Sabtu, 29 Juni 2024

Cerita Seks Mamaku Digangbang Tiga Pria Cebol

Cerita ini bermula saat aku diajak mama meninjau sebuah rumah yang akan dijual oleh kliennya. Mamaku sendiri adalah seorang agen properti, dan saat ini berumur 38 tahun. Aku sendiri adalah seorang murid SMA yang berumur 15 tahun. Setibanya di lokasi tujuan, mama dan aku langsung disambut oleh sang empunya rumah yang bernama bu Simo.

"Selamat siang Bu," sapa bu Simo.

"Selamat siang juga, Bu," sapa balik mama.

Mereka berdua lalu berbincang masalah rumah, surat - surat dan harga di kawasan itu. Aku memilih agak menjauh dan lanjut main game HP. Saat tengah asik main game, aku melihat ada tiga pria berbadan cebol sedang duduk - duduk tidak jauh dariku. Tinggi badan mereka mungkin tidak sampai 1 meter, dan kuperhatikan mereka sedang asik mengobrol satu sama lain. Tidak lama kemudian, kulihat mama menghampiri ketiga pria itu, sepertinya dia ingin menanyakan sesuatu kepada mereka. Salah satu dari pria itu menunjuk ke sebuah arah, kemudian mama berterima kasih kepada pria itu. Mama dan bu Simo lalu pergi bersama menuju ke arah yang ditunjuk pria tadi. Ketiga pria itu lanjut mengobrol lagi, aku juga kembali lanjut main game HP. Tanpa terasa, 30 menit telah berlalu, mama dan bu Simo akhirnya kembali.

"Habis dari mana?" tanyaku kepada mama.

"Mama tadi nyari pak RT sama bu Simo," jawab mama.

"Ouwww." Aku hanya mengangguk kecil.

Mama kemudian mem-foto sekitarnya, setelah itu dia mengajakku pulang. Tidak ada yang spesial hari ini, bosenin. Seminggu kemudian, mama kembali memintaku untuk menemaninya ke rumahnya bu Simo. Aku sih hanya mantuk - mantuk saja, daripada dicerewetin nanti. Butuh waktu sekitar 20 menit perjalanan dari rumah menuju ke rumahnya bu Simo, dengan catatan tidak kena macet. Setibanya disana, mama langsung menuju ke kediamannya bu Simo yang tidak jauh dari rumahnya yang dijual. Aku seperti biasa berada di dekat mobil, menunggu sambil bermain game. Tidak jauh dari tempatku berdiri, aku melihat tiga pria cebol, yang aku lihat seminggu yang lalu, sedang berjalan sambil mengobrol.

"Sepertinya mereka tinggal di lingkungan ini," kataku dalam hati.

Mereka bertiga melewatiku dan aku tidak bisa mendengar dengan jelas obrolan mereka. Tak berselang lama kemudian, mama dan bu Simo keluar dari rumah.

"Kamu tunggu disini bentar yaa, mama mau pergi ke rumah sebelah sama bu Simo," kata mama.

"Yaa," sahutku.

Mamaku kayaknya emang suka ngobrol sama orang - orang disini deh, sementara diriku tidak begitu suka mengobrol lama - lama. 15 menit berlalu, entah kenapa aku jadi penasaran mamaku pergi kemana, dan ngobrol sama siapa. Aku akhirnya memutuskan untuk mencarinya.

"Kayaknya tadi mama lewat sini," gumamku.

Aku berjalan sambil menengok rumah yang ada di kiri dan kanan. Setelah berjalan agak jauh, aku melihat sandal yang dipakai mama berada di sebuah teras rumah yang berada di samping kiriku.

"Hmmm ... mama disini rupanya," kataku dalam hati.

Aku celingak - celinguk mencoba melihat ke dalam, tapi usahaku tidak berhasil. Aku lalu mencoba memutari rumah ini, untuk mencari jendela. Aku berhasil menemukan jendela yang bisa kuintip, setelah aku mengecek bagian samping kanan rumah ini. Saat kuintip, aku terkejut melihat mama dan bu Simo sedang asik mengobrol dengan tiga pria cebol yang selalu kutemui selama berkunjung ke perkampungan ini.

"Kayaknya obrolan mereka asik deh," gumamku.

Baru sebentar mengintip, mereka sudah selesai mengobrol. Hadehhh, gak seru sama sekali. Aku lalu mencari jalan pintas, agar sampai di depan rumahnya bu Simo lebih dulu. Aku berhasil sampai di depan rumahnya bu Simo lebih dulu, karena aku berlari dan bisa menemukan jalan pintas. Tidak berselang lama kemudian, mama dan bu Simo tiba.

"Maaf yaa kamu nunggu kelamaan," kata mama.

"Gapapa," ucapku.

Mama lalu berpamitan dengan bu Simo, kemudian kita masuk ke dalam mobil untuk pulang ke rumah. Ketika di dalam mobil, aku iseng menanyai mama kemana tadi dia pergi dan mengobrol dengan siapa.

"Mama ngobrol - ngobrol sama temennya bu Simo tadi, membahas masalah rumah," ucap mama.

Entah kenapa, aku merasa kalau mama berbohong kepadaku. Tapi aku tidak mau melanjutkannya, mungkin itu sesuatu yang tidak bisa dikatakan mama kepadaku. 5 hari kemudian, secara mengejutkan, mama akan pergi sendiri ke tempatnya bu Simo.

"Aneh, kok gak ngajak aku?" pikirku.

Aku lalu mencoba bertanya kepada mama kenapa tidak mengajakku, dan mama hanya menjawab kalau dia tidak ingin merepotkan aku. Tetap aneh sih buat aku. Karena penasaran, aku memutuskan akan membuntuti dia dengan naik motor. Aku menunggu mama berangkat lebih dulu, dan setelahnya, baru aku yang berangkat. Aku menunggu sekitar 5 menit, lalu kunyalakan motor sport-ku, dan aku melaju dengan kecepatan sedang. Setibanya di lokasi tujuan, aku memarkirkan motorku di tempat yang tidak mencolok, agar tidak dipergoki oleh mama. Dari kejauhan, aku melihat mama tengah mengobrol dengan bu Simo dan tiga pria cebol di depan rumahnya bu Simo. Mereka kemudian masuk ke dalam rumahnya bu Simo. Aku langsung menuju ke samping rumahnya bu Simo untuk mengintip mereka berlima. Mama dan bu Simo tengah asik berbincang di ruang tamu. Karena terhalang jendela, aku jadi tidak bisa mendengar obrolan mereka. Beberapa saat kemudian, aku melihat mama berdiri dan berjalan menuju ke luar. Aku mengendap - endap untuk mengintip dari samping, dan aku melihat tiga pria cebol yang kemarin telah berdiri di depan rumahnya bu Simo. 

"Yuk, kita ke rumahmu," ucap mama.

Ketiga pria cebol itu mengangguk dan mereka berjalan bersama dengan mama. Mau ngapain yaa mereka? Dan kenapa bu Simo gak ikut? Aku membuntuti mereka dari belakang, seperti seorang penguntit yang handal. Tidak perlu waktu lama bagi mama dan ketiga pria cebol itu untuk tiba di rumah yang kemarin dikunjungi oleh mama dan bu Simo. Aku kembali menuju ke jendela yang kemarin kugunakan untuk mengintip, dan saat kuintip, kulihat mama diarahkan menuju ke kamar yang ada di sudut kiri rumah.

"Waduh, kok pake masuk kamar segala," kataku dengan perasaan cemas.

Aku berputar ke sisi lain, berharap kamar tersebut memiliki jendela. Aku lalu melihat sebuah jendela yang sedikit terbuka, dan saat kuintip, aku sangat terkejut saat salah satu pria cebol itu menunjukkan sebuah dildo hitam berukuran besar kepada mama. Karena jendela kamar itu sedikit terbuka, aku bisa mendengar percakapan mereka.

"Wihh besar banget," ucap mama, "aku cobain sekarang nih?"

"Iyaa Ci," jawab pria cebol berbaju merah itu.

"Ohh yaa, bajunya dilepas aja yaa," ucap pria cebol berbaju coklat.

"Lahhh!? Harus bugil nih??" tanya mama dengan ekspresi terkejut.

"Iya dong, biar suasananya lebih menarik hahaha," jawab pria cebol berbaju coklat.

Aku nyaris tidak percaya dengan yang aku dengar, salah satu pria cebol itu meminta mamaku untuk telanjang di hadapan mereka. Di satu sisi, aku juga penasaran dengan tubuhnya mama. Meskipun mama telah berumur 38 tahun, tapi mamaku memiliki body yang kencang dan seksi. Kulitnya juga putih mulus karena kita keturunan chinese, dan mama juga memiliki wajah yang cantik dan awet muda. Aku mengamati dengan mata nanar saat mamaku mulai melepas pakaiannya satu per satu, dimulai dari kaos, celana jeans, kemudian BH dan CD hitamnya. Sekarang mamaku berdiri tanpa busana di hadapan ketiga pria itu. Penisku juga mulai ngaceng melihat mama kandungku telanjang. Pria cebol berbaju merah itu lalu menaruh dildo yang dia pegang di lantai.

"Nah, kamu naik turun di atasnya yaa," kata dia.

"Okee, tapi aku basahi dulu memekku yaa," kata mama.

Aku memandangi dengan mata terbelalak saat mama menusuk - nusuk vagina gundulnya dengan tiga jarinya dalam posisi berlutut. Ketiga pria cebol itu juga menatap dengan seksama. Tidak lama kemudian, mama mulai mengambil posisi seperti cewe yang mau WOT, kemudian mama memasukkan dildo besar itu ke dalam vaginanya secara perlahan. Dildo itu perlahan tenggelam ke dalam liang senggamnya mama, dan ketika sudah masuk semua, mama mendiamkannya sejenak, lalu dia mulai melakukan gerakan naik-turun. Ketiga pria cebol itu hanya tersenyum sembari duduk di lantai, menyaksikan pemandangan mesum yang ada di depan mereka. Mama mulai mengeluarkan suara desahan dari mulutnya yang seksi.

"Ohh yaa, kalian gak lepas baju aja?" tanya mama.

"Buat apa?" tanya pria cebol berbaju kuning.

"Biar makin hot aja hihihihi, akhhh nikmat banget ini," ucap mama.

Mereka bertiga mengiyakan permintaannya dan ketiga pria cebol itu melepas pakaian mereka sampai telanjang bulat. Aku bisa melihat penis mereka yang berukuran kecil tapi berurat dan gemuk. Mama mulai mempercepat gerakan naik-turun pinggulnya, dan hal tersebut membuat badannya jadi basah akibat berkeringat. Tidak lama kemudian, mama mengerang cukup keras.

"Wihh, udah mau orgasme yaa Ci?" tanya si pria cebol yang tadi mengenakan baju merah.

"Iyaa nih," sahut mama yang masih bergoyang dengan binal.

Mama kemudian menghentikan gerakannya, sepertinya beliau mendapatkan orgasme. Ketiga pria cebol itu bertepuk tangan dengan wajah riang.

"Istirahat dulu Ci," ucap pria cebol yang rambutnya agak gondrong itu.

Mama kemudian berdiri dan dia berbaring di ranjang yang ada di kamar itu. Dildo yang ada di lantai itu lalu diambil oleh si pria cebol dengan kepala botak, kemudian dua pria cebol lainnya mengambil sebuah alat aneh dengan sebuah tongkat logam terpasang secara horizontal. Si pria cebol botak memasang dildo yang dia pegang ke tongkat itu, dan rekannya menekan sebuah tombol yang membuat tongkat tersebut bergerak maju-mundur. Mereka lalu mengambil alat yang sama dan memposisikannya berhadapan dengan alat yang telah disiapkan tadi. Si pria cebol berambut agak gondrong itu memasang sebuah dildo di alat satunya, lalu dia menekan tombol di alat itu, yang membuatnya juga bergerak maju-mundur.

"Alatnya sudah siap Ci," kata si pria cebol berambut pendek.

"Okee," sahut mama dengan wajah senang.

Mama kemudian memposisikan dirinya menungging di lantai, lalu ketiga pria cebol itu memposisikan dildo yang terpasang di alat itu ke dekat liang vagina dan mulutnya mama. Dildo yang ada di belakang kemudian dimasukkan ke dalam vaginanya mama, sedangkan dildo yang ada di depan masuk ke dalam mulutnya mama. Dalam posisi tersebut, mama terlihat seperti sedang disetubuhi dari depan dan belakang, dan hal tersebut membuat penisku semakin ngaceng.

"Aku nyalakan yaa," kata si pria cebol berambut pendek.

Alat tersebut menyala dan mulai menyodok mulut dan vaginanya mama. Alat tersebut bergerak maju-mundur seperti piston kendaraan. Ketiga pria cebol itu mulai mengocok penis mereka menikmati pemandangan mesum yang ada di depan mereka.

"Kok bisa yaa mama melakukan hal seperti ini," batinku.

Beberapa menit kemudian, pria cebol yang berambut agak gondrong itu menyetop kedua alat itu. Mama terlihat bingung dengan apa yang dilakukan oleh si pria cebol itu. Mereka mencabut dildo - dildo yang ada di mulut dan vaginanya mama, kemudian menukar posisinya.

"Nah ini dildo habis keluar-masuk di dalam memekmu, sekarang kamu emutin yaa," kata si pria cebol berambut pendek.

Bukannya jijik, mama malah senyum - senyum seperti wanita binal. Mama membuka mulutnya, dan membiarkan dildo berwarna coklat yang berlumuran cairan kelaminnya itu, masuk ke dalam mulutnya. Sementara dildo yang satunya ditancapkan ujungnya ke dalam liang vaginanya mama. Ketiga pria berbadan cebol itu kemudian menyalakan kembali alat itu dan kedua dildo tersebut mulai bergerak maju-mundur di mulut dan vaginanya mama. Aku hanya bisa melongo melihat apa yang terjadi, padahal yang aku tau, mamaku adalah tipe wanita yang cukup konservatif, kenapa tiba - tiba jadi begini? Tidak berselang lama, tubuhnya mama terlihat bergetar, sepertinya dia mau orgasme.

"Mmmmppphhh ...," desah mama yang tertahan akibat mulutnya yang tersumpal dildo.

Ketiga pria cebol itu tertawa terkekeh saat melihat mama orgasme. Mereka bertiga kemudian menyetop alat itu, mencabutnya dari mulut dan vaginanya mama. Mama kemudian terduduk di lantai dengan vagina basahnya yang terlihat jelas di depan mataku.

"Okee, sekarang giliran kalian yaa hihihihi," ucap mama.

Ketiga pria cebol itu saling bertatapan, kemudian mereka mendorong mama sampai badannya rebah di lantai. Mereka bertiga menggerayangi tubuh seksi dan mulus mamaku, diikuti dengan menciumi wajah, leher dan payudaranya.

"Nih body sedep banget" kata si pria cebol berambut gondrong.

"Gak nyangka yaa kita bisa dapet cici binal kayak gini," ucap si pria cebol yang berkepala botak.

Mereka benar - benar tidak melewatkan setiap jengkal dari tubuh mulus mama kandungku. Kedua payudaranya diremas bergantian, lalu mereka bergantian mengulum kedua putingnya, diikuti dengan mengelapnya ketika ganti giliran. Penisku semakin ngaceng melihat pemandangan yang seharusnya tidak kulihat ini. Si pria cebol berambut pendek berpindah ke bawah, dimana dia mulai mengobel - ngobel vagina dan klitorisnya mama. Si pria cebol berambut gondrong mengarahkan penisnya ke mulutnya mama.

"Tolong emutin Ci," pintanya.

Mama membuka mulutnya dan melahap seluruh penisnya dengan wajah gembira. Di tempat lain, si pria cebol botak sedang menggesek - gesek penisnya diantara kedua payudaranya mama. Pria cebol satunya mengarahkan penis kecilnya ke liang senggamanya mama, dan dengan sekali dorongan, penisnya masuk semua ke dalam lubang kenikmatannya mama. Sungguh sebuah pemandangan yang sangat erotis, mamaku yang seksi, putih dan cantik sedang disenggamai oleh tiga pria cebol yang wajahnya tidak begitu ganteng. Baru beberapa menit dalam gaya missionary, mereka bertiga memposisikan mama menungging. Ketiga pria cebol itu juga bertukar posisi. Si pria cebol botak kali ini menggarap vaginanya mama, yang berambut gondrong berada di bawah mengulum dan mengenyot kedua payudaranya mama, dan yang satunya menyodok mulut mungil mamaku.

"Memeknya sempit banget," ucap si pria cebol botak.

"Mulutnya legit banget," ujar si pria cebol berambut pendek.

Tidak berselang lama, mama mengeram dan tubuhnya terlihat bergetar, sepertinya akan orgasme lagi. 

"Wihhh, orgasme lagi," ucap si pria cebol botak, "emang nih cici bener - bener binal hahahaha."

"Lanjut aja dah, keburu mau sore," kata si pria cebol berambut pendek.

Mereka meminta mama berdiri, kemudian si pria cebol berambut gondrong berbaring di lantai. Mama diminta untuk menduduki penisnya. Mama nurut dan dia memposisikan dirinya untuk melakukan gaya WOT. Dengan sekali dorongan, penis kecil tersebut masuk ke dalam liang senggamanya mama. Pria cebol berambut pendek mendorong punggungnya mama, lalu dia arahkan penisnya ke lubang anusnya mama. Pria cebol yang botak menjambak rambutnya mama, dan dia arahkan mulutnya mama ke penis imutnya. Aku melongo dengan penis mengacung super tegak saat menyaksikan mamaku di-triple penetration. Benar - benar pemandangan yang gila dan sangat erotis. Aku tidak percaya mamaku bisa - bisanya melakukan seks gangbang seperti itu, bahkan sekarang tengah menggoyang pinggulnya dengan erotis. Mereka bertiga bergantian menyodok setiap lubang di tubuhnya mama, dan aku bisa melihat dengan jelas mamaku sangat menikmati perbuatan mesum tersebut. Aku memutuskan pergi dari situ karena tidak sanggup lagi melihat mamaku sendiri digangbang ria oleh tiga pria cebol itu. Aku naiki motorku dan langsung menuju ke rumah dengan penis masih tegak. Sekitar jam 6 sore, mamaku baru tiba di rumah. Aku bisa melihat wajahnya yang terlihat begitu senang. Sepertinya mama digarap sampai 2 jam oleh mereka bertiga. 

"Kamu sudah makan?" tanya mama kepadaku.

Aku hanya menggelengkan kepala tanpa mengatakan sepatah kata pun. Aku tidak percaya mama bertingkah seolah tidak terjadi apa - apa dengannya. Aku sendiri jadi kepikiran, bagaimana mama bisa berakhir melakukan hal tersebut? Apakah mamaku dihipnotis, ataukah mama sendiri yang mengajukan dirinya untuk dientotin oleh mereka? Malamnya, aku malah bermimpi melihat mamaku tengah dientotin oleh ketiga pria cebol itu. Aku duduk di sebuah kursi di pinggir ruangan, sementara mamaku tengah bergoyang diatas salah satu dari pria cebol itu. Mulut, vagina dan anusnya digenjot bergantian oleh mereka, bahkan mama melirik ke arahku ketika dia membuka mulutnya, dan sebuah penis kecil masuk ke dalam mulutnya yang terbuka dengan ekspresi ceria. Kemudian, aku disuguhkan dengan adegan ketika salah satu dari mereka mencabut penisnya dari lubang pantatnya mama, lalu memasukkan penisnya ke mulutnya mama. Mama sama sekali tidak jijik mengulum penis yang baru saja keluar-masuk di anusnya. Tidak berselang lama, mereka bertiga menyemburkan sperma mereka ke tubuh seksi mamaku, dan dia terlihat sangat senang dan menjilati cairan sperma yang belepotan di tubuhnya. Kemudian, aku terbangun dari tidurku dan aku menengok sekitar.

"Mimpi macam apa itu," kataku.

Dua hari kemudian, mama mengatakan akan mengunjungi bu Simo dan aku diminta untuk jaga rumah. 

"Pasti mau ngentot sama tiga pria cebol itu lagi," kataku dalam hati.

Aku hanya bisa memandangi mobilnya mama perlahan menjauhi rumah, dan menuju ke tempat dimana dia akan digangbang lagi.

Tamat.

Kamis, 27 Juni 2024

Cerita Seks Dientot di Sebuah Desa

Weekend besok, aku diminta oleh managerku untuk mengecek sebuah tanah kosong milik nasabah kami yang ingin mengajukan kredit usaha. Sebelum lanjut, aku akan memperkenalkan diriku, namaku Michelle, bekerja di bank swasta sebagai marketing, umurku sekarang 40 tahun dengan suami dan tiga anak. Meski sudah kepala 4, suami dan kolegaku selalu memuji diriku yang memiliki tubuh seksi yang terawat, ukuran payudaraku yang besar (G-cup), dan wajah cantik yang selalu kujaga dengan sepenuh hati. Perjalananku besok sebenarnya cukup menyebalkan, karena tidak ada satupun dari rekan kerjaku yang bisa menemaniku, entah karena alasan berlibur, ada kerjaan dan yang paling absurd, alasan ngantuk.

"Pah, mau nemenin mama gak besok buat survey?" tanyaku kepada suamiku.

"Maaf mah, besok papa mau istirahat, capek hehehe," jawab dia.

"Halah ... capek lagi, capek lagi," ucapku dengan kesal.

Aku masih bimbang apakah akan pergi sendiri atau mengajak kenalan menemaniku, mengingat aku belum pernah kesana dan kata teman sekantorku, desa tersebut agak - agak gimana gitu. Saat tengah melamun di ruang keluarga, anak pertamaku datang kesini untuk sekedar mengambil bukunya yang tertinggal di meja. Seketika aku mendapatkan ide untuk mengajaknya.

"Eh Stev, kamu besok lowong gak?" tanyaku kepada anakku yang bernama Steven.

"Lowong, emang mau ngapain? Shopping?" tanya balik anakku.

"Temenin mama survey tempat buat jaminan nasabah yaa," kataku.

"Hahh!! Survey pas hari sabtu? Serius?" Steve kaget mendengar ucapanku.

"Iyaa, mau nemenin mama gak?" tanyaku lagi.

Steven terlihat berpikir sejenak, dan akhirnya dia mengangguk, cukup untuk membuatku merasa lega ada yang menemaniku. Besoknya, aku segera bersiap untuk pergi, dan karena aku survey di hari sabtu, aku hanya memakai pakaian biasa, kaos warna biru langit dan celana jeans warna biru tua.

"Stev! Ayo!" seruku dari balik pintu kamarnya.

"Iyaaa," balas Steven.

Setelah siap, kita segera menuju ke mobil dan Steve mendapatkan kehormatan untuk menyetir, mengingat dia sudah berumur 20 tahun dan juga sudah punya SIM A. Di tengah perjalanan, Steven menanyaiku mengenai kenapa aku sendirian dan tidak ditemani teman sekantorku.

"Mereka pada gak bisa dengan berbagai alasan," ujarku.

"Paling mereka pada males - malesan, kan ini weekend," celetuk anakku.

Apa yang dikatakan anakku ada benarnya, tapi percuma kalo memikirkan hal seperti itu, lagian aku bakal dapat bonus dari hasil survey ini nanti. Sepanjang perjalanan terasa sedikit membosankan, kiri dan kananku hanyalah sawah, jalanan juga cenderung sepi karena kita mengarah ke pedesaan.

"Mah, itu nasabah tinggal di kota dan kebetulan punya tanah di desa?" tanya anakku.

Aku menoleh kepadanya. "Iyaa, dan mau dia pakai sebagai jaminan."

Anakku hanya mengangguk saja. Sekitar satu jam kemudian, kita akhirnya tiba di lokasi tujuan, desa tersebut terlihat begitu sepi. Aku mengarahkan Steven sesuai dengan denah yang dikirim oleh rekan kerjaku.

"Kayaknya ini deh," kataku.

Steven memarkirkan mobil di pinggir jalan, dekat dengan sebuah warung makan. Aku segera keluar dan mencoba menghubungi si nasabah.

"Halo Pak, saya sudah sampai di depan lokasi," kataku.

Dia mengiyakan dan memintaku untuk menunggu sebentar. Saat aku mututup panggilan, kulihat anakku malah sedang nongkrong di warung dekat situ. Aku lalu menghampirinya.

"Kamu malah asik nongkrong disini," kataku sambil mencolek dia.

"Biar gak bosen, lagian paling mama nanti sibuk sendiri sama si nasabah itu," ucapnya.

Ada benernya sih yang dia omongin. Sembari menunggu, aku ikutan duduk - duduk di warung yang gak ada satupun pelanggan itu. Tidak berapa lama, nasabah yang aku tunggu - tunggu akhirnya tiba, aku segera beranjak dan menghampirinya.

"Halo Pak, saya Michelle dari Bank xxxx, dan hari ini saya mau survey." Aku memperkenalkan diriku.

"Halo Bu, saya Amir. Bisa di-survey sekarang?" tanya dia.

"Bisa," sahutku.

Aku lalu menoleh ke belakang untuk pamitan sama anakku. "Stev, mama survey dulu yaa, kamu disitu dulu atau kalo mau jalan - jalan keliling desa."

"Yaaa," serunya.

"Ohh, sama anaknya yaa?" tanya Amir dengan senyum lebar.

"Iya hehehe," kataku.

Selama aku mengamati lokasi tanah miliknya, kita mengobrol basa - basi agar suasana tidak hening. Dia terkejut mengetahui aku sudah berumur 40 tahun dan memiliki tiga orang anak.

"Aku kira masih tiga puluh awal hehehe," katanya.

"Bisa aja nih Bapak," balasku.

"Gak nyangka lhoo, kepala 4, tiga anak, tapi punya fisik yang bagus gini," katanya memuji diriku.

Aku hanya tersenyum saja. Basa - basi kita sudahi dan sekarang aku mulai melakukan wawancara kepadanya untuk tahu lebih dalam mengenai tujuan dia mengajukan pinjaman dan siapa yang tertulis di Surat tanahnya. Sebelum lanjut lebih jauh, Pak Amir mengajakku ke rumah temannya dengan alasan lebih nyaman aja buat mengobrol, aku menurutinya saja. Rumah temannya cukup jauh dari tempat dimana mobilku diparkir. Sesampai disana, kulihat rumah tersebut terlihat sederhana.

"Yuk masuk dulu," kata Pak Amir dengan sopan.

Aku diminta duduk di ruang tamu, sementara dia masuk begitu saja ke dalam. Tidak berapa lama, dia kembali membawakan segelas teh dan juga seorang pria lain turut bersama dengannya, sepertinya teman yang Pak Amir maksud.

"Ini teman saya, namanya Dodi," kata Pak Amir.

Aku lalu memperkenalkan diriku kepadanya, yang sepertinya menatap dalam diriku. Aku lanjut mewawancarainya untuk mendapatkan lebih banyak informasi yang nantinya akan digunakan untuk pertimbangan apakah dia layak mendapatkan pinjaman. 15 menit lamanya aku meng-interview Pak Amir, setelah itu kita mengobrol sejenak. 

"Oh yaa Bu, kamu kenal Mbak Joyce gak?" tanya Dodi.

"Kenal dong, kan dia sama - sama marketing kayak aku," jawabku.

"Dia pernah kesini, dan kebetulan dia juga mampir kemari," kata Dodi.

"Iyakah?? Wawancara juga?" tanyaku.

"Endak, tapi ... hal yang lain," ucap Dodi dengan senyum menyeringai.

"Maksudnya?" Aku bingung dengannya.

Dodi mendekatiku dengan duduk di sampingku, dia membuka HP-nya lalu menunjukkan kepada sebuah video. Aku terkejut sekali menyaksikan video yang ditunjukkan oleh pria yang sepertinya lebih muda dariku itu.

"Ehh ... bukankah itu ... Joyce?" Aku menatap video tersebut dengan perasaan campur aduk.

Video yang Dodi tunjukkan adalah video seks Joyce yang tengah disetubuhi oleh Dodi dan Pak Amir, tubuh seksinya berlenggak - lenggok diatas selangkangannya Pak Amir, sementara Dodi asik bercumbu dengan rekan kerjaku yang cantik dan seksi itu.

Aku menatap Dodi dengan rasa tidak percaya. "Kok bisa??"

Dodi tersenyum lebar ke arahku. "Bisa dong, kan dia cewe binal, dan dia yang sengaja bikin rencana supaya kamu kesini sendirian hehehehe."

Kaget aku mendengarnya, jadi rekan - rekan marketingku tidak bisa menemaniku karena mereka memang sengaja merencanakannya, agar aku datang sendirian kesini.

"Lalu kenapa Joyce ingin aku datang kesini sendiriam?" tanyaku dengan gemetar.

Dodi merangkul bahuku dan menatap mataku dengan tatapan mesum. "Supaya bisa kita entot."

"Hahh!!!" Aku tidak percaya dengan yang aku dengar.

"Mau nambahin, dia gak sendirian datang kesini, dia datang sama anaknya," kata Pak Amir menyela obrolan kita.

"Wow ... itu makin bagus hehehe," sahut Dodi.

"Bentar - bentar ... aku sudah punya suami dan tiga anak, kalian mending sama yang lebih muda aja, aku gini - gini sudah tua lhoo." Aku mencoba meyakinkan mereka agar tidak menyentuhku.

Dodi semakin erat merangkulku. "Itu jauh lebih baik Bu, oh yaa kalo boleh tau, umurnya Ibu berapa?"

"Ummm ... 40," ucapku.

Dodi malah semakin kegirangan. "40 itu masih muda sayang, ditambah kapan lagi bisa ngentotin wanita seksi dan cantik yang sudah punya suami dan anak."

Ini orang kayaknya agak kelainan deh. Meski begitu, entah kenapa aku sedikit senang dipuji seperti itu, yang menandakan kalau aku masih menarik di mata pria. Pak Amir tiba - tiba duduk di sampingku, membuatku diapit oleh mereka berdua.

"Kamu harusnya bangga kalo ada pria yang sange sama kamu," kata Pak Amir.

"Hehehehe." Aku cuma bisa ketawa kecil aja.

"Daripada jadi canggung, gimana kalo kita nonton beberapa video yang dibintangi mbak Joyce dulu?" usul Dodi.

Dodi kembali membuka video seks dari Joyce dan memintaku nonton bersama dengan dia dan Pak Amir. Awalnya aku gak begitu minat, tapi suara desahan erotis dari teman kerjaku itu membuat aku jadi penasaran, dan aku berakhir nonton bareng sama kedua pria yang baru aku kenal itu. Video seks-nya Joyce hanya berdurasi 15 menit dan entah kenapa aku malah kecewa.

"Yahh, kok sebentar," keluhku.

"Hehehehe, masih ada satu lagi kok," ucap Dodi.

Dia memutarkan video lainnya, bintangnya juga Joyce, tapi kali ini dia melawan 5 pria, Pak Amir dan Dodi juga ada disitu. Video tersebut berdurasi 35 menit dan cukup membuatku panas-dingin.

"Ya ampun," kataku sambil menutup mulutku dengan kedua tanganku.

"Bagus kan?" Dodi kembali merangkul pundakku. "Dia aja keenakan lhoo, yakin deh Ibu pasti juga suka."

"Ummm ... gimana kalo gak pake kata Ibu? Terlalu formal deh," kataku.

"Hehehe ... tante aja yaa, biar makin sensual," ucap Pak Amir.

Aku tersenyum sambil mengangguk. Tangan Pak Amir mulai meraba - raba pahaku, sementara tangan Dodi menggerayangi punggungku.

"Kamu seksi banget tante," bisik Pak Amir.

Aku menatapnya dengan senyum erotis. "Bisa aja kamu Pak hihihi."

Di sisi satunya, Dodi mulai mendekatkan hidungnya ke leherku yang mulus. "Wangi banget deh tante satu ini."

Mereka berdua perlahan mulai menciumi pipi dan daguku, hembusan nafas mereka membuatku kian terbuai. Aku seketika lupa kalau diriku adalah seorang istri dan mama, aku sepenuhnya menjadi seorang wanita yang ingin merasakan kenikmatan seks.

"Kaosnya dilepas aja yaa," pinta Dodi.

Aku menuruti keinginannya dan kulepas kaosku yang berwarna biru langit. Aku memamerkan tubuh bagian atasku yang tertutup BH hitam.

"Toketnya besar dan kenceng," ucap Pak Amir seraya meremas - remasnya.

"Bener ... toketnya jos." Dodi juga turut meremas payudaraku yang satunya.

Baru sebentar mereka memainkan dadaku, Dodi menghentikan aksinya. "Bentar, aku harus manggil yang lain dulu hehehe."

"Boleh itu. Oh yaa, kita ke lantai 2 yuk, kalo disini nanti kita bisa kepergok," kata Pak Amir sembari menarik tanganku.

Aku nurut aja diajak oleh nasabahku itu. Aku dibawa ke kamar kosong yang ada di lantai 2, dia lalu memintaku menata kardus di lantai yang akan dipakai untuk menyetubuhiku, aku mantuk - mantuk aja dan segera mengambil kardus yang ada di ruang sebelah.

"Oh yaa, anakmu ditelpon dulu sana, bilang kalo survey-nya masih agak lama," perintah Pak Amir kepadaku.

Aku segera membuka HP dan menelpon anakku, dia bertanya aku dimana, dan kujawab masih ada kerjaan dan mungkin masih agak lama, jadi aku memintanya mampir di warung untuk menghabiskan waktu.

"Sip!! Sekarang tunggu yang lain dulu yaa," kata Pak Amir memuji diriku.

Sekitar 5 menit kemudian, Dodi datang bersama dengan 3 pria, aku terkejut melihat mereka yang menatapku secara buas.

"Gak usah tegang begitu tante, santai aja," kata Pak Amir sembari mengelus - elus kepalaku.

"Gila, seksi banget nih cewe, gak percaya kau kalo dia umur 40," kata salah satu pria itu.

"Hey! Kalian perkenalkan diri dulu sebelum ngentot," perintah Dodi.

Mereka satu per satu mulai memperkenalkan diri, dimulai dari yang berkomentar di awal, namanya Joko, lalu seorang pemuda berbadan kurus yang bernama Cepy, dan yang terakhir bernama Angga. Aku juga turut memperkenalkan diriku dan mereka semua menunjukkan gestur sopan kepadaku.

"Nah sekarang tante lepas celananya dong, pengen liat tante cuma make pakaian dalam aja," kata Dodi.

Bagai kerbau yang dicucuk, aku menurut saja diperintah oleh Dodi, kuturunkan celana jeans-ku secara perlahan, dan sekarang aku berdiri di hadapan mereka dengan hanya berbalut BH dan CD hitam.

"Makin seksi aja nih si tante," ujar Joko.

"Perutnya masih kencang juga tuh," celetuk Cepy.

Mereka berlima segera melepas seluruh pakaian mereka, menampakkan tubuh telanjang mereka dengan kulit sawo matang, kontras dengan diriku yang memiliki kulit putih cerah. Perhatianku lalu tertuju kepada batang kemaluan mereka yang perlahan berdiri tegak dengan gagah perkasa.

"Gila, aku bakal disetubuhi dengan batang - batang besar itu??" kataku dalam hati.

"Tante cantik, sekarang kamu pilih mau mainin kontol yang mana dulu," kata Dodi.

Tanpa pikir panjang, aku memilih Pak Amir terlebih dahulu. Aku berjalan ke arahnya, lalu berlutut di depannya, dan penisnya segera kugenggam, gila keras juga. Aku kocok secara perlahan dan kulihat Pak Amir memejamkan matanya menikmati kocokanku, sementara yang lainnya berdiri menonton diriku men-servis pria yang bukan suamiku itu.

"Masukin ke mulut dong, tante," pinta Pak Amir.

Aku menatap penisnya Pak Amir dengan gugup, kujulurkan lidahku ke kepala penis besar itu, dan mulai kujilat. Setelahnya, kubuka mulutku dan perlahan aku masukkan sepertiganya. Agak sulit mengoral penisnya Pak Amir karena ukurannya yang besar, aku juga mulai melakukan gerakan maju-mundur, dan mendapatkan sorakan dari keempat pria lainnya. Baru sebentar kuoral, Pak Amir menghentikanku dan memintaku berdiri.

"Mulut tante enak banget, hampir aja aku keluar," kata PAk Amir.

"Hehehe, makasih," kataku.

Dodi kembali merangkul diriku. "Jadi gini sayang, kita sepakat ngentotin tante sampe kita dua kali keluar, dan sebelumnya, ini tante lagi masa subur gak? kalo lagi masa subur, kita bakal pake kondom plus keluar di luar buat jaga - jaga."

Kalau kupikir - pikir, Dodi ini ramah juga. Aku mengatakan kalo aku sedang tidak dalam masa subur, jadi mereka aman ngeseks tanpa kondom. 

"Sekarang, dilepas tuh pakaian dalamnya," kata Dodi.

Aku melepas pakaian dalamku secara perlahan, dimulai dari BH, lalu lanjut ke CD-ku, tidak ketinggalan mata dari kelima lelaki tersebut menatapku dengan seksama. Aku menjadi orang terakhir yang telanjang bulat di kamar ini.

"Gile ... umur 40 tapi badan gadis perawan," puji Cepy.

"Dapet jackpot kita hari ini," kata Pak Amir.

"Toketnya gak kendor sama sekali, udah gitu gak ada jembut pula memeknya," puji Angga.

"Yok Dod, berikutnya gimana?" tanya Joko.

Dodi memintaku berbaring di lembaran kardus, aku menurut dan berbaring disitu. Kelima pria mesum itu segera meraba tubuh mulus seksiku ini, sentuhan tangan mereka yang kasar membuatku kian horny.

"Ehh, ini sapa yang mau nyobain toketnya?" tanya Dodi.

Kulihat Angga dan Cepy mengangkat tangan mereka, Dodi langsung memberikan lampu hijau untuk mereka dan segera kedua pria itu mengenyot payudaraku dengan tangan dan lanjut mengemutnya seperti bayi.

"Ehh Mir, ambilin tisu dong," suruh Dodi kepada Pak Amir.

"Emang mau buat apaan?" tanya Joko sembari meraba - raba pahaku.

"Buat bersihin toketnya kalo misal mau ada yang kenyot," kata Dodi.

"Lahh, sampe segitunya," timpal Joko.

"Jijik anjirr ada bekas ludah orang lain," balas Dodi dengan ketus.

Pak Amir kembali ke dalam dengan membawakan tisu, dia langsung duduk di sampingku, menaikkan tanganku ke atas kepalaku, dan mulai menciumi ketiakku yang mulus.

"Ni toket udah empuk, kenceng, enak pula," puji Cepy sambil meremas payudara kananku.

"Akkhh ... nyedotnya jangan keras - keras dong," kataku kepada Angga.

"Hehehe, habisnya enak banget ini puting," ucap Angga yang lanjut memainkan payudara kiriku.

Kemudian, aku merasakan ada yang menyentuh vaginaku, saat kutengok, rupanya Dodi yang mulai meraba - raba vaginaku yang terawat.

"Memeknya halus banget ini hehehe. Gak nyangka ini lubang udah ngeluarin tiga anak," ujar Dodi.

Dodi lanjut memasukkan dua jarinya ke dalam liang senggamaku, sementara Joko memainkan klitorisku, yang membuat diriku mulai mendesah. Cepy dan Angga menyudahi permainan tangan dan mulut mereka di payudaraku, dan mereka berdua mengelap dadaku dengan tisu agar bersih dari air liur kedua pria itu. Angga berjalan mendekat ke kepalaku dan dia menyodorkan penisnya kepadaku.

"Diemut dong tante," pinta Angga.

Aku mengabulkan keinginannya dan segera kukulum penisnya yang berurat itu. Pak Amir mengangkangi dadaku, dia meletakkan penisnya diantara kedua payudaraku, kemudian menjepitnya dan mulai memaju-mundurkan.

"Jepitan toketnya mantep cuyy," seru Pak Amir.

"Tante cantik, nama anakmu yang nemenin kamu sini sapa yaa?" tanya Dodi.

Aku mencabut penisnya Angga dari mulutku. "Steven, kenapa yaa?"

Baru saja selesai bicara, Angga langsung menyodokkan kembali penisnya ke mulutku. Dodi mencabut dua jarinya dari vaginaku, dan kurasakan sekarang tiga jari yang mengobok - obok vaginaku.

"Ini memek rapet banget deh," kata Dodi.

"Jadi gak sabar aku nyicipin memek tante tiga anak," celetuk Cepy.

"Oyy Steven, mamamu aku entot yaa," seru Dodi.

Kurasakan kepala penisnya Dodi menyentuh bibir vaginaku. Perlahan penisnya mulai masuk ke dalam liang senggamaku, membuat liang kenikmatan penuh sesak.

"Gilee ... rapet banget," ujar Dodi.

"Mmmmppphhhh." Aku hanya bisa mengeram saja akibat disumpal penisnya Angga.

Perlahan tapi pasti, seluruh penisnya masuk ke dalam liang senggamaku. Tidak habis pikir kenapa aku membiarkan pria bukan suamiku mengisi vaginaku yang bersih dan terawat. Dodi segara melakukan gerakan maju-mundur dengan tempo sedang.

"Akhirnya aku ngentotin tante - tante seksi," ceracau Dodi.

"Habis ini aku oyy," ucap Cepy.

"Beres hehehe," sahut Dodi.

Kalo boleh jujur, aku belum pernah mengalami kenikmatan seks seperti ini, tubuh telanjangku yang terbaring di atas lembaran kardus tengah digarap oleh tiga pria. Angga menggenjot mulutku, Pak Amir menggesek - gesek penisnya di belahan dadaku, dan Dodi menyodok vaginaku. 5 menit kemudian, Dodi mencabut penisnya.

"Tuh sono kalo mau nyoba memeknya," kata Dodi.

"Siap bos-ku," ucap Cepy.

Kali ini penisnya Cepy yang mengisi liang senggamaku. Angga mencabut penisnya dari mulutku, dan Joko langsung menyorongkan penisnya ke dalam mulutku, mereka tidak membiarkan mulutku untuk paling tidak beristirahat sejenak. Setelah Cepy, giliran Pak Amir yang menyetubuhiku, dan kali ini Dodi yang menjepitkan penisnya diantara belahan dada besarku.

"Gimana, enak gak di gangbang kita berlima?" tanya Dodi.

Aku hanya bisa mengangguk dengan pasrah sambil menikmati pesta seks ilegal ini. Mereka semua mengambil giliran untuk bisa merasakan vaginaku, dan setelah semua mendapatkan kesempatan, Dodi meminta untuk menungging.

"Cep, kamu ke dapur, ambil kaleng yang udah aku siapin yaa," kata Dodi.

"Mau ngentotin aku dari belakang yaa," kataku dengan nada menggoda.

"Hehehehe." Dodi hanya tertawa kecil saja.

Aku baru menyadari kalo sedari tadi aku maupun mereka belum ada yang satupun yang orgasme, apakah ini rencana dari Dodi juga. Cepy kembali ke dalam dengan membawa sebuah kaleng berukuran sedang.

"Nah, sekarang kita masuk ke ronde kedua, ini adalah ronde kita bakal main sampe puas, dan aku mau mencoba sesuatu yang nikmat hehehe," kata Dodi.

Dodi menuangkan sebuah cairan dari kaleng itu ke atas pungggungku.

"Itu cairan apa yaa?" tanyaku.

"Minyak goreng bekas hehehe," jawab Dodi.

Aku kaget ketika mendengarnya, dia menuangkan lalu mengolesi tubuhku dengan minyak goreng bekas, keempat pria lainnya juga ikut mengolesi tubuh putih mulusku dengan minyak dari kaleng itu.

"Wihh jadi mengkilat coy," kata Pak Amir.

"Makin seksi nih tante binal," kata Cepy.

"Yuk ambil posisi, ingat ... dua kali yaa, kalo lebih, aku potong kontol kalian hahaha," kata Dodi.

"Serem juga peringatannya si Dodi," kataku dalam hati.

Pak Amir berdiri di belakangku, dia meremas - remas pantat montokku yang licin akibat minyak, kemudian dia menempelkan kepala penisnya di bibir vaginaku dan langsung dia sodokkan sampai mentok semua, sementara Dodi memintaku untuk mengoralnya. Pak Amir menggenjotku dengan cepat, membuat payudaraku bergoyang hebat. Cepy, Angga dan Joko sibuk menggesek - gesekkan penis mereka di punggungku yang mengkilat dan licin karena minyak. 

"Gila, ini memek malah makin rapet, aku jadi gak tahan nih," ceracau Pak Amir.

Hanya dalam hitungan 3 menit, Pak Amir orgasme dan memuntahkan spermanya ke dalam rahimku. Cepy segera menggantikan Pak Amir dan dia langsung menusuk vaginaku yang sudah basah kuyup, dan momen ketika penisnya Cepy masuk semua ke dalam liang senggamaku, aku mendapatkan orgasme pertamaku.

"Kok jadi anget kontolku? Wahh tante orgasme yaa," kata Cepy sembari menampar pantatku.

"Akhirnya orgasme juga si tante seksi ini," ucap Angga sambil meremas payudaraku.

Tidak lama kemudian, Dodi mencabut penisnya dari mulutku dan dia semburkan spermanya ke wajah cantikku. Angga dengan sigap menggantikan Dodi dan dia menyodokkan penisnya ke mulutku. Mungkin baru 7 menit Cepy menyetubuhiku, dia sudah muncrat dan rahimku kembali diisi cairan sperma milik pria asing.

"Ganti gaya yuk," kata Joko.

Angga mencabut penisnya dari mulutku, Joko lalu memintaku berdiri, dia berbaring di atas lembaran kardus, kemudian memintaku menunggangi penisnya. Aku menurunkan pantatku perlahan, kuarahkan penis besarnya yang telag mengacung tegak ke lubang vaginaku, dan batang besar itu masuk dengan mudah ke dalam liang kenikmatanku.

"Gilee, masih sempit aja nih memek, padahal udah dientotin banyak kontol," ceracau Joko.

Aku mulai menggoyang pinggulku dengan lemah gemulai, desahan halus keluar dari mulutku. Dodi kemudian menghampiriku sambil meremas pantatku.

"Tante cantik, boolnya udah pernah dientot belum?" tanya Dodi.

Aku sedikit terbelalak mendengar pertanyaannya. "Belum pernah ... bentar, kamu mau masukin kesitu?"

Dodi mengangguk dengan senyum lebar. Aku menolaknya karena aku belum pernah anal sex dengan suamiku, tapi Dodi meyakinkan kalo ini tidak akan menyakitkan, melainkan nikmat.

"Santai aja tante, aku lumasi dengan minyak, biar licin," kata Dodi.

Dodi memasukkan satu jarinya yang berlumuran minyak ke dalam lubang pantatku. Dia menyodok - nyodokkan jarinya secara perlahan, aku sendiri malah mulai menikmatinya. Dodi kemudian mencabut jarinya, dia mendorong punggungku sampai aku berbaring telungkup di atas badannya Joko. Batang penisnya menempel di liang analku, dan dia mendorongnya secara perlahan masuk ke dalam lubang pantatku yang masih perawan.

"Akhhh!! Sakit!" jeritku.

Rasanya sakit saat benda besar dan keras milik Dodi menyeruak masuk makin dalam ke anusku. Tanpa kusadari, penisnya sudah masuk semua ke dalam pantatku. Dengan perlahan Dodi memaju-mundurkan penisnya di lubang anusku.

"Mantap banget njing, tante - tante dientot kedua lubangnya," ucap Angga.

Ini pertama kalinya aku merasakan Double Penetration, rasanya sungguh bikin melayang, hingga aku kembali mendapatkan orgasmeku, aku mendesah begitu keras menikmati orgasme keduaku.

"Mulutnya nganggur kan? Sini aku masukin kontol aja," kata Pak Amir.

Sekarang semua lubang di tubuhku telah terisi penis, aku benar - benar menjadi pelacur binal. Joko menghentikan genjotannya karena sudah orgasme, Dodi dan Pak Amir mencabut penisnya, kemudian Angga berbaring di lembaran kardus, aku masukkan ke dalam vaginaku, dilanjutkan dengan Dodi dan Pak Amir yang kembali menyarangkan penis mereka di pantat dan mulutku. Digenjot dari tiga arah membuatku kembali orgasme, sungguh kenikmatan luar biasa di gangbang seperti ini.

"Nih tante binal udah keenakan deh," kata Dodi sembari menampar pantatku. 

"Sialan aku mau keluar." Pak Amir mencabut penisnya dari mulutku.

Pak Amir meminta Dodi untuk mencabut penisnya dari pantatku, dia menurut saja dan kurasakan sebuah penis masuk ke dalam liang analku, sepertinya milik Pak Amir.

"Nih makan pejuku," seru Pak Amir yang mendorong penisnya makin dalam ke lubang anusku.

Anusku terasa hangat akibat semburan sperma dari Pak Amir. Dodi lalu meminta yang lain berhenti dan dia usul ganti gaya lagi. Dodi kali ini yang berbaring, aku lalu diminta memasukkan penisnya ke anusku dengan posisi membelakanginya. Setelah penisnya masuk semua ke liang anusku, dia menarik rambut panjangku, membuatku berbaring diatasnya, Angga menyodokkan penisnya ke dalam vaginaku, Cepy menjepitkan penisnya di antara dua gunung kembarku, dan Joko menjejalkan penisnya ke dalam mulutku. Posisi ini membuat diriku bisa digarap oleh empat pria. Aku hanya bisa pasrah menikmati digarap serta digilir oleh mereka berempat dan aku berada di posisi ini sampai selesai.

"Mantep banget cuy, puas aku," kata Angga.

"Gak kalah sama mbak Joyce," ucap Joko.

Aku terbaring di lembaran kardus dengan nafas terengah - engah. Vagina dan pantatku terasa basah akibat sperma, mulutku pegal akibat dijejali penis terus. Mereka kemudian menggotongku menuju ke kamar mandi, aku lalu diceburkan ke dalam bak yang penuh dengan air dan mereka memandikanku untuk menghilangkan minyak yang masih menempel di tubuhku.

"Makasih yaa tante udah mau ngentot dengan kita," kata Dodi.

Aku hanya bisa tersenyum saja saking lelahnya. Mereka lalu menyabuniku dan membasuhku sampai badanku bersih. Aku lalu dibawa ke kamar yang tadi dan kukenakan kembali pakaianku, diikuti oleh mereka.

"Mulut, memek dan bool tante memang yang terbaik," puji Cepy sambil mengacungkan jempolnya.

"Bener itu, terutama boolnya, sempit banget, sampe aku keluar cepet," ucap Angga.

"Ngomong - ngomong, kreditku gimana yaa?" tanya Pak Amir.

"Besok saya hubungi yaa," jawabku.

Aku lalu berpamitan dengan mereka berempat, dan sebelum pergi mereka menampar pantatku bergiliran. Aku segera bergegas menghampiri Steven yang sudah pasti bakal ngomel - ngomel karena menungguku.

"Mama lama banget sih, bosen tau aku menunggu," kata Steven dengan sewot.

"Hehehe, maaf yaa, mama sibuk survey sama ngurus dokumen - dokumen," kataku berbohong kepadanya.

Kami pun segera tancap gas menuju ke rumah. Di sepanjang perjalanan, aku lebih banyak melamun memikirkan apa yang kuperbuat tadi. Tidak kusangka aku bakal melakukan seks gangbang dengan pria yang tidak kukenal, dan parahnya aku malah menikmatinya. Hari senin, aku langsung menghampiri Joyce dan menginterogasinya di kamar mandi. Dia ternyata sengaja membuat rencana agar aku juga turut merasakan seks gangbang seperti yang dia rasakan.

"Kamu gila apa!! Aku udah punya suami dan anak tau!!" kataku dengan sedikit kesal.

"Tapi kamu menikmatinya kan?? Pak Amir juga bilang begitu hehehe," balas Joyce dengan senyuman genit.

Aku seketika terdiam, memang sih aku menikmatinya, tapi tetap saja itu salah. Setelah melalui rapat, permohonan pinjaman kredit dari Pak Amir disetujui, dan Joyce yang kusuruh untuk menghubunginya. Malamnya, aku mendapatkan notifikasi WA dari Pak Amir. Dia mengundangku masuk ke sebuah grup WA, aku entah kenapa malah menerima undangannya. Grup WA tersebut beranggotakan 7 orang termasuk aku. Dua buah pesan lalu masuk di grup.

"Bu Michelle, kapan - kapan kesini bareng yuk hehehe." Pesan tersebut ditulis oleh Joyce.

"Tante, kita menunggumu lhoo, kangen sama tubuh seksimu hehehe." Isi pesan dari Dodi.

Aku geleng - geleng menatap dua pesan teks itu, aku sendiri bingung apa yang harus aku lakukan, dan di satu sisi, vaginaku mulai berkedut - kedut.

Tamat.

Jumat, 21 Juni 2024

Cerita Seks Boneka Teddy Bear yang Aneh part 3

POV mama

Gak terasa hari itu akhirnya tiba, boneka teddy putih pesananku telah tiba. Aku begitu girang saat membawanya ke rumah, dan anakku hanya melongo saja saat melihat mamanya beli boneka baru. Di dalam kamar, aku letakkan boneka teddy baruku ini di samping boneka teddy pertamaku.

"Nah kalian saling kenalan yaa," kataku, "nanti malam kita pesta hihihi."

Aku berjalan keluar dari kamar untuk lanjut pergi karena sudah ada janji dengan teman - temanku. Aku baru balik ke rumah jam 6 sore. 

"Halo Glenn, mama bawain makanan nih buat makan malam," kataku kepada anakku yang sedang asik HP-an di ruang keluarga.

"Yaa," sahutnya.

Kami berdua lalu makan bersama diiringi dengan mengobrolkan hal - hal ringan. Selesai makan, Glenn berjalan menuju ke kamarnya, sementara aku masih di dapur untuk bersih - bersih alat makan. Selesai di dapur, aku lanjut mengecek sekitar rumah, lalu aku merebahkan badanku di atas sofa ruang keluarga.

"Nonton TV dulu deh, sebelum pesta malam nanti hihihihi," kataku dalam hati.

Baru 3 menit-an nonton TV, aku sudah merasa bosan. Acara hari ini jelek - jelek, jadi kuputuskan langsung ke kamar.

"Halo para teddy kesayanganku," sapaku kepada dua boneka teddy yang telah menungguku dengan penis mengacung.

Aku mendatangi mereka seraya melepas satu per satu pakaianku sampai telanjang bulat. Aku lalu berlutut di depan mereka yang duduk di pinggir ranjang, kemudian aku meraba dan menjilati penis mereka yang lembut. Puas meraba dan menjilat, aku mulai mengulum penis mereka berdua dengan wajah mesum. Vaginaku terasa mulai becek, padahal belum tersentuh sama sekali. Aku lalu bangkit dan berbaring di kasur, dan kedua boneka teddy langsung menggerayangi tubuh seksiku. Si teddy coklat meraba - raba area selangkanganku, dan si teddy putih mengelus - elus perut dan payudaraku.

"Ohh yeah, terusin say ...," lenguhku.

Rasanya nikmat sekali diraba - raba oleh dua boneka sekaligus. Si teddy coklat lalu melebarkan kedua pahaku dan memposisikan penisnya tepat di depan liang senggamaku. Dengan dorongan yang perlahan, penis besar itu menerobos lubang kenikmatanku. Di saat yang bersamaan, si teddy putih menyodorkan penisnya ke mulutku. Dalam posisi terbaring, kedua lubangku digenjot oleh dua boneka teddy. Belum pernah aku merasakan kenikmatan seperti ini. Belum ada 5 menit, si teddy coklat membalik tubuhku dan memposisikan diriku menungging. Si teddy putih berdiri di depanku dan menyodok mulutku, sedangkan si teddy coklat lanjut menggenjot vaginaku dari belakang. Hanya dalam waktu 6 menit, aku sudah orgasme dua kali. Mereka kemudian berhenti menggenjotku, lalu badanku digeser ke samping. Si teddy putih kemudian berbaring di sampingku, dan memberikan gestur kepadaku untuk menduduki penisnya. Aku beranjak dan dengan gaya binal, mengelus penisnya, kemudian mengangkangi selangkangannya, lanjut aku turunkan pantatku secara perlahan. Penis si teddy putih dengan mudahnya masuk ke dalam lubang vaginaku. Dari belakang, si teddy coklat mendorong punggungku, lalu dia sedikit membuka belahan pantatku. Kemudian, aku rasakan sebuah benda lembut menyentuh lubang anus, dan dengan sedikit dorongan, penis si teddy coklat menyeruak masuk ke dalam anusku. Rasanya sulit untuk dijelaskan saat kedua lubangku dijejali oleh dua penis besar. Kedua teddy itu mulai menyodokku secara perlahan.

"Ohhh shittt ... yang kenceng sayy ...," lenguhku menikmati sebuah kenikmatan yang belum pernah aku rasakan dalam hidupku.

Penis kedua boneka itu keluar-masuk di vagina dan anusku bagaikan piston mesin mobil. Tanpa terasa, kasurku sampai basah kuyup akibat cairan orgasmeku yang meluber keluar dari vaginaku. Setelah cukup lama, aku menatap ke arah jam dinding, dan betapa terkejutnya diriku saat melihat jam. Tidak kusangka aku di dobel penetrasi selama 15 menit. Kalau diterusin, bisa - bisa vagina dan anusku melar nanti. 

"Udahan yaa, aku capek nih," kataku.

Kedua boneka teddy itu menuruti permintaanku, dan mencabut penis mereka dari kedua lubang kenikmatanku. Aku lalu dibaringkan dengan lemah lembut di ranjang.

"Makasih yaa," ucapku dengan lirih.

Malam itu, aku tertidur dengan pulas. Malam berikutnya, aku juga kembali melakukan persetubuhan panas dengan kedua boneka teddy kesayanganku ini. Saat tengah asik bergoyang di atas penisnya si teddy coklat, HP-ku tiba - tiba berbunyi. Aku raih HP-ku untuk mengecek siapa yang menelpon.

"Ehhh, ternyata papa," kataku.

Aku menghentikan goyanganku dan aku angkat teleponnya. Suamiku berkata kalau dua hari lagi, dia akan pulang ke rumah. Di satu sisi aku senang dia akhirnya pulang, tapi di sisi lain, aku harus memindahkan boneka - boneka ini, karena bakal menuh - menuhin ranjang. Selesai bertelepon dengan suamiku, aku lanjut bersetubuh dengan dua boneka teddy kesayanganku itu. Besoknya, aku memindahkan kedua boneka teddy-ku ke kamar tamu.

"Untuk sementara kalian disini dulu yaa, suamiku pulang hari ini," kataku.

Tidak ada respon dari mereka, maklum lahh, kan mereka cuma boneka. Sorenya, aku menyambut kepulangan suamiku dari luar kota.

"Gimana kerjaannya?" tanyaku.

"Lancar semua," jawabnya.

"Papa mandi dulu aja, biar mama yang urus koper," kataku.

"Okee," sahut suamiku, "ngomong - ngomong, Glenn dimana?"

"Dia lagi pergi nonton sama temen - temennya," jawabku.

Suamiku hanya mengangguk, lalu dia berlalu menuju ke kamar. Ketika suamiku sedang mandi, entah kenapa aku ingin ikut mandi sama dia. Sudah lama sekali kita tidak mandi bareng. Aku lalu melepas semua pakaianku, kemudian aku nyelonong masuk ke kamar mandi.

"Aku ikut mandi yaa," kataku.

"Yaaa," jawab suamiku.

Aku iseng - iseng melirik ke arah selangkangannya, ternyata sama sekali tidak ada reaksi. Aku pikir dia akan terangsang melihat body seksi istrinya. Apa dia sudah bosan sama aku yaa? Aku ingat ketika kita masih muda, setiap kali mandi bersama, pasti kita akan main satu ronde. Memikirkannya membuat vaginaku jadi berkedut. Kami berdua lalu lanjut makan malam. Kita mengobrolkan beberapa hal, mulai dari kabar anak - anak kita, sampai kerjaannya suamiku. Kemudian kita lanjut nonton TV dengan suasana monoton. Suamiku lebih banyak melihat HP-nya karena dihubungi oleh rekan kerjanya, sedangkan diriku lebih fokus ke TV. Entah kenapa aku malah jadi kangen dengan kedua boneka teddy kesayanganku itu. Sekitar jam 9, aku dan suamiku masuk ke dalam kamar.

"Aku mau tidur lebih awal, capek," kata suamiku.

"Okee deh, aku juga mau tidur lebih awal," ucapku.

Sekitar jam 9.40, aku terbangun karena merasa gelisah.

"Kenapa yaa aku gak bisa tidur malam ini?" kataku dalam hati.

Aku lalu teringat karena hari ini aku tidak melakukan hal terlarang dengan dua boneka teddy-ku. Ingin rasanya disetubuhi oleh mereka berdua, tapi sekarang suamiku sedang ada di rumah. Aku mencoba untuk menahan nafsuku dengan kembali tidur. 10 menit berlalu, vaginaku malah jadi kian gatal. Aku lalu terbangun dari ranjangku dan kulirik suamiku sejenak.

"Sepertinya dia sudah tertidur," kataku dalam hati.

Aku lalu berjalan mengendap - endap keluar dari kamar. Ketika sudah di luar kamar, aku juga melirik ke arah kamarnya Glenn, untuk berjaga - jaga. Aku akhirnya tiba di depan pintu kamar tamu, dan perlahan aku membukanya. Kulihat kedua boneka teddy kesayanganku tengah terbaring diam.

"Halo teddy - teddy kesayanganku," ucapku dengan lirih.

Tidak ada respon ataupun pergerakan dari mereka berdua. Apa mereka sedang tertidur yaa. Aku lalu mendekati mereka sambil melepas gaun tidurku. Dengan tubuh tanpa busana, aku duduk di sampingnya si teddy coklat seraya mengelus - elus tangannya. Si teddy coklat mulai memberikan reaksi dengan menggerakkan tangan kirinya. 

"Wihh, sudah bangun yaa," kataku, "tolong setubuhi aku yaa, vaginaku gatal banget nih."

Si teddy coklat tiba - tiba merangkul tubuhku dan menarikku untuk berbaring telungkup di atasnya. Si teddy putih terbangun dan dia meraba - raba bongkahan pantatku. Aku mencoba menahan desahanku, takut membangunkan suamiku atau anakku. Si teddy coklat lalu memutar badanku, membuat wajahku berada di depan penisnya yang telah mengacung tegak. Aku langsung tau kalau si teddy coklat ingin melakukan seks dengan posisi 69. Aku raih penis besarnya dan kumasukkan setengahnya ke dalam mulutku. Dari belakang, si teddy putih dan teddy coklat mengelus - elus vagina dan lubang anusku. Meski mereka tidak bisa melakukan jilatan, tapi rabaan mereka sudah sangat nikmat, membuat vaginaku cepat becek. Setelah cukup lama mengulum penis si teddy coklat, si teddy putih menarik badanku dan memposisikan diriku menungging. Dia lalu menyodorkan penisnya ke mulutku, dan langsung aku lahap dengan penuh nafsu. Dari belakang, si teddy coklat menjejali vaginaku dengan penisnya. Badanku bergoyang ke depan dan ke belakang akibat sodokan dari kedua boneka teddy kesayanganku ini. Rasanya nikmat sekali bisa menikmati dua penis sekaligus. Tiba - tiba, terbersit sebuah ide gila dimana aku ingin merasakan tiga penis sekaligus. Berarti aku harus beli boneka teddy lagi nih hihihihi. Persetubuhan kita lanjut ke gaya WOT. Aku menduduki penisnya si teddy coklat, sedangkan si teddy putih berada di belakang menyodok lubang pantatku. Aku melenguh keenakan digenjot dari belakang, membuatku seperti dibawa terbang ke angkasa. Karena takut ketahuan, aku tidak berlama - lama ngeseks sama mereka berdua. Aku segera berpakaian lagi dan kembali ke kamar dengan vaginaku masih basah kuyup. Setibanya di kamar, aku ngacir ke kamar mandi untuk membersihkan badanku, biar suamiku gak curiga. Aku akhirnya bisa tidur dengan nyenyak setelah vaginaku diobok - obok oleh kedua boneka teddy itu. Pagi harinya, aku melamun di ranjangku memikirkan apa yang telah kulakukan kemarin malam. Sepertinya aku benar - benar sudah ketagihan dengan penis mereka berdua, dan tidak bisa tidur nyenyak, jika belum disodok oleh kedua boneka itu. Malam kembali datang, dan aku kembali melakukan hal yang sama seperti kemarin malam. Semua lubangku kembali dijejali oleh penis kedua boneka tercintaku itu.

"Ohhh yeahhh, terus sayang ...," desahku saat kembali di dobel penetrasi oleh si teddy coklat dan putih.

Aku disetubuhi oleh mereka berdua selama 30 menit, setelahnya aku kembali ke kamar, mandi sebentar, lalu tidur dengan nyenyak. Esok paginya, suamiku berpamitan untuk pergi ke luar kota lagi.

"Hati - hati di jalan yaa," kataku sambil mencium pipinya.

"Maaf yaa aku harus pergi lagi," ucap suamiku.

Dia kemudian masuk ke dalam mobilnya dan pergi meninggalkan rumah ini. Tak berselang lama, Glenn juga berpamitan denganku karena mau pergi kuliah. Setelah Glenn pergi, tinggallah aku sendiri di rumah. Entah kenapa aku malah senang, karena bisa bermesum ria dengan kedua boneka tercintaku itu. Aku masuk ke dalam rumah, lalu kulepas semua pakaianku dan aku lempar secara acak. Aku masuk ke dalam kamar tamu, lalu kubawa kedua boneka teddy-ku ke dalam kamarku.

"Yuk kita main sepanjang siang, mumpung aku libur hihihihi," kataku.

Selama 1 jam lamanya, aku digenjot secara buas oleh kedua bonekaku itu. Mulut, vagina dan anusku dijejali bergantian oleh penis mereka berdua. Setelah 1 jam, aku beristirahat sejenak, biar aku gak pingsan akibat keenakan. Di sela - sela istirahat, aku menghubungi temanku untuk memesan boneka teddy lagi. Tidak pakai lama, temanku malah menawariku untuk ke apartemennya.

"Hahh?? Buat apa?" tulisku di pesan WA.

"Udah, kamu dateng aja besok," tulisnya.

Aku malah jadi penasaran kenapa dia malah memintaku datang ke apartemennya. Kuletakkan HP-ku di meja, lalu aku lanjut bersetubuh ria bersama dengan dua boneka teddy itu. Sungguh pemandangan yang aneh, melihat seorang ibu tiga anak berumur 43 tahun tengah disetubuhi oleh dua boneka teddy berukuran besar.

Bersambung....