejak bau dari persetubuhan tadi.
"Kontolmu ditahan, yaa. Jangan sodok memek mereka," ujar mama.
"Siap!" sahutku.
Selesai memandikan kak Rina dan tante Tesa, mama memerintahkan mereka untuk kembali berpakaian.
"Trus, berikutnya apa?" tanyaku.
"Kita mandi dulu, setelah itu kamu langsung ke tempat parkir. Nanti mama menyusul," jawab mama.
Aku bergegas turun menuju ke tempat parkir. 15 menit kemudian, mama tiba dengan bau badan yang wangi.
"Yuk, kita pulang," ajak mama.
"Oke," sahutku.
Di dalam mobil, aku menanyakan tentang kak Rina dan tante Tesa. Mama bilang semua sudah diurusnya.
"Oh iya, setelah sampai di rumah, boleh aku lanjut ngeseks sama Mama?" tanyaku.
Mama tertawa kecil. "Boleh banget lah."
"Hehehehe." Aku tertawa senang.
Setibanya di rumah, aku langsung mendorong mama menuju ke kamarku. Aku telanjangi dia, lalu aku setubuhi dia sampai jam 11 malam.
Bersambung....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar