Rabu, 07 Januari 2026

Cerita Seks Mama dan 4 Cewe Nakal Tetangga Kita part 3

Hari ini, tetanggaku mengajakku untuk memilih pakaian renang di toko online. Aku penasaran kenapa mereka tidak membeli di toko pakaian atau mall.

"Halo Ci," sapa Mita, menyambut kedatanganku.

"Jadi beli, kan?" tanyaku.

"Jadi dong," jawab Mita.

Mita mengajakku masuk ke dalam kamar. Nita dan Amy sedang sibuk menatap layar laptop mereka.

"Kurang seksi!" kata Nita, "yang lebih minim lah!"

"Sudah nemu yang cocok belum?" tanya Mita, menghampiri kedua temannya.

"Belum," jawab Amy.

Aku lalu ikut nimbrung, melihat apa yang sedang mereka cari. Aku sedikit terbelalak melihat model pakaian renang yang sedang dilihat oleh Nita dan Amy. Semuanya adalah bikini minim dan slingshot bikini.

"Kalian serius mau pakai yang beginian?" tanyaku.

"Serius lah!" jawab Nita.

Siska kemudian masuk ke dalam kamar dengan membawa minuman. "Mari, diminum dulu," ucapnya.

Mita langsung mengambil satu gelas, lalu meminumnya sampai habis. Aku mengambil juga dan mengecek isinya.

"Ternyata cuma air dingin," kataku dalam hati.

Aku kemudian ikut bergabung bersama keempat kawanku ini mencari pakaian renang yang seksi dan minim.

"Ci, kamu beli yang model slingshot aja ya," usul Amy.

"Masak wanita tua seperti aku disuruh pakai pakaian renang yang seperti itu?" ucapku.

"Ci Tasya cocok banget lho pake slingshot," kata Nita.

"Ci Tasya masih awet muda dan cantik lhoo," imbuh Mita.

Aku menghela nafas. "Ya udah deh, aku pesan satu."

"Mau yang warna apa?" tanya Amy, "ada hijau, pink dan biru."

"Biru aja," jawabku tanpa pikir panjang.

"Oke," sahut Amy.

Amy kemudian melakukan order untuk pakaian renang yang aku pilih. Mita, Nita dan Siska juga memilih pakaian renang seksi yang ingin mereka pakai.

"Oke, sudah kupesankan," kata Amy.

"Sipp!" seru Nita.

Siska tiba - tiba bangkit berdiri. "Yuk, kita lanjut main," ucapnya, "lepas baju kalian!"

Amy, Mita dan Nita melepas pakaian mereka tanpa berucap apapun. Aku sedikit terkejut, tapi setelahnya aku juga ikut melepas bajuku tanpa berbicara. Kami berempat sekarang sudah telanjang. Siska kemudian mengambil dua buah dildo hitam bergirigi yang panjang.

"Semuanya nungging!" perintah Siska.

Aku, Amy, Mita dan Nita segera menungging di lantai. Kemudian, aku mendengar suara desahan keluar dari mulutnya Mita. Sepertinya dildo tersebut sudah masuk ke dalam liang senggamanya Mita. Kemudian, giliran Amy yang menjerit keenakan.

"Gimana? Enak gak?" tanya Siska.

"Uhhh ... enak banget cyinn," jawab Mita.

"Ah! Aku juga kepengen dientot," rengek Nita.

Aku tertawa kecil mendengarnya. Mita dan Amy mendesah bersahut - sahutan. Sepertinya dildo besar tersebut sangat nikmat. Sekitar 2 menit kemudian, Nita mendesah cukup keras.

"Hihihi, enak gak?" tanya Siska.

"Ahh! Enak!" jawab Nita dengan nada binal.

Kemudian, aku merasakan sebuah benda tumpul menempel di bibir vaginaku. Benda tersebut didorong masuk ke dalam vaginaku.

"Ahhh!" Aku sedikit menjerit saat bibir vaginaku dipaksa untuk terbuka lebar.

Dildo besar bergerigi itu menyeruak masuk ke dalam liang senggamaku. Rasanya sungguh nikmat sekali, sampai membuat kaki dan tanganku bergetar.

"Enak gak, Ci?" tanya Siska.

"Ahh! Enak banget!" jawabku.

Nita juga mendesah keenakan, menikmati sodokan dari dildo besar ini. Siska secara bergantian menyodok vagina kami menggunakan dua dildo besar itu. Sudah pasti dildo tersebut telah berlumuran cairan kewanitaan kami. Beberapa menit telah berlalu, aku, Mita, Amy, dan Nita terbaring di atas lantai akibat orgasme dahsyat. Siska tertawa kecil melihat kami berempat.

"Kalau udah bertenaga lagi, sodok memekku pake nih dildo ya," kata Siska seraya melepas semua pakaiannya.

Aku kemudian bangkit berdiri, mengambil salah satu dildo yang tergeletak di lantai, lalu aku masukkan ke dalam vaginanya Siska yang masih dalam posisi berdiri.

"Ahhhkkk!" jerit Siska.

"Kayaknya enak banget tuh, hihihi," ucap Mita.

Kedua kakinya Siska bergetar. Sepertinya dia menikmati sodokan dildo di liang senggamanya. Nita dan Amy beranjak mendekati Siska, lalu mereka meremas - remas payudaranya.

"Ouhhh, enak banget," lenguh Siska.

Tidak pakai lama, Siska mendapatkan orgasme. Cairan cintanya muncrat seperti air mancur. Setelah itu, kita berbaring bersama di atas kasur.

"Kapan - kapan kita tidur telanjang bareng seperti ini yuk," usul Mita.

"Boleh," sahut Amy.

"Ci, tidur bareng sama kita yuk," ajak Siska sembari membelai rambutku.

"Maaf, aku gak bisa ikut," tolakku dengan halus, "anakku bisa curiga nanti."

"Yahh. Sangat disayangkan," balas Amy.

Aku lalu bergegas kembali ke rumah. Sejujurnya aku ingin tidur bareng dengan mereka, tapi anakku bisa curiga nanti, bertanya - tanya kenapa mamanya belum balik dari rumah tetangga.

***

3 hari kemudian, pakaian renang yang dipesan oleh Nita akhirnya tiba. Mumpung anakku sedang pergi, aku bisa mengunjungi mereka dengan tenang.

"Halo semua!" sapaku.

"Halo Ci!" sapa balik Mita.

"Kamu datang di momen yang tepat," ucap Siska.

"Kita mau nyobain pakaian renang yang dibeli kemarin Rabu," imbuh Amy.

"Pakaian renangku mana?" tanyaku, penasaran.

"Ini Ci," kata Nita sembari memberikannya kepadaku.

Siska dan Mita kemudian melepas pakaian mereka, lalu mencoba pakaian renang yang mereka pilih. Siska dan Mita terlihat sangat seksi.

"Minim banget bikini kalian," kata Amy.

"Cewe seksi kayak kita wajib pakai bikini minim, hihihi," balas Siska sambil berpose erotis.

"Ayo Ci, dicoba juga pakaian renangnya," ucap Mita.

"Oh, oke," sahutku.

Aku lepas seluruh pakaianku, lalu aku mencoba memakai pakaian renang yang aku pilih. 

"Ternyata susah juga memakainya," ucapku dalam hati.

Aku lalu meminta pendapat mereka mengenai pakaian renangku.

"Wow ... Cici seksi sekali!" seru Amy.

"iyakah?" ucapku sambil menatap tubuhku.

"Iya! Cici kayak supermodel," puji Siska.

"Aku mau liat di cermin," kataku sembari berjalan ke salah satu kamar mereka.

Aku menatap tubuhku di depan cermin. Tidak kuduga aku sangat cocok mengenakan baju renang yang sangat seksi seperti ini. Aku kemudian kembali ke ruang tengah, dan kulihat Amy dan Nita sudah mengenakan baju renang mereka.

"Oh iya, minggu depan, kita pergi ke villa yuk," usul Siska, "kita bakal pake nih baju renang seharian di sana."

"Yipee!" seru Nita, Amy dan Mita.

"ayo Ci, ikut ke villa minggu depan," ajak Siska.

"Sabtu yaa berarti? Aku pikir - pikir dulu deh," kataku.

"Segera kabari kita ya," ucap Mita.

"Oh iya, aku masih ada paket yang belum kubuka," kata Siska seraya berlari menuju ke kamarnya.

Siska membawa sebuah kardus berukuran besar, lalu dia membukanya di hadapan kita. Aku, Amy, Mita dan Nita menatap ke dalam kardus tersebut.

"Itu ... boneka?" tanya Amy.

"Benar," jawab Siska, "ini adalah boneka goblin."

"Mau buat apa?" tanya Mita.

"Buat permainan kita, hihihi," jawab Siska.

Siska kemudian membuka HP-nya dan menunjukkan sebuah foto 3D kepada kita. Aku tersentak saat melihat foto tersebut. Itu adalah foto seorang wanita telanjang yang di belakangnya ada seorang goblin. Wanita tersebut ditunggangi oleh si goblin seperti seorang joki yang sedang menunggangi kuda. Di mulutnya terdapat bit seperti yang ada di mulut kuda.

"Aku ingin kita cosplay seperti di gambar ini, hehehe," ucap Siska.

"Nih anak udah gak waras deh," kata Mita.

"Tapi ... boleh juga untuk dicoba," ucap Nita.

"Hmmm ... aku pikir - pikir dulu deh," kata Amy, "kalo kamu gimana Ci?" tanyanya kemudian kepadaku.

"Hah!? Ummm ... belum tau sih," jawabku, "agak gimana gitu fotonya."

"Ini namanya fetish, Ci," ucap Siska. "Di dunia ini, ada lumayan banyak orang yang suka dengan hal beginian."

"Orang - orang makin aneh aja," kataku.

"Kita kembali ke topik utama," ucap Amy, "ayo, kita buat jadwal dulu untuk Sabtu depan."

Dengan masih mengenakan pakaian renang, kami berdiskusi untuk menentukan villa mana yang akan kia gunakan.

"Oke, villa sudah ditentukan," ucap Nita, "sekarang, kita tentukan jam keberangkatan."

"Aku usul jam 7 pagi," usul Siska.

"Oke, setuju," balas Amy.

"Baik, sudah diputuskan," kata Mita.

Setelah itu, aku pamit pulang. Sebelum pulang, aku kembali mengenakan pakaianku.

"Besok saat pergi, pakaian renangnya jangan sampai lupa dibawa lho yaa," kata Mita.

"Yaa," sahutku.

***

Rasanya lama sekali menuju ke hari Jumat. Selama 6 hari ini, aku tidak mengunjungi tetanggaku karena suamiku sedang ada di rumah. Sebagai gantinya, aku berkirim pesan mesum dengan Mita, Nita, Amy dan Siska. Mereka sering mengirimkan video mesum kepadaku. Aku kadang juga mengirimkan video mesum diriku ke mereka. Aku sudah tidak sabar menantikan hari esok. Setelah melewati malam yang panajng, hari Sabtu akhirnya tiba. Aku juga sangat beruntung karena suamiku hari ini pergi ke luar kota untuk mengurus beberapa hal. Sebelum pergi, aku berpamitan dengan anakku dulu.

"Tumben mama pergi menginap," ucap anakku, "sama sapa aja?"

"Sa-sama ... teman SMA-nya mama," jawabku.

Aku jelas tidak bisa mengatakan kalau aku akan pergi menginap dengan tetangga kita. Dia bakal sangat curiga nanti. Sesuai dengan skenario yang aku buat kemarin, Mita, Nita, Siska dan Amy akan menjemputku dengan mobil. Sekitar 5 menit kemudian, aku mendengar suara klakson mobil.

"Mama pergi dulu yaa," kataku.

"Yaa! Hati - hati Ma!" balas anakku.

Aku berjalan ke luar rumah, lalu aku segera masuk ke dalam mobil.

"Halo Ci," sapa Mita yang duduk di sampingku.

"Halo," sapaku balik.

"Oke, kita berangkat," kata Siska yang berada di kursi pengemudi.

Mobil mulai melaju meninggalkan rumahku. Di sepanjang perjalanan, kita mengobrolkan hal - hal yang berbau mesum.

"Aku pengen segera berenang," ucap Amy.

"Sabar," balas Nita.

"Setelah berenang, kita ngeseks yaa," kata Siska.

"Sudah pasti itu, hihihi," balas Mita.

Yang lainnya juga ikut tertawa, menanggapi perkataannya Siska.

***

Sekitar satu jam kemudian, kita akhirnya sampai di villa. Siska terlebih dahulu memarkirkan mobilnya di halaman depan villa, kemudian kita turun sambil membawa koper. Saat masuk ke dalam, aku terkesan dengan villa ini. Bersih dan tidak berbau.

"Kita satu kamar yuk," usul Nita.

"Tidur berlima nih jadinya?" tanya Amy.

"Benar sekali!" jawab Nita.

"Aku ngikut aja," ucapku.

Kita lalu masuk ke dalam kamar yang memiliki ranjang paling besar. Koper yang kita bawa diletakkan di dalam kamar yang tidak dipakai. 

"Yuk, kita telanjang!" ujar Mita seraya melepas seluruh bajunya. Dia lemparkan pakaiannya ke sembarang tempat.

"Gas!!" seru Siska yang juga melucuti seluruh pakaiannya.

Aku kemudian juga ikut melepas bajuku. Aku taruh pakaianku di dekat diriku.

"Enaknya bisa telanjang sepuasnya!" seru Nita.

"Aku mau bersantai di pinggir kolam renang," kata Amy seraya menuju ke halaman belakang.

Aku mengikutinya untuk melihat seperti apa kolam renangnya. Aku tersenyum saat melihat halaman belakang dari villa ini. Kolam renangnya lumayan luas, terdapat 7 kursi rebahan, dan ada beberapa tanaman semak di pinggir tembok sebagai hiasan.

"Aku istirahat dulu ya," kata Amy seraya merebahkan badannya di atas kursi rebahan.

Aku dekati kolam renang, lalu aku celupkan jari kakiku. "Airnya sejuk," ucapku dalam hati.

"Mau berenang, Ci?" tanya Nita.

"Enggak," jawabku, "aku cuma pengen tau aja airnya sejuk atau gak."

"Nanti kita berenang bareng yuk," usul Nita, "aku mau tiduran dulu."

"Hmmm ... sepertinya aku juga perlu rebahan sejenak," ujarku.

Aku lalu merebahkan badanku di atas kursi rebahan yang kosong. Rasanya nyaman juga rebahan sambil telanjang.

***

Aku terbangun dengan perasaan segar. Saat aku melihat sekitar, kulihat Mita dan Siska sudah mengenakan bikini seksi mereka.

"Ayo Ci, dipakai baju renangnya," kata Mita, menoleh kepadaku.

"Oh, oke," sahutku.

Aku buka koperku, lalu aku ambil pakaian renang seksiku. Selesai mengenakannya, aku menatap diriku di depan cermin. Bikini slingshot ini membuatku terlihat seperti wanita vulgar. Kemudian, aku menuju ke kolam renang. Mita dan Siska sudah berada di dalam kolam renang.

"Ayo, berenang Ci," ajak Siska.

"Oke, oke," sahutku.

Aku masuk ke dalam kolam renang dengan perlahan. Airnya cukup dingin. 

"Bisa gaya apa aja Ci?" tanya Mita.

"Semua gaya aku bisa," jawabku.

"Berarti gaya kupu - kupu juga bisa?" tanay Mita kembali.

"iya, hehehe," jawabku.

"Coba peragain Ci." pinta Mita.

"Aku juga mau lihat," kata Siska.

"Hahaha, oke," sahutku.

Aku berenang menuju ke tepi, lalu aku mulai bergerak dengan gaya kupu - kupu. Setelah 1 putaran, aku berhenti. Mita dan Siska bertepuk tangan kepadaku.

"Keren," puji Siska.

"Ada apa ini?" Amy ikut nyebur ke dalam kolam renang.

"Ci Tasya tadi berenang pake gaya kupu - kupu lho," kata Mita.

"Wahh, aku juga pengen lihat," ucap Amy.

"Nanti aja, nunggu Nita ikut gabung," kataku.

Tidak lama kemudian, Nita lompat ke dalam kolam renang. Amy dan Siska memintaku untuk kembali memperagakan gaya kupu - kupu.

"Oke, oke," sahutku.

Aku kembali memperagakan gaya kupu - kupuku. Mereka berempat memberikan tepuk tangan yang riuh.

"Hehehe, terima kasih," ucapku.

"Aku mau bersantai dulu di sini," kata Siska sembari menyandarkan punggungnya ke dinding kolam.

Mita, Amy dan Nita memilih berenang dari ujung ke ujung dengan gaya katak. Aku bergabung dengan Siska, bersantai di pinggir kolam renang.

"Habis ini ngapain?" tanyaku kepada Siska.

"Belum tau," jawab Siska, "gimana kalau lari telanjang di luar?" usulnya kemudian.

"Hush! Ngawur!" seruku.

Siska menanggapiku dengan tertawa lepas. Amy kemudian menghampiri kami dan mengajak untuk bilas bersama.

"Oke," sahutku.

Kita berlima naik dari kolam renang, lalu menuju ke kamar bilas. Kita berlima masuk ke dalam kamar bilas yang sama, kemudian kita lepas pakaian renang yang melekat di tubuh kita.

"Saling membilas yuk," usul Mita.

"Oke!" sahut Nita.

Siska tiba - tiba menepuk bahuku, lalu dia meraba - raba punggungku. Kulihat teman - teman yang lain juga saling meraba punggung. Aku kemudian mendaratkan kedua tanganku ke punggungnya Amy yang sedang menganggur. Nita mengambil sabun cair, lalu meminta kita untuk menggunakan ini untul saling membasuh badan. Aku ambil sedikit, lalu aku basuhkan ke punggungnya Mita. Di belakangku, Amy sedang membasuh punggungku. Kita saling membasuh sambil tertawa cekikikan. Selesai membilas badan, kita kembali ke dalam villa tanpa mengenakan pakaian.

"Duduk - duduk di sofa bentar yuk," ajak Mita.

"Yuk!!" sahut Nita.

Kita kemudian duduk dempet - dempetan di sofa. Amy mengambil remot TV, lalu dia nyalakan TV.

"Oh iya, aku mau mencoba peralatan ponygirl yang sudah kusiapkan," kata Siska seraya beranjak berdiri.

Siska ngacir menuju ke kamar. Tidak lama kemudian, dia datang dengan membawa beberapa barang.

"Ummm ... Amy, sini!" panggil Siska.

Amy bangkit berdiri. "Ada apa?"

"Kamu jadi modelku yaa," kata Siska.

"Pasti mau aneh - aneh ini," ucap Amy dengan tatapan datar.

"Enggak kok," balas Siska, "ini seru banget."

Siska menarik kedua tangannya Amy ke belakang punggung, lalu dia mengikatnya. Kemudian, dia memasang sebuah tali kekang di kepalanya Amy dan sebuah bit kayu di mulutnya. Tidak salah lagi, alat tersebut biasanya dipakai oleh kuda. Siska lanjut mengikat sebuah boneka goblin di punggungnya Amy. Ikatan tali tersebut melewati bagian atas dan bagian bawah dari payudaranya Amy. Terakhir, tali kekang yang tersambung ke bit di mulutnya Amy, ditempelkan ke kedua tangan dari boneka goblin yang ada di belakang punggungnya.

"Mmmpphhhh!" seru Amy dengan mulut tersumpal bit.

"Nah, sekarang kamu sudah menjadi goblin ponygirl," ujar Siska seraya menepuk bahunya Amy.

Aku, Nita dan Mita berdiri untuk melihat Amy lebih dekat.

"Kita nanti bakal seperti Amy juga?" tanya Nita.

"Benar sekali," jawab Siska seraya mengacungkan jempolnya, "ada yang mau mencobanya?"

Nita dan Mita menatap diriku. Aku lalu mundur satu langkah.

"Ayo Ci, dicoba," ucap Siska sembari membawa sebuah tali kekang.

"Yang lain dulu aja," ucapku sambil mundur dua langkah.

Nita dan Mita kemudian menggenggam kedua tanganku, menahanku untuk mundur lebih jauh lagi.

"Kita penasaran pengen liat Ci Tasya jadi ponygirl, hihihi," ujar Mita.

"Hadehh." Aku menepuk dahiku.

Siska kemudian mengambil peralatan ponygirl-nya, lalu dia mendekatiku.

"Tangannya di belakang punggungnya," ujar Siska.

Aku menurut dan memposisikan kedua tanganku di belakang punggung. Siska kemudian mengikat kedua tanganku dengan siku menekuk 90 derajat. Kemudian, Siska memasang bit di mulutku, lalu memasang tali kekang di kepalaku. Aku merasa seperti seekor kuda sekarang. Siska lanjut memasang boneka goblin di punggungku, lalu mengikatnya melewati area dadaku dan celah antara samping dada dan lenganku.

"Nah, sekarang Cici resmi jadi ponygirl," kata Siska.

"Mmmpphh!" Mulutku tersumpal bit, jadi aku tidak bisa mengatakan apa pun.

Aku dan Amy saling bertatapan. Kita berdua sudah mirip seperti seekor kuda. Aku geleng - geleng kepala sambil menatap Amy.

"Jadi, nanti malam kita akan mengadakan challenge," kata Siska, "dan ... kita semua akan menjadi ponygirl, hihihi."

"PAsti challenge-nya aneh," kata Nita.

"Sudah pasti itu," balas Siska.

"Ummm ... lebih baik kamu lepaskan mereka dari bondage-mu," kata Mita, menunjuk ke arahku dan Amy, "kasihan kamu perlakukan seperti kuda gitu."

"Bentar, jangan dulu," ucap Siska, "aku mau mencoba sesuatu."

Siska kemudian memegang bahuku dan bahunya Amy. Dia mendorong kita berdua menuju ke halaman belakang.

"Nah, sekarang kalian coba lari keliling kolam satu kali," kata Siska.

Aku dan Amy kompak menatap Siska dengan ekspresi kesal. Siska hanya tertawa saat melihat raut muka kita.

"Setelah kalian, nanti giliranku yang begini," kata Siska, "aku berjanji."

Aku menghela nafasku sambil memejamkan mata. Aku menatap Amy dan kita kompak mengangguk. Aku dan Amy kemudian mulai berlari kecil mengelilingi kolam renang. Selesai satu putaran, kita berdua mengerumuni Siska.

"Oke, oke, aku akan menepati janjiku," ucap Siska.

Dia kemudian melepas ikatan yang ada di tangan dan tubuh bagian atas kami. Setelahnya, dia mengajari kami cara mengikat kedua tangan di belakang punggung dan mengikat boneka goblin di punggung. Siska kemudian melepas ikatan di tubuhku dan tubuhnya Amy. Kami berdua segera mengikat kedua tangannya Siska di belakang punggungnya.

"Bit-nya ambil di tasku ya," ucap Siska.

"Yaa," sahut Amy.

Amy berlari kecil masuk ke dalam villa, dan tidak pakai lama, dia kembali membawa sebuah bit. Aku dan Amy mulai mendandani Siska menjadi goblin ponygirl.

"Hehehe, akhirnya selesai," kata Amy.

"Mmmmpphhhh." Siska hanya bisa mengeram.

"Ayo, sekarang kamu lari juga!" perintahku seraya menampar pantatnya Siska.

"Mmmmppphhhh!" Siska mengeram lagi.

Dia mulai berlari mengelilingi pinggir kolam renang. Tanpa kami suruh, Siska berkeliling sebanyak 3 kali. Mita dan Nita ikut bergabung untuk melihat Siska yang menjadi ponygirl.

"Kayaknya dia pengen jadi real ponygirl, hihihi," kata Mita.

Selesai berlari, Siska berhenti di dekat kami. Dari gesturnya, dia meminta kita untuk melepas ikatan di tubuhnya.

"Dilepasin gak ya?" canda Amy sambil menatap aku, Mita dan Nita.

"MMMPPHHH!!" Siska terlihat kesal.

"Hahahaha, bercanda Sis," ucap Amy sembari tertawa lepas.

Kami berempat lalu membuka ikatannya Siska. Setelah kedua tangannya terbebas, Siska memukul pantat kami.

"Auww!" Aku terkejut saat pantatku ditampar oleh Siska.

"Nakal ih!" kata Nita.

"Biarin, weeek!!" balas Siska seraya menjulurkan lidahnya.

***

Mendekati jam 6 malam, kami menikmati makan malam yang dipesan melalui aplikasi pesan antar. Sambil menikmati makanan yang tersaji di meja makan, Siska memberitahukan rencana yang dia buat tadi siang.

"Berkeliling sambil copslay ponygirl, menurutku itu sebuah ide gila," kataku.

"Benar itu," imbuh Mita, "kalau sampai kepergok orang, bakal tamat riwayat kita."

"Tenang saja," kata Siska, mencoba menenangkan kita, "aku sudah melakukan patroli tadi. Tidak ada siapa pun, kecuali kita."

"Yakin??" Nita dan Amy menatap Siska dengan mata memicing.

"Iya," jawab Siska dengan percaya diri.

Aku, Nita, Mita dan Amy saling bertatapan. Kita berempat lalu menatap Siska dan mengangguk dengan mantap. Siska kemudian mengambil kotak yang berisi perlengkapan ponygirl-nya.

"Yuk, kita ke halaman depan," ajak Siska.

Kami beranjak berdiri dan berjalan menuju ke halaman depan.

"Bentar! Ini masih jam 7 lhoo," kata Nita, "yakin di area ini sepi?"

Siska tersenyum menatap Nita. Siska tiba - tiba melepas seluruh bajunya, lalu dia membuka pintu gerbang.

"Aku akan lari 1 putaran mengelilingi jalan yang mengelilingi area ini," kata Siska.

Di area ini, terdapat 4 villa yang saling bertetangga. Villa kita berada di urutan kedua dari kiri. Dengan percaya diri, Siska keluar dari area villa, lalu mulai berlari ke arah kiri. Kita berempat geleng - geleng menatapnya.

"Berani amat tuh anak," kata Mita, "kalo sampe kepergok cowo mesum, lalu diperkosa, gimana coba?"

"Yaaa ... kita tolongin," balasku.

"Harusnya aman sih," ucap Amy.

Tidak lama kemudian, Siska kembali dengan nafas terengah - engah. Kita terkejut sekaligus senang melihat Siska kembali dengan selamat.

"Benar, kan, yang aku bilang," kata Siska dengan ekspresi bangga.

"Tapi ... aku tetap saja agak takut," ucap Nita.

"Santai aja," kata Siska seraya menepuk bahunya Nita.

Sesuai rencana, Amy yang pertama melakukan challenge ponygirl. Amy sedikit ragu ketika melepas seluruh pakaiannya. Supaya nyaman berlari, Amy mengenakan sepatu untuk lari. Siska segera memakaikan outfit ponygirl ke badannya Amy. Tidak lupa, sebuah boneka goblin diikatkan di belakang punggungnya Amy.

"Dah sana, lari keliling satu area," kata Siska seraya mendorong bahunya Amy.

Amy segera berlari cukup cepat ke arah yang tadi dilewati oleh Siska. Aku menunggu kedatangannya dengan agak cemas. Sekitar 2 menit kemudian, Amy tiba dengan selamat. Aku, Nita dan Mita memberikan tepuk tangan kepada Amy.

"Berikutnya, Mita," kata Siska.

"Oke," sahut Mita.

Mita melepas seluruh pakaiannya, lalu kita pakaikan perlengkapan ponygirl ke dirinya. Setelah berubah menjadi goblin ponygirl, Mita mulai berlari mengikuti jalur yang telah ditentukan oleh Siska. Kita menunggu kedatangannya Mita dari arah kanan. Sekitar 3 menit kemudian, Mita kembali dengan selamat. Dia berlari cukup cepat.

"Gila! Aku deg - degan banget tadi," kata Mita.

"Gapapa. Aku tadi juga deg - degan," ucap Siska. "Berikutnya, Ci Tasya," ujarnya kemudian seraya menatapku.

"Oh, oke," sahutku.

Aku tanggalkan seluruh pakaianku, kemudian aku pakai sepatu jogingku. Siska dan Mita memakaikan perlengkapan ponygirl ke badanku. Terakhir, Nita mengikat boneka goblin di belakang punggungku.

"Ayo, lari Ci!" ujar Siska.

Aku mulai berlari menyusuri jalan sepi dan kosong yang ada di depanku. Jantungku berdebar - debar selama berlari di jalanan yang remang - remang ini. Aku tidak berhenti menatap sekitarku, waspada jika ada orang yang lewat. Dalam posisi ini, aku merasa seperti ponygirl yang sedang ditunggangi oleh goblin. Sensasinya aneh tapi unik. Entah kenapa, vaginaku jadi lumayan becek. Aku terus berlari menuju ke villa. Kupercepat lariku agar tidak ada orang yang memergokiku. Akhirnya, aku berhasil tiba di villa dengan selamat.

"Selamat Ci!" kata Siska sembari menepuk bahuku.

"Gimana, menegangkan?" tanya Mita.

Aku tidak bisa menjawabnya karena mulutku masih tersumpal bit gag. Setelah bit di mulutku dilepas, aku geleng - geleng sambil tertawa kecil.

"Menegangkan banget!" kataku.

"Yuk, Nita," kata Siska.

"Oke, oke," sahut Nita.

Kita pakaikan peralatan ponygirl ke badannya Nita, kemudian dia segera berlari kencang ke luar.

"Berikutnya kamu," kataku sambil melirik Siska.

"Hehehe, iya," balas Siska.

Ketika Nita tiba di villa, kami langsung mendandani Siska menjadi ponygirl. Dia kembali lari mengelilingi area di dekat villa. Malam ini kita melakukan challenge yang cukup berbahaya. Tapi, aku justru senang melakukannya. Karena, aku melakukannya bersama dengan teman - temanku.

Bersambung....

Minggu, 09 November 2025

Minggu, 19 Oktober 2025

Cerita Seks Aku dan Mama part 2

"Ini ... beneran mama?" tanyaku, agak gemetar.

"Iya," jawab mama dengan santai.

"Mama selama ini jadi foto model?" tanyaku.

"Iya," jawab mama.

"Papa tau gak?" tanyaku kembali.

"Enggak. Mama sengaja merahasiakannya," jawab mama. "Janagn beritahu papa yaa, hihihi."

Aku terkejut dengan mulut terbuka. Aku kemudian melihat foto - fotonya mama yang begitu seksi. Posenya juga banyak: mulai dari yang berbikini, memakai pakaian dalam seksi, sampai foto telanjang yang tidak menampilkan dada dan selangkangannya. Saat aku scroll ke atas, aku terkejut menemukan fotonya mama yang berpose telanjang bersama seorang pria yang juga telanjang.

"Ma!? Ini apa??" tanyaku dengan ekspresi terkejut. 

"Ohh, itu aku difoto dengan seorang model pria bernama Tono," jawab mama dengan santai.

"Mama kok bisa biasa aja telanjang sama cowo lain?" tanyaku.

"Seorang foto model harus siap difoto dengan orang lain," jawab mama, "profesionalitas sangat penting dalam dunia model."

"Wow ... mama hebat," pujiku dengan muka datar.

"Hihihi, makasih sayang," balas mama sambil menciumku.

Puas melihat foto - foto seksinya mama, aku kembalikan HP-nya mama, lalu aku pamit untuk kembali ke kamar.

***

Sekitar jam 9 malam, mama masuk ke kamarku dengan mengenakan jubah tidur. Mama berjalan mendekati diriku yang sedang duduk di kursi depan meja komputer.

"Ngentot yuk," ajak mama dengan lemah lembut.

"Ummm ... oke," sahutku dengan agak canggung.

Mama memintaku untuk berdiri, lalu dia menanggalkan pakaianku. Mama kemudian mendudukkan diriku di pinggir kasurku. Mama lalu melepas jubah tidurnya, dan dia membiarkan jubah tersebut turun ke bawah. Penisku langsung mengacung tegak saat melihat tubuh telanjangnya mama.

"Sudah siap?" tanya mama seraya duduk di sampingku.

Aku mengangguk. "Siap!"

"Oh iya, mama matikan dulu lampunya ya," kata mama sembari bangkit berdiri.

Kamarku menjadi gelap ketika mama mematikan lampu.

"Gak keliatan Ma!" ucapku.

"Bentar sayang," kata mama.

Mama lalu keluar dari kamarku, dan menutup pintu kamarku. Aku yakin mama pasti kembali ke kamarnya. Tidak lama kemudian, pintu kamarku terbuka. Mama kembali masuk ke dalam kamarku. Kemudian, sebuah lampu tidur menerangi kamarku. Lampu tersebut membuat kamarku bernuansa remang - remang.

"Gimana? Suasananya jadi romantis, kan?" kata mama dengan tersenyum.

"Iya," jawabku.

Mama kemudian duduk di samping kananku, lalu dia menyentuh pipiku dengan tangan kanannya. Mama mencium bibirku dengan lembut. Aku membalasnya dengan ciuman yang lembut juga. Sambil berciuman, aku remas - remas payudara mamaku yang empuk. Mama membalasnya dengan mengocok penisku. Semenit kemudian, mama menghentikan ciuman kami berdua. Mama lalu berdiri dari kasur dan sekarang dia berhadapan denganku. Mama lalu berlutut dan membuka kedua pahaku. Mama genggam penisku dan dia menjilatinya dengan lembut.

"Ohh ... enak banget Ma," lenguhku.

Mama kemudian memasukkan penisku ke dalam mulutnya. Badanku merinding akibat permainan mulut dan lidahnya mama yang sangat nikmat.

"Ouhh ... terusin Ma," desahku.

Mama memegang tangan kananku, lalu dia taruh tanganku di kepalanya. Aku paham apa yang mama mau. Aku mendorong - dorong kepalanya mama, agar penisku masuk makin dalam ke mulutnya. Sekitar 2 menit kemudian, aku mencabut penisku dari mulutnya mama, karena aku tidak ingin keluar lebih dulu.

"Sini Ma, giliranku yang memuaskan Mama," ucapku sembari menarik mama untuk berdiri.

Aku lalu memposisikan mama terlentang di atas kasurku. Aku kemudian mulai menjilati bahu dan kedua payudaranya.

"Ohhhh," lenguh mama.

Aku kulum payudara kirinya, sementara payudara kanannya aku remas. Aku bergantian mengulum dada mamaku yang besar dan empuk. Setelah puas bermain di payudaranya mama, aku turun ke perutnya yang mulus dan rata. Aku jilat seluruh permukaannya.

"Ohh ... yeahh," lenguh mama.

Aku lalu turun ke selangkangannya dan aku jilat bibir vaginanya yang wangi. Aku juga memainkan klitorisnya dengan jari - jariku.

"Ohh ... masukin say. Mama udah gak tahan," kata mama dengan nada binal.

"Mama di atas ya, hehe," pintaku.

"Oke," sahut mama.

Mama kemudian mendorongku sampai terbaring di atas kasur. Mama kemudian memposisikan dirinya di atas selangkanganku.

"Mama masukin ya," kata mama seraya mengarahkan penisku ke liang senggamanya.

Mama kemudian mendorong pinggulnya ke bawah. Penisku masuk ke dalam vaginanya secara perlahan. Setelah masuk setengahnya, mama mendorong pinggulnya dengan keras, membuat penisku masuk seluruhnya ke dalam vaginanya.

"Aaaahhhhh." Mama melenguh panjang dengan kepala terdongak ke atas.

Vaginanya mama sempit dan lembut, membuat badanku terasa seperti disetrum listrik statis.

"Mama goyang ya," kata mama.

Mama mulai menggoyang pinggulnya dengan perlahan. Kecepatan goyangan pinggulnya semakin naik. Aku membalasnya dengan meremas kedua pantatnya yang montok.

"Ohh, yeah ... enak banget say," desah mama.

Mama menurunkan badannya dan dia menciumku dengan agresif. Aku mencium mamaku sambil kuremas - remas pantatnya. Tidak lama kemudian, mama mendapatkan orgasme pertamanya. Mama mendesah panjang menikmati orgasmenya. Aku peluk mama dengan erat, supaya dia tidak melepas penisku dari vaginanya.

"Kenapa sayang? Kamu suka banget ya sama badannya mama?" kata mama dengan lembut.

"Hehehe, iya," jawabku.

Mama lalu meletakkan kedua tangannya di bawah kepalaku. Kami berpelukan selama 2 menit, dengan penisku masih menancap di vaginanya. Setelah itu, aku kembali menggenjot mamaku dalam posisi doggy style. Sambil kusodok vaginanya, aku remas - remas pantatnya mama yang montok. Tangan kiriku kemudian pindah ke depan untuk meremas kedua payudaranya mama.

"Oh yeah, terusin say," desah mama, "enak banget say!"

Benturan antara pahaku dan pantatnya mama menghasilkan suara plap plap plap. Sebuah suara yang sangat enak untuk didengar. Tidak lama kemudian, mama kembali mendapatkan orgasme.

"Sial! Kenapa aku belum crot sama sekali!" seruku dalam hati.

Mama terjatuh ke atas kasur dengan posisi telungkup. Aku lalu menggesek - gesekkan penisku di belahan pantatnya.

"Pantatnya mama empuk banget," kataku.

"Kalau begitu, geseknya yang cepet, say," ucap mama.

Aku percepat gesekanku di belahan pantatnya mama. Tidak lama kemudian, aku angkat pantatnya mama, lalu aku masukkan penisku ke dalam vaginanya yang masih becek.

"Aaahhhh!" Mama mendesah panjang saat vaginanya kumasuki penisku.

Baru 1 menit aku genjot, aku merasa akan muncrat. Aku cabut penisku, lalu aku balikkan tubuhnya mama. Aku gesekkan penisku di belahan dadanya mama. Kemudian, spermaku muncrat membasahi dada dan wajahnya.

"Spermamu banyak banget," kata mama sembari mengelap sperma di dagunya.

Kami beristirahat selama 2 menit. Setelahnya, kita lanjut ke ronde kedua.

***

Hari ini, mama mengajakku ke studio pemotretan. Di tempat inilah mamaku bekerja sebagai model erotis tanpa sepengetahuan kita sekeluarga. Mama berjalan menghampiri seorang pria paruh baya yang berdiri dengan membawa kamera DSLR.

"Halo Pak," sapa mama kepada pria itu, "aku hari ini mengajak anakku ke sini."

Pria tersebut terkejut sambil menatapku. "Kamu serius, Ness?"

"Iya," jawab mama, "gapapa, kan?"

"Sebenarnya gapapa. Tapi ... yakin kamu mau berpose di depan anakmu?" tanya pria itu.

"Hihihi, santai saja. Dia gak masalah kok," jawab mama.

Aku lihat mereka berdua mengobrol dengan begitu akrab. Tidak lama kemudian, pria tersebut menghampiriku.

"Halo. Perkenalkan, namaku adalah Don," ucap pria yang berrnama Don tersebut, "aku adalah manajernya mamamu."

"Aku Mike," kataku seraya menjabat tangannya.

"Senang bertemu denganmu, Mike," ucap Don sambil tersenyum. "Mamamu adalah salah satu model terbaik di studio ini."

"Ah, bisa aja kamu," kata mama sambil menepuk lengannya Don.

"Kalau begitu, kamu segera bersiap ya," kata Don kepada mama.

"Oke," sahut mama.

Mama lalu menggandengku dan menarikku menuju ke sebuah pintu yang ada di samping kiri studio utama. Saat pintu dibuka oleh mama, ternyata ini adalah ruang ganti.

"Hari ini ada sesi foto pakai bikini dan foto telanjang," ujar mama.

"Mama gak malu ya telanjang di depannya si Don?" tanyaku.

Mama menatapku dengan tajam. "Ini, kan, pekerjaan seorang model erotis. Kalau malu, lebih baik jangan jadi model."

Aku mengangguk sambil memejamkan mata. "Mama memang hebat."

"Hehehe, terima kasih," balas mama.

Mama kemudian menuju ke salah satu bilik ganti, lalu dari dalam bilik itu, mama mengambil sebuah bikini merah yang tergantung di hanger. Bikini tersebut terlihat begitu minim dan seksi. Mama dengan cueknya melepas baju di luar bilik ganti. Dia lemparkan pakaiannya ke dalam bilik gantinya, lalu dia kenakan bikini merah tersebut. Aku menelan ludahku saat melihat mama hanya mengenakan bikini saja.

"Gimana? Cocok gak?" tanya mama sambil berpose erotis.

Aku mengacungkan jempol. "Cocok banget! Bahkan mama terlihat seksi banget."

Mama tersenyum binal kepadaku. "Hihihi, makasih Sayang," ucapnya sembari mencium pipiku.

Mama kemudian mengenakan jubah putih yang tergantung di dekat meja rias, lalu mengikat tali putih yang ada di area pinggangnya. Jubah tersebut tergolong pendek, cuma sampai bagian tengah pahanya mama. Mama lalu mengajakku keluar, dan kita menuju ke ruang pemotretan. Di dalam ruangan ini, terdapat kasur ukuran king size dengan sprei berwarna putih. Selain kasur, ada beberapa alat untuk membantu pencahayaan, agar foto terlihat bagus. Don kemudian masuk dengan membawa kameranya.

"Clarissa, sekarang kamu bersiap di atas ranjang," kata Don.

"Oke," sahut mama.

Mama melepas jubah yang dia pakai, kemudian dia melangkah naik ke atas kasur. Don telrihat biasa saja melihat mama hanya mengenakan bikini minim. Don memberi arahan gaya kepada mama. Aku menelan ludah saat melihat mamaku berpose dengan begitu erotis. Penisku mulai mengeras dan mendesakku untuk memasukkannya ke dalam vaginanya mama.

"Sabar adik kecil, nanti kalo sudah selesai, bakal kita genjot habis - habisan," ucapku dalam hati.

Setelah melakukan beberapa pose, Don meminta mama melepas seluruh bikininya. Kali ini, mama berpose bugil. Mama menutupi tubuhnya dengan tangan, selimut dan bantal. Don terlihat sangat profesional dalam mengambil foto. Kemudian, seorang wanita muda masuk ke dalam studio. Don menyerahkan SD card dari kameranya kepada wanita tersebut.

"Tolong di edit ya," ucap Don.

"Baik," sahut wanita muda tersebut.

Sesi foto di ruangan ini telah berakhir. Mama mengambil kembali bikininya dan menyerahkannya kepada si wanita muda itu, yang kemungkinan merupakan salah satu staf di studio ini. Mama lalu mengenakan kembali jubah putihnya.

"Sesi berikutnya akan sangat menarik, hihihi," bisik mama kepadaku.

"Maksudnya?" Aku bingung dengan ucapannya mama.

Kita lalu dibawa ke ruang studio yang ada di samping ruangan yang tadi. Di dalam ruangan ini, aku melihat ada dua staf, laki - laki dan perempuan, dan seorang pemuda berkulit sawo matang. Pria tersebut juga mengenakan jubah putih, sama seperti yang dikenakan oleh mama.

"Clarissa, Dion, segera bersiap!" kata Don.

"Yaa," sahut mama.

Mama dan pemuda yang bernama Dion itu berjalan menuju ke tengah studio. Kedua mataku terbelalak ketika melihat mereka berdua menanggalkan jubah putih mereka. Mama dan Dion terlihat begitu ideal ketika berdiri bersebelahan. Dion memiliki wajah yang tampan, tubuh berotot dan batang kejantanannya berukuran besar. Mamaku memiliki kulit yang putih mulus, body seksi, dada besar dan kencang, pinggul seksi, pantat mulus yang montok, dan paha yang menggoda. Yang mengejutkan adalah, selangkangan mereka sama - sama tidak berambut alias gundul.

"Apa seorang model harus mencukur habis rambut selangkangan mereka?" pikirku.

Don kemudian meminta mama dan Dion saling berpelukan. Aku melongo ketika melihat mama memeluk Dion dengan santainya. Dion memegangi pinggulnya mama, sedangkan kedua tangannya mama berada di punggung berototnya Dion. Mereka terlihat begitu kontras, mamaku yang berkulit putih (chinese) dan Dion yang berkulit gelap. Penisku jadi semakin ngaceng. Pose yang mereka berdua lakukan sangatlah erotis. Mulai dari berpelukan sambil berhadapan, kemudian ganti pose di mana Dion memeluk mama dari belakang. Posisi ini membuatku menelan ludah, karena tangan kanannya Dion menutupi kedua payudaranya mama, dan tangan kirinya menutupi selangkangannya mama. Tangan kanannya mama menyentuh tangan kanannya Dion, dan tangan kirinya menyentuh tangan kirinya Dion. Sungguh pose yang begitu erotis dan intim. Berikutnya, Don meminta staf-nya untuk mengambil meja. Dua staf-nya kemudian membawa meja berbentuk persegi dan menaruhnya di dekatnya mama dan Dion. 

"Clarissa, kamu sekarang menungging sambil berdiri di meja itu ya," kata Don, "Dion, kamu harusnya tau harus berada di mana."

"Oke," sahut Dion.

Mama kemudian membungkuk sampai dada dan perutnya menyentuh meja tersebut. Dion berada di belakang pantatnya mama, dan dia kedua tangannya menyentuh pinggulnya. Aku terbelalak saat melihat Dion menempelkan selangkangannya ke pantatnya mama.

"Jangan khawatir, Dion tidak akan memasukkan batangnya ke dalam mamamu," ucap Don kepadaku.

Mama kemudian sedikit melebarkan pahanya, dan kulihat pantatnya sedikit naik. Mamaku sangat seksi sekali dalam posisi menungging sambil berdiri. Setelah posisinya sudah pas, Don mulai mengambil foto dari beberapa sudut. Kemudian, Mama memposisikan kedua tangannya di belakang, dan Dion memegangi tangannya mama. Dalam posisi ini, mama seperti sedang digenjot dengan kedua tangannya ditarik ke belakang. Don kembali mengambil beberapa foto kiri dan kanan.

"Tolong mejanya disingkirkan ya," perintah Don kepada staf-nya.

Dua staf-nya mengangkat meja itu, dan membawanya ke luar ruangan.

"Ini pose terakhir ya," kata Don.

"Yaa!" sahut mama dan Dion.

Don lalu meminta mama untuk berjongkok dengan kaki jinjit dan paha dilebarkan. Wajahnya mama didekatkan ke penisnya si Dion yang mulai agak membesar. Aku melongo tidak percaya saat melihat mama menempelkan mulutnya ke batang penisnya Dion. Tangan kanannya mama berada di vaginanya, antara menutupi selangkangannya atau berakting sedang menyodok - nyodok vaginanya dengan jari tangannya.

"Bagus! Tahan sebentar!" ucap Don sambil memfoto mama dan Dion.

Don hanya mengambil dua foto saja. Setelahnya, mama dan Dion kembali mengenakan jubah putih mereka.

"Kita istirahat dulu ya," kata Don.

"Yaa!" sahut mama dan Dion.

Setelah memakai jubah putihnya, mama datang menghampiriku. Dia menarikku menuju ke ruang ganti.

"Gimana? Posenya mama menarik, kan?" tanya mama.

"Sangat menarik," jawabku. "Oh iya, pemuda yang bernama Dion itu ... kok bisa dia gak ngaceng?" tanyaku kemudian.

"Karena dia profesional, sama kayak mama," jawab mama.

"Saat pose yang terakhir, kok penisnya bisa agak ngaceng?" tanyaku.

"Kalo loyo, jadinya aneh kalau dalam posisi seperti tadi," jawab mama.

Aku mengangguk - angguk sambil memejamkan mata.

"Kamu mau memperagakan yang tadi?" tanya mama dengan berbisik.

"Yakin mau melakukannya di sini?" tanyaku, "kalo ketahuan gimana?"

"Santai aja, tempat ini lumayan kedap suara," jawab mama. "Kalo mau, harus sekarang. Kalo ragu, kita peragakan di rumah saja."

"Sekarang aja," ucapku secara spontan.

Mama tersenyum mendengar responsku. Dia lalu melepaskan ikatan tali jubahnya, lalu meloloskannya sampai turun ke lantai. Mama kemudian melepas pakaianku hingga aku telanjang. Mama lalu berjongko, memposisikan dirinya sama seperti yang tadi. Sungguh erotis sekali posisinya mama, membuat penisku mengacung sangat keras.

"Kamu suka ya liat mama berjongkok seperti seorang pelacur?" tanya mama, menatapku dengan tatapan mesum.

Aku terkejut mendengar ucapannya mama. Baru kali ini aku mendengar perkataan vulgar keluar dari mulutnya mama. Mama kemudian menjilati batang penisku dengan lembut. Setelah basah, dia memasukkannya ke dalam mulutnya. Sambil mengoral penisku, mama memainkan vaginanya dengan tangan kanannya. Sungguh suatu pemandangan yang erotis dan menegangkan. Satu setengah menit kemudian, mama melepas penisku dari mulutnya, kemudian dia bangkit berdiri dan menuju ke meja rias.

"Entot mama dari belakang ya," kata mama. 

Mama kemudian mengambil posisi menungging sambil berdiri. Kedua dadanya menempel di atas meja. Mama menaikkan sedikit pantatnya, dan kedua pahanya sedikit dilebarkan. Aku lalu meremas pantatnya, kemudian aku masukkan seluruh penisku ke dalam liang senggamanya. Aku kemudian menyodok vaginanya plok plok plok plok. Mama menutup mulutnya, menahan desahan yang keluar dari mulutnya. 2 menit kemudian, mama mengencangkan vaginanya.

"Aku mau keluar say," kata mama.

Aku percepat genjotanku untuk mempercepat orgasmenya mama. Kemudian, sebuah cairan hangat mengalir deras dari vaginanya mama. Penisku terasa begitu hangat disiram cairan cintanya mama.

"Kamu belum keluar ya?" tanya mama sambil melirikku.

"Iya," jawabku.

Mama kemudian mencabut penisku dari vaginanya, lalu dia berlutut dan mengulum penisku. Kulumannya mama membuatku terbang ke awan. Aku dorong - dorong kepalanya mama agar penisku masuk lebih dalam ke mulutnya. Tidak lama kemudian, aku akhirnya berhasil muncrat. Aku semburkan semua maniku ke dalam mulutnya mama. Mama menelan semua spermaku.

"Mama suka sama pejumu," ujar mama sembari membuka mulutnya, menunjukkan genangan maniku di lidahnya.

Aku tersenyum melihatnya. Aku kemudian mengenakan kembali pakaianku.

"Mama ke kamar mandi bentar. Mau bilas," kata mama sembari berlari kecil ke kamar mandi.

Beberapa detik kemudian, mama keluar dari kamar mandi, lalu dia mengenakan kembali jubah putihnya. Aku dan mama kemudian menuju ke ruang studio. Kali ini, mama menjalani sesi foto tanpa busana. Jika kuperhatikan, Don mengambil foto dari sudut yang tidak menampakkan puting dan vaginanya mama. Mama menutupi dada dan selangkangannya jika difoto dari depan. Benar apa yang dikatakan oleh mama. Mereka semua bekerja secara profesional. Setelah sesi foto selesai, mama mengajakku pulang.

"Posenya mama tadi bagus gak?" tanya mama di dalam mobil.

"Bagus dong," jawabku.

"Kapan - kapan, ikut ke studio lagi ya," kata mama.

"Oke Ma!" sahutku.

Tidak terasa kita telah tiba di rumah. Aku membukakan pintu gerbang agar mama bisa memasukkan mobil ke dalam garasi. Aku menunggu mama sampai selesai memarkirkan mobil. Ketika mobil sudah terparkir di garasi, mama menghampiriku dan mengajakku masuk ke dalam rumah. Ketika berada di ruang tamu, aku memeluk mama dari belakang.

"Kenapa Sayang?" tanya mama.

"Ngeseks yuk Ma," pintaku.

"Di kamar aja ya. Sekalian mama mau mandi dulu," ucap mama.

"Di sini aja Ma," pintaku sambil meraba dadanya.

Mama melirik ke belakang dengan tersenyum. "Udah gak tahan ya? Hihihihi," ucapnya, "kalau begitu, telanjangi mama ya."

Aku melepas pelukanku pada mama, lalu aku buka seluruh pakaian yang melekat di tubuhnya. Mama kemudian gantian melepas seluruh pakaianku. Kita berdua sekarang sama - sama telanjang bulat. Aku dan mama kemudian berciuman sambil berpelukan. Aku meraba - raba punggungnya mama yang mulus. Setelah puas berciuman, kita melakukan persetubuhan yang sangat panas di ruang tamu.