Senin, 23 Februari 2026

Cerita Seks Bertukar Mama

Sejak peristiwa itu, aku jadi tahu ke mana perginya Ronald tiap membolos sekolah tanpa mengajakku. Belakangan memang Ronald sering membolos tetapi tidak memberitahu dan mengajakku. Rupanya dia punya acara ngentot dengan mamaku. Tetapi yang membuatku kagum dan mengundang rasa ingin tahuku, bagaimana awal mulanya hingga ia bisa berselingkuh dengan mamaku?

Untuk bertanya langsung padanya aku tidak berani. Takut dia jadi tahu bahwa perbuatannya dengan mamaku telah diketahui olehku dan pertemananku dengannya jadi renggang. Terus terang, kalau diberi kesempatan, aku juga ingin banget bisa menikmati memeknya mama. Aku juga ingin ngentot dengan mamanya Ronald yang bodi dan keseksiannya sama dengan mamaku. Jadi, aku harus membina keakraban dengan Ronald. Hanya untuk melangkah ke arah itu aku belum berani dan tidak punya pengalaman seperti Ronald.

Belakangan, sejak mengetahui antara mama dan Ronald ada hubungan khusus, aku sering memberikan kesempatan agar mereka bisa menyalurkan hasratnya secara lebih leluasa. Saat Ronald main ke rumah, aku pura-pura punya acara dengan teman lain dan meninggalkan mereka.

Padahal, aku malah ke rumah 
Ronald dengan berpura-pura pada mamanya hendak menemui dia. Hingga belakangan ini, hubunganku dengan mamanya Ronald makin akrab dan aku bebas melakukan apa saja di rumahnya seperti halnya Ronald di rumahku.

Seperti sore, di saat 
Ronald main ke rumah, aku berpura-pura udah janjian dengan pacarku untuk menghadiri acara ulang tahun. Padahal aku langsung ke rumahnya Ronald. 

“Halo Ren. Ayo, sini masuk,” kata mamanya Ronald.

Saat membukakan pintu,
mamanya Ronald ternyata habis mandi. Tubuhnya basah dan hanya dibungkus handuk. Tetapi, handuk yang dipakai melilit tubuhnya sangat kekecilan. Hingga di bagian bawah hanya menutup sampai ke pangkal pahanya.

Sementara toketnya yang besar menggunung tampak menyembul karena handuk itu tidak mampu menutup rapat bagian itu sepenuhnya. Seperti mamaku, 
mamanya Ronald juga berbodi tinggi besar. Pantatnya besar membusung dengan pinggul yang seksi. Tapi, kulitnya Tante Veni (nama mamanya Ronald) agak sedikit gelap.

Semua bagian tubuhnya benar-benar merangsang hingga membuatku terpana menatapinya. Namun anehnya, kendati tatapanku terang-terangan tertuju pada paha dan dadanya yang menyembul, ia seperti tak menghiraukannya.

Setelah mempersilahkanku masuk dan menutup pintu, dengan santai ia membereskan koran dan majalah yang terserak di ruang tamu. Posisinya yang agak membungkuk saat melakukan aktivitasnya itu menjadikan gairahku terpacu lebih kencang.

Bagaimana tidak, karena handuknya yang kelewat kecil, bongkahan pantat besarnya kini benar-benar terpampang di hadapanku. Aku juga bisa melihat memeknya yang mengintip di antara pangkal pahanya. Kuyakin itu disengaja. Karena ia seperti berlama-lama dalam posisi itu kendati koran dan majalah yang dibereskan hanya sedikit.

Ah, ingin rasanya meremas pantat besar yang montok itu, atau mengelus memeknya yang gundul itu. Kalau Ronald, mungkin ia sudah nekad melakukan apa yang dia inginkan. Tetapi aku tidak memiliki keberanian hingga hanya jakunku yang turun naik menelan ludah.

“Eh Ren, kamu ada acara nggak? Kalau nggak ada acara, tolong antar tante ya. Tante harus menagih ke orang tapi tempatnya jauh dan sulit kendaraan,” ujarnya setelah semua koran dan majalah tertata rapi di tempatnya.

“Eee.. ee bi.. bisa tante. Nggak ada acara kok,” kataku agak tergagap.

“Kalau begitu tante ganti baju dulu. Oh ya kalau kamu haus ambil sendiri di kulkas, mungkin masih ada yang bisa diminum,” ujarnya sambil tersenyum. Senyum yang sangat manis namun sangat sulit kuartikan.

Satu buah teh botol dingin yang kuambil dari kulkas langsung kutenggak dari botolnya. Rupanya, tontonan gratis yang sangat menggairahkanku tadi membuat tenggorokanku jadi kering hingga teh botol dingin itu langsung tandas.

Belakangan baru kusadari, ternyata Tante Veni tidak menutup kembali pintu kamarnya. Dia sekarang telanjang bulat, karena handuk yang melilit tubuhnya telah dilepas. Tante Veni santai memilih-milih baju yang hendak dikenakan. Maka kembali suguhan mengundang itu tersaji di hadapanku.

Bukan hanya pantatnya yang besar membusung. Buah dada Tante Veni juga besar dan kencang. Putingnya yang berwarna coklat, terlihat mencuat. Ah, ingin banget bisa membelai dan meremasnya atau menghisapnya seperti yang dilakukan Ronald pada toket mamaku.

Sebenarnya, aku ingin banget melihat bentuk memek Tante Veni secara jelas. Namun karena posisinya membelakangiku, aku tak dapat melihatnya. Tetapi benar seperti kata Ronald, tubuh mamanya yang berambut sebahu itu masih belum kehilangan pesonanya sebagai wanita.

Setelah menemukan baju yang dicari, Tante Veni berbalik dan memergokiku tengah menatap tubuh telanjangnya. Tetapi sepertinya ia tidak marah. Bahkan dengan santai, ia kenakan celana dalam di hadapanku.

Hanya karena merasa tidak enak dan takut dianggap terlalu kurang ajar, aku segera meninggalkannya menuju ke ruang tamu untuk menunggunya. Meskipun mamanya Ronald memiliki usaha toko perhiasan, ia masih menjalankan usaha tercela.

Dia meminjamkan uang dengan bunga tinggi atau bekerja sebagai rentenir. Kalau di rumah, pakaiannya sangat terbuka dan tidak sungkan-sungkan memamerkan tubuh indahnya seperti yang barusan dia lakukan di hadapanku.

Rumah orang yang ditagih Tante Veni ternyata memang cukup jauh dan kondisi jalannya juga jelek. Untung orangnya ada dan memenuhi janjinya membayar hutang hingga Tante Veni terlihat sangat senang. Saat pulang, karena sudah malam dan kondisi jalan sangat jelek, beberapa kali motorku nyaris terguling.

Karena takut terjatuh, Tante Veni membonceng dengan memeluk erat tubuhku. Dengan posisi membonceng yang terlalu mepet, sepasang gunung kembar Tante Veni menekan punggungku. Aku jadi membayangkan bentuknya yang kulihat saat ia telanjang di rumahnya.

Hal itu membuatku terangsang dan menjadikan konsentrasiku mengendarai sepeda motor agak terganggu. Bahkan nyaris menabrak pengendara sepeda yang ada di hadapanku. Untung Tante Veni segera mengingatkannya.

“Ren, karena kamu sudah mengantar tante, tante akan memberi hadiah istimewa. Tapi kamu harus menjawab dulu pertanyaan tante dengan jujur,” kata Tante Veni saat hampir sampai rumah.

“Pertanyaan apa Tan?” tanyaku.

“Tadi waktu lihat tante telanjang di kamar, kamu terangsang, kan?” tanyanya, berbisik di telingaku sambil kian merapatkan tubuhnya.

Aku tak menyangka ia akan bertanya seperti itu. Aku jadi bingung buat menjawabnya. Harusnya kujawab jujur bahwa aku sudah sangat terangsang. Tetapi aku nggak berani, takut salah. Sampai akhirnya, kurasakan tangan Tente Veni meraba bagian depan celana dan meraba kontolku yang telah tegang mengacung. 

“Ini buktinya punyamu tegang dan mengeras. Pasti karena terangsang membayangkan toket tante yang menempel di punggungmu kan?” ucap tante Veni.

“I..i.. iya tan,” kataku, akhirnya menyerah.

“Nah gitu dong ngaku. Makanya cepet deh bawa motornya biar cepet sampai rumah. Kalau Ronald belum pulang, nanti kamu boleh lihat punya tante sepuasmu,” ujarnya lagi sambil terus mengelus kontolku.

Penawaran mamanya Ronald adalah sesuatu yang paling kudambakan selama ini. Maka langsung saja kupacu kencang laju sepeda motor seperti yang diperintahkannya. Mudah-mudahan saja Ronald belum pulang hingga tidak membatalkan niat Tante Veni untuk memberi hadiah istimewa seperti yang dijanjikannya. Mudah-mudahan ia masih terus asyik menikmati kehangatan tubuh mamaku seperti yang pernah kulihat.

Sampai di rumah, setelah tahu Ronald belum pulang, aku diminta memasukkan sepeda motor dan menutup pintu.

“Setelah itu tante tunggu di kamar,” ujarnya. Namun setelah semua perintahnya kulaksanakan, aku ragu untuk masuk ke kamar Tante Veni seperti yang diperintahkannya.

Tidak seperti Ronald yang telah berpengalaman dengan wanita setidaknya dengan pembantu di rumahnya dan dengan mamaku, aku belum pernah melakukannya meskipun sering beronani dan membayangkan menyetubuhi mamaku maupun mamanya Ronald. Hingga aku hanya duduk merenung di ruang tamu, menunggu panggilan Tante Veni.

Sampai akhirnya, mungkin karena aku tak kunjung masuk ke kamarnya, Tante Veni sendiri yang keluar kamar menemuiku. Hanya yang membuatku kaget, ia keluar kamar bertelanjang bulat tanpa sehelai benang menutupi tubuhnya. 

“Katanya suka melihat tante telanjang, kok nggak cepet masuk ke kamar tante?” katanya menghampiriku.

Ia berdiri tepat di hadapan tempatku duduk seolah ingin mempertontonkan bagian paling pribadi miliknya agar terlihat jelas olehku. Tak urung jantungku berdegup lebih kencang dan jakunku turun naik menelan ludah. Betapa tidak, tubuh telanjang Tante Veni kini benar-benar terpampang di hadapanku.

Diantara kedua pahanya yang membulat padat, di selangkangannya kulihat memeknya yang menggoda, licin tanpa rambut, sama seperti memek mamaku.

Sama seperti mamaku, perutnya Tante Veni rata dan masih kencang. Buah dadanya yang menggantung dengan putingnya yang menonjol, nampak lebih besar ketimbang milik mamaku. Mama temanku itu hanya tersenyum melihat ulahku yang seperti terpana menatapi bukit kemaluannya.

Entah darimana datangnya keberanian itu, tiba-tiba tanganku terulur untuk meraba memek Tante Veni. Hanya sebelum berhasil menyentuh, keraguan seperti menyergap hingga nyaris kuurungkan niatku. 

“Ayo Ren, pegang saja. Kamu ingin merabanya kan? Sudah lama punya tante nggak ada yang menyentuh lho,” kata Tante Veni, melihat keraguanku.

Hangat, itu yang pertama kali kurasakan saat telapak tanganku akhirnya mengusap memek wanita itu. Permukaannya halus. Di bagian belahannya, daging kenyalnya itu terasa lebih hangat. Aku mengelus dan mengusapnya perlahan. Ah, tak kusangka akhirnya aku dapat menjamah kemaluan Tante Veni yang sudah lama kudambakan.

Sambil tetap duduk, aku terus merabai memek mama temanku itu. Bahkan jariku mulai mencolek-colek celah diantara bibir vaginanya yang berkerut. Lebih hangat dan terasa agak basah. Sebenarnya aku ingin sekali melihat bentuk kelentitnya. Namun karena Tante Veni berdiri dengan kaki agak merapat, jadi agak sulit untuk dapat melihat kelentitnya dengan leluasa.

Untungnya, Tante Veni langsung tanggap. Tanpa kuminta, kaki kanannya diangkat dan ditempatkan di sandaran kursi tempat aku duduk. Dengan posisinya itu, memek mamanya Ronald jadi lebih terpampang di hadapanku dalam jarak yang sangat dekat. Kini bibir kemaluannya tampak terbuka lebar.

Di bagian dalam warnanya kemerah-merahan. Dan kelentitnya yang ukurannya cukup besar juga terlihat mencuat.

“Pasti kamu ingin lihat itil tante kan? Ayo lihat sepuasmu Ren. Atau jilati sekalian. Tante ingin merasakan jilatan lidahmu,” ujar Tante Veni.

Ia mengatakan itu sambil memegang kepalaku dan menekannya agar mendekati ke selangkangannya. Jadilah wajahku langsung menyentuh memeknya karena tarikan Tante Veni pada kepalaku memang cukup kuat. Saat itulah, aroma yang sangat asing yang belum pernah kukenal sebelumnya membaui hidungku. Bau yang timbul dari lubang memek mamanya Ronald. Bau yang asing tapi membuatku makin terangsang.

Aku jadi ingat segala yang dilakukan Ronald pada memek mamaku. Maka setelah menciumi dengan hidungku untuk menikmati baunya, bibir kemaluannya langsung kulahap dan kucerucupi. Bahkan seperti menari, lidahku menjalari setiap inci lubang nikmat Tante Veni.

Sesekali lidahku menyodok masuk sedalam yang bisa dicapai dan di kesempatan yang lain, ujung lidahku menyapu itilnya. Hasilnya, Tante Veni mulai merintih perlahan. Tampaknya ia mulai merasakan kenikmatan dari tarian lidahku di lubang kemaluannya.

“Ahh… sshh … aahh enak banget Ren. Terus sayang, aahh .. ya.. ya enak sayang ahhh,” suara Tante Veni mulai merintih dan mendesis.

Ia juga mulai merabai dan meremasi sendiri buah dadanya. Aku jadi makin bersemangat karena yang kulakukan telah membuatnya terangsang. Itil Tente Veni tidak hanya kujilat, tetapi kukecup dan kuhisap-hisap. Sementara bongkahan pantat besarnya juga kuraih dan kuremasi dengan tanganku. 

“Auu … enak banget itil tante kamu hisap sayang! Aahh…. sshhh ..ohh… enak banget. Kamu pinter banget Ren,… ahhh ….ssshh …ahhh,” rintihanya makin menjadi.

Cukup lama aku mengobok-obok memek Tante Veni dengan mulut dan lidahku. Memeknya menjadi sangat basah karena dibalur ludahku bercampur dengan cairan memeknya yang mulai keluar. Akhirnya, mungkin karena kecapaian berdiri atau gairahnya semakin memuncak, ia memintaku untuk menghentikan jilatan dan kecupanku di liang sanggamanya. 

“Kalau diterusin bisa bobol deh pertahanan tante,” ujarnya sambil memintaku untuk berganti posisi.

Namun sebelumnya, ia memintaku untuk membuka semua yang masih kukenakan. Bahkan seperti tak sabar, saat aku tengah melepas bajuku ia membantu melepas ikat pinggang dan memelorotkan celana jins yang kukenakan. Termasuk celana dalamku juga dilolosinya.

”Wow… kontol kamu gede banget Ren! Keras lagi,” seru Tante Veni saat melihat kontolku telah terbebas dari pembungkusnya.

Dibelai dan di elus-elusnya kontolku sesaat. Ia sepertinya mengagumi ukuran kontolku. Dia lalu duduk di kursi tempat aku duduk sebelumnya dengan posisi mengangkang. Kedua kakinya dibukanya lebar-lebar hingga memeknya yang membusung terpampang dengan belahan di bagian tengahnya membuka. Kelentitnya yang mencuat nampak mengintip di sela-sela bibir luar kemaluannya.

Tante Veni yang nampaknya jadi tak sabar langsung menarikku mendekat. Dibimbing tangan wanita itu kontolku diarahkan ke lubang memeknya. 

“Dorong dan masukkan Ren kontolmu. Ih gemes deh, punya kamu besar banget,” ucapnya.

Tanpa menunggu perintahnya yang kedua kali, aku langsung menekan dan mendorong masuk kontolku ke lubang memeknya. 

“Aaauuww,.. jangan kencang-kencang Ren. Bisa jebol nanti memek tante,” pekik Tante Veni. 

Aku jadi kaget dan berusaha menarik kembali kontolku namun dicegah olehnya. 

“Jangan sayang! Jangan ditarik! Biarkan masuk tetapi pelan-pelan saja ya,” pintanya.

Seperti yang dimintanya, batang kontolku yang baru masuk sepertiga bagian kembali kudorong masuk. Namun dorongan yang kulakukan kali ini sangat perlahan. Hasilnya, bukan cuma Tante Veni yang terlihat menikmati sodokan kontolku di memeknya. Tetapi aku pun merasakan sensasi kenikmatan yang sangat luar biasa. Kenikmatan yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Kenikmatan yang sulit kulukiskan.

Terlebih ketika kontolku mulai aku keluarmasukkan ke dalam lubang nikmat itu. Ah, luar biasa nikmat. Jauh lebih enak menikmati kehangatan memek Tante Veni secara langsung ketimbang hanya membayangkan dan mengocok sendiri dengan tangan. Bagian dalam dinding memek Tante Veni seperti menjepit dan menghisap hingga menimbulkan kenikmatan tiada tara.

“Terus Ren ,.. uh… uhh… kontolmu enak banget. Gede dan marem banget. Ah iya Ren, terus sogok memek Tante sayang. Ah,.. ahh… ahhhh,” Tante Veni mengerang nikmat.

Mendengar erangannya, aku jadi kian bersemangat mengentotinya. Apalagi aku melakukannya sambil terus memandangi memeknya yang tengah diterobosi kontolku. Melihat itu sodokan kontolku pada lubang nikmat wanita itu kian bersemangat.

“Memek Tante nggak enak ya Ren? Kok dilihatin begitu?” tanya Tante Veni. 

Rupanya ia memperhatikan ulahku.

“Eee. enak bangat Tante. Sungguh. Memek tante bisa meremas. Saya sangat suka,” ujarku.

“Bener Did? Kalau kamu suka, kapanpun kamu boleh entotin tante terus. Tante juga suka banget kontol kamu. Ahhh sshhh… aakkhhh… enakk bangat sayang. Ohhh terus Ren, ayo sayang sogok terus. Ahhh… ahh …ah,”

Sambil terus melakukan sodokan ke liang sanggamanya, perhatianku juga tertarik pada buah dada Tante Veniyang terlihat terguncang-guncang seiring dengan guncangan tubuhnya. Maka langsung saja kuremas-remas toketnya yang berukuran besar itu. Sesekali kedua putingnya yang mencuat, kupilin dengan jari-jariku. Alhasil Tante Veni kian kelojotan, desah nafasnya semakin berat dan erangannya semakin menjadi.

Aku menjadi keteter ketika wanita itu mulai melancarkan serangan balik dan menunjukkan kelihaiannya sebagai wanita berusia matang. Ia yang tadinya mengambil sikap pasif dan hanya menikmati setiap sogokan kontolku di memeknya, mulai menggoyangkan pinggulnya. Goyangannya seakan mengikuti irama sodokan kontolku di memeknya.

Maka yang kurasakan sungguh di luar perhitunganku. Jepitan dinding memeknya pada kemaluanku terasa semakin menghimpit dan putarannya membuat batang kontolku serasa digerus dan dihisap. 

“Oohh… ohh… sshhh ..ssh ah enak bangat tante. Memek tante enak banget. Sss sa.. saya nggakk.. tahan tante. Ohh… ohhhh,”

“Tahan Ren, tante juga hampir sampai. Ah enak banget… kontol kamu enak banget Ren. Ah.. sshhh ahh….sshh ahh ahhh,”

Seperti yang diinginkannya, aku berusaha keras menahan jebolnya pertahananku. Namun saat goyangan pantat Tante Veni kian menjadi, berputar dan meliuk-liuk lalu disusul dengan melingkarnya kedua kaki wanita itu ke pinggangku dan menariknya, akhirnya ambrol juga semua yang kutahan. Seperti air bah, air maniku memancar deras dari ujung penis mengguyur bagian dalam memek mama temanku itu diantara rasa nikmat yang sulit kulukiskan. 

“Saya nggak tahan tante, ahh… ssshhh ..ahhh… ah..aakkhhhhhhh,”

Kenikmatan yang kudapat semakin berlipat ketika beberapa detik berselang, memek Tante Veni berkejut-kejut menjepit, meremas dan seperti menghisap dengan keras kontolku. Rupanya, ia juga telah sampai pada puncak gairahnya. 

“Tante juga nyampai Ren. Ahh.. sshhh… ohhh …ooohh … aakkkhhh,. Enak bangat Ren,… ahhh,.. akkhhhh …..aaaakkkkhhhhhhhh,” ia merintih keras dan diakhiri dengan erangan panjang.

Tante Veni menciumiku dan memeluk erat tubuhku dalam dekapan hangat tubuhnya yang bermandi keringat setelah puncak kenikmatan yang kami rasakan. 

“Tante sangat puas Ren. Sudah lama tante tidak merasakan yang seperti ini. Kalau kamu suka, pintu rumah tante selalu terbuka kapan saja,” katanya sambil terus memeluk dan menciumiku sampai akhirnya ia mengajakku mandi bersama.

Malam itu setelah makan bersama, aku dan Tante Veni mengulang beberapa kali permainan panas yang tidak sepantasnya dilakukan. Berkali-kali air maniku muncrat membasahi lubang memeknya dan membuat lemas sendi-sendiku.

Namun, berkali-kali pula Tante Veni mengerang dan merintih oleh sogokan kontolku. Baru saat menjelang pagi kami sama-sama terkapar kelelahan.

Rabu, 07 Januari 2026

Cerita Seks Mama dan 4 Cewe Nakal Tetangga Kita part 3

Hari ini, tetanggaku mengajakku untuk memilih pakaian renang di toko online. Aku penasaran kenapa mereka tidak membeli di toko pakaian atau mall.

"Halo Ci," sapa Mita, menyambut kedatanganku.

"Jadi beli, kan?" tanyaku.

"Jadi dong," jawab Mita.

Mita mengajakku masuk ke dalam kamar. Nita dan Amy sedang sibuk menatap layar laptop mereka.

"Kurang seksi!" kata Nita, "yang lebih minim lah!"

"Sudah nemu yang cocok belum?" tanya Mita, menghampiri kedua temannya.

"Belum," jawab Amy.

Aku lalu ikut nimbrung, melihat apa yang sedang mereka cari. Aku sedikit terbelalak melihat model pakaian renang yang sedang dilihat oleh Nita dan Amy. Semuanya adalah bikini minim dan slingshot bikini.

"Kalian serius mau pakai yang beginian?" tanyaku.

"Serius lah!" jawab Nita.

Siska kemudian masuk ke dalam kamar dengan membawa minuman. "Mari, diminum dulu," ucapnya.

Mita langsung mengambil satu gelas, lalu meminumnya sampai habis. Aku mengambil juga dan mengecek isinya.

"Ternyata cuma air dingin," kataku dalam hati.

Aku kemudian ikut bergabung bersama keempat kawanku ini mencari pakaian renang yang seksi dan minim.

"Ci, kamu beli yang model slingshot aja ya," usul Amy.

"Masak wanita tua seperti aku disuruh pakai pakaian renang yang seperti itu?" ucapku.

"Ci Tasya cocok banget lho pake slingshot," kata Nita.

"Ci Tasya masih awet muda dan cantik lhoo," imbuh Mita.

Aku menghela nafas. "Ya udah deh, aku pesan satu."

"Mau yang warna apa?" tanya Amy, "ada hijau, pink dan biru."

"Biru aja," jawabku tanpa pikir panjang.

"Oke," sahut Amy.

Amy kemudian melakukan order untuk pakaian renang yang aku pilih. Mita, Nita dan Siska juga memilih pakaian renang seksi yang ingin mereka pakai.

"Oke, sudah kupesankan," kata Amy.

"Sipp!" seru Nita.

Siska tiba - tiba bangkit berdiri. "Yuk, kita lanjut main," ucapnya, "lepas baju kalian!"

Amy, Mita dan Nita melepas pakaian mereka tanpa berucap apapun. Aku sedikit terkejut, tapi setelahnya aku juga ikut melepas bajuku tanpa berbicara. Kami berempat sekarang sudah telanjang. Siska kemudian mengambil dua buah dildo hitam bergirigi yang panjang.

"Semuanya nungging!" perintah Siska.

Aku, Amy, Mita dan Nita segera menungging di lantai. Kemudian, aku mendengar suara desahan keluar dari mulutnya Mita. Sepertinya dildo tersebut sudah masuk ke dalam liang senggamanya Mita. Kemudian, giliran Amy yang menjerit keenakan.

"Gimana? Enak gak?" tanya Siska.

"Uhhh ... enak banget cyinn," jawab Mita.

"Ah! Aku juga kepengen dientot," rengek Nita.

Aku tertawa kecil mendengarnya. Mita dan Amy mendesah bersahut - sahutan. Sepertinya dildo besar tersebut sangat nikmat. Sekitar 2 menit kemudian, Nita mendesah cukup keras.

"Hihihi, enak gak?" tanya Siska.

"Ahh! Enak!" jawab Nita dengan nada binal.

Kemudian, aku merasakan sebuah benda tumpul menempel di bibir vaginaku. Benda tersebut didorong masuk ke dalam vaginaku.

"Ahhh!" Aku sedikit menjerit saat bibir vaginaku dipaksa untuk terbuka lebar.

Dildo besar bergerigi itu menyeruak masuk ke dalam liang senggamaku. Rasanya sungguh nikmat sekali, sampai membuat kaki dan tanganku bergetar.

"Enak gak, Ci?" tanya Siska.

"Ahh! Enak banget!" jawabku.

Nita juga mendesah keenakan, menikmati sodokan dari dildo besar ini. Siska secara bergantian menyodok vagina kami menggunakan dua dildo besar itu. Sudah pasti dildo tersebut telah berlumuran cairan kewanitaan kami. Beberapa menit telah berlalu, aku, Mita, Amy, dan Nita terbaring di atas lantai akibat orgasme dahsyat. Siska tertawa kecil melihat kami berempat.

"Kalau udah bertenaga lagi, sodok memekku pake nih dildo ya," kata Siska seraya melepas semua pakaiannya.

Aku kemudian bangkit berdiri, mengambil salah satu dildo yang tergeletak di lantai, lalu aku masukkan ke dalam vaginanya Siska yang masih dalam posisi berdiri.

"Ahhhkkk!" jerit Siska.

"Kayaknya enak banget tuh, hihihi," ucap Mita.

Kedua kakinya Siska bergetar. Sepertinya dia menikmati sodokan dildo di liang senggamanya. Nita dan Amy beranjak mendekati Siska, lalu mereka meremas - remas payudaranya.

"Ouhhh, enak banget," lenguh Siska.

Tidak pakai lama, Siska mendapatkan orgasme. Cairan cintanya muncrat seperti air mancur. Setelah itu, kita berbaring bersama di atas kasur.

"Kapan - kapan kita tidur telanjang bareng seperti ini yuk," usul Mita.

"Boleh," sahut Amy.

"Ci, tidur bareng sama kita yuk," ajak Siska sembari membelai rambutku.

"Maaf, aku gak bisa ikut," tolakku dengan halus, "anakku bisa curiga nanti."

"Yahh. Sangat disayangkan," balas Amy.

Aku lalu bergegas kembali ke rumah. Sejujurnya aku ingin tidur bareng dengan mereka, tapi anakku bisa curiga nanti, bertanya - tanya kenapa mamanya belum balik dari rumah tetangga.

***

3 hari kemudian, pakaian renang yang dipesan oleh Nita akhirnya tiba. Mumpung anakku sedang pergi, aku bisa mengunjungi mereka dengan tenang.

"Halo semua!" sapaku.

"Halo Ci!" sapa balik Mita.

"Kamu datang di momen yang tepat," ucap Siska.

"Kita mau nyobain pakaian renang yang dibeli kemarin Rabu," imbuh Amy.

"Pakaian renangku mana?" tanyaku, penasaran.

"Ini Ci," kata Nita sembari memberikannya kepadaku.

Siska dan Mita kemudian melepas pakaian mereka, lalu mencoba pakaian renang yang mereka pilih. Siska dan Mita terlihat sangat seksi.

"Minim banget bikini kalian," kata Amy.

"Cewe seksi kayak kita wajib pakai bikini minim, hihihi," balas Siska sambil berpose erotis.

"Ayo Ci, dicoba juga pakaian renangnya," ucap Mita.

"Oh, oke," sahutku.

Aku lepas seluruh pakaianku, lalu aku mencoba memakai pakaian renang yang aku pilih. 

"Ternyata susah juga memakainya," ucapku dalam hati.

Aku lalu meminta pendapat mereka mengenai pakaian renangku.

"Wow ... Cici seksi sekali!" seru Amy.

"iyakah?" ucapku sambil menatap tubuhku.

"Iya! Cici kayak supermodel," puji Siska.

"Aku mau liat di cermin," kataku sembari berjalan ke salah satu kamar mereka.

Aku menatap tubuhku di depan cermin. Tidak kuduga aku sangat cocok mengenakan baju renang yang sangat seksi seperti ini. Aku kemudian kembali ke ruang tengah, dan kulihat Amy dan Nita sudah mengenakan baju renang mereka.

"Oh iya, minggu depan, kita pergi ke villa yuk," usul Siska, "kita bakal pake nih baju renang seharian di sana."

"Yipee!" seru Nita, Amy dan Mita.

"ayo Ci, ikut ke villa minggu depan," ajak Siska.

"Sabtu yaa berarti? Aku pikir - pikir dulu deh," kataku.

"Segera kabari kita ya," ucap Mita.

"Oh iya, aku masih ada paket yang belum kubuka," kata Siska seraya berlari menuju ke kamarnya.

Siska membawa sebuah kardus berukuran besar, lalu dia membukanya di hadapan kita. Aku, Amy, Mita dan Nita menatap ke dalam kardus tersebut.

"Itu ... boneka?" tanya Amy.

"Benar," jawab Siska, "ini adalah boneka goblin."

"Mau buat apa?" tanya Mita.

"Buat permainan kita, hihihi," jawab Siska.

Siska kemudian membuka HP-nya dan menunjukkan sebuah foto 3D kepada kita. Aku tersentak saat melihat foto tersebut. Itu adalah foto seorang wanita telanjang yang di belakangnya ada seorang goblin. Wanita tersebut ditunggangi oleh si goblin seperti seorang joki yang sedang menunggangi kuda. Di mulutnya terdapat bit seperti yang ada di mulut kuda.

"Aku ingin kita cosplay seperti di gambar ini, hehehe," ucap Siska.

"Nih anak udah gak waras deh," kata Mita.

"Tapi ... boleh juga untuk dicoba," ucap Nita.

"Hmmm ... aku pikir - pikir dulu deh," kata Amy, "kalo kamu gimana Ci?" tanyanya kemudian kepadaku.

"Hah!? Ummm ... belum tau sih," jawabku, "agak gimana gitu fotonya."

"Ini namanya fetish, Ci," ucap Siska. "Di dunia ini, ada lumayan banyak orang yang suka dengan hal beginian."

"Orang - orang makin aneh aja," kataku.

"Kita kembali ke topik utama," ucap Amy, "ayo, kita buat jadwal dulu untuk Sabtu depan."

Dengan masih mengenakan pakaian renang, kami berdiskusi untuk menentukan villa mana yang akan kia gunakan.

"Oke, villa sudah ditentukan," ucap Nita, "sekarang, kita tentukan jam keberangkatan."

"Aku usul jam 7 pagi," usul Siska.

"Oke, setuju," balas Amy.

"Baik, sudah diputuskan," kata Mita.

Setelah itu, aku pamit pulang. Sebelum pulang, aku kembali mengenakan pakaianku.

"Besok saat pergi, pakaian renangnya jangan sampai lupa dibawa lho yaa," kata Mita.

"Yaa," sahutku.

***

Rasanya lama sekali menuju ke hari Jumat. Selama 6 hari ini, aku tidak mengunjungi tetanggaku karena suamiku sedang ada di rumah. Sebagai gantinya, aku berkirim pesan mesum dengan Mita, Nita, Amy dan Siska. Mereka sering mengirimkan video mesum kepadaku. Aku kadang juga mengirimkan video mesum diriku ke mereka. Aku sudah tidak sabar menantikan hari esok. Setelah melewati malam yang panajng, hari Sabtu akhirnya tiba. Aku juga sangat beruntung karena suamiku hari ini pergi ke luar kota untuk mengurus beberapa hal. Sebelum pergi, aku berpamitan dengan anakku dulu.

"Tumben mama pergi menginap," ucap anakku, "sama sapa aja?"

"Sa-sama ... teman SMA-nya mama," jawabku.

Aku jelas tidak bisa mengatakan kalau aku akan pergi menginap dengan tetangga kita. Dia bakal sangat curiga nanti. Sesuai dengan skenario yang aku buat kemarin, Mita, Nita, Siska dan Amy akan menjemputku dengan mobil. Sekitar 5 menit kemudian, aku mendengar suara klakson mobil.

"Mama pergi dulu yaa," kataku.

"Yaa! Hati - hati Ma!" balas anakku.

Aku berjalan ke luar rumah, lalu aku segera masuk ke dalam mobil.

"Halo Ci," sapa Mita yang duduk di sampingku.

"Halo," sapaku balik.

"Oke, kita berangkat," kata Siska yang berada di kursi pengemudi.

Mobil mulai melaju meninggalkan rumahku. Di sepanjang perjalanan, kita mengobrolkan hal - hal yang berbau mesum.

"Aku pengen segera berenang," ucap Amy.

"Sabar," balas Nita.

"Setelah berenang, kita ngeseks yaa," kata Siska.

"Sudah pasti itu, hihihi," balas Mita.

Yang lainnya juga ikut tertawa, menanggapi perkataannya Siska.

***

Sekitar satu jam kemudian, kita akhirnya sampai di villa. Siska terlebih dahulu memarkirkan mobilnya di halaman depan villa, kemudian kita turun sambil membawa koper. Saat masuk ke dalam, aku terkesan dengan villa ini. Bersih dan tidak berbau.

"Kita satu kamar yuk," usul Nita.

"Tidur berlima nih jadinya?" tanya Amy.

"Benar sekali!" jawab Nita.

"Aku ngikut aja," ucapku.

Kita lalu masuk ke dalam kamar yang memiliki ranjang paling besar. Koper yang kita bawa diletakkan di dalam kamar yang tidak dipakai. 

"Yuk, kita telanjang!" ujar Mita seraya melepas seluruh bajunya. Dia lemparkan pakaiannya ke sembarang tempat.

"Gas!!" seru Siska yang juga melucuti seluruh pakaiannya.

Aku kemudian juga ikut melepas bajuku. Aku taruh pakaianku di dekat diriku.

"Enaknya bisa telanjang sepuasnya!" seru Nita.

"Aku mau bersantai di pinggir kolam renang," kata Amy seraya menuju ke halaman belakang.

Aku mengikutinya untuk melihat seperti apa kolam renangnya. Aku tersenyum saat melihat halaman belakang dari villa ini. Kolam renangnya lumayan luas, terdapat 7 kursi rebahan, dan ada beberapa tanaman semak di pinggir tembok sebagai hiasan.

"Aku istirahat dulu ya," kata Amy seraya merebahkan badannya di atas kursi rebahan.

Aku dekati kolam renang, lalu aku celupkan jari kakiku. "Airnya sejuk," ucapku dalam hati.

"Mau berenang, Ci?" tanya Nita.

"Enggak," jawabku, "aku cuma pengen tau aja airnya sejuk atau gak."

"Nanti kita berenang bareng yuk," usul Nita, "aku mau tiduran dulu."

"Hmmm ... sepertinya aku juga perlu rebahan sejenak," ujarku.

Aku lalu merebahkan badanku di atas kursi rebahan yang kosong. Rasanya nyaman juga rebahan sambil telanjang.

***

Aku terbangun dengan perasaan segar. Saat aku melihat sekitar, kulihat Mita dan Siska sudah mengenakan bikini seksi mereka.

"Ayo Ci, dipakai baju renangnya," kata Mita, menoleh kepadaku.

"Oh, oke," sahutku.

Aku buka koperku, lalu aku ambil pakaian renang seksiku. Selesai mengenakannya, aku menatap diriku di depan cermin. Bikini slingshot ini membuatku terlihat seperti wanita vulgar. Kemudian, aku menuju ke kolam renang. Mita dan Siska sudah berada di dalam kolam renang.

"Ayo, berenang Ci," ajak Siska.

"Oke, oke," sahutku.

Aku masuk ke dalam kolam renang dengan perlahan. Airnya cukup dingin. 

"Bisa gaya apa aja Ci?" tanya Mita.

"Semua gaya aku bisa," jawabku.

"Berarti gaya kupu - kupu juga bisa?" tanay Mita kembali.

"iya, hehehe," jawabku.

"Coba peragain Ci." pinta Mita.

"Aku juga mau lihat," kata Siska.

"Hahaha, oke," sahutku.

Aku berenang menuju ke tepi, lalu aku mulai bergerak dengan gaya kupu - kupu. Setelah 1 putaran, aku berhenti. Mita dan Siska bertepuk tangan kepadaku.

"Keren," puji Siska.

"Ada apa ini?" Amy ikut nyebur ke dalam kolam renang.

"Ci Tasya tadi berenang pake gaya kupu - kupu lho," kata Mita.

"Wahh, aku juga pengen lihat," ucap Amy.

"Nanti aja, nunggu Nita ikut gabung," kataku.

Tidak lama kemudian, Nita lompat ke dalam kolam renang. Amy dan Siska memintaku untuk kembali memperagakan gaya kupu - kupu.

"Oke, oke," sahutku.

Aku kembali memperagakan gaya kupu - kupuku. Mereka berempat memberikan tepuk tangan yang riuh.

"Hehehe, terima kasih," ucapku.

"Aku mau bersantai dulu di sini," kata Siska sembari menyandarkan punggungnya ke dinding kolam.

Mita, Amy dan Nita memilih berenang dari ujung ke ujung dengan gaya katak. Aku bergabung dengan Siska, bersantai di pinggir kolam renang.

"Habis ini ngapain?" tanyaku kepada Siska.

"Belum tau," jawab Siska, "gimana kalau lari telanjang di luar?" usulnya kemudian.

"Hush! Ngawur!" seruku.

Siska menanggapiku dengan tertawa lepas. Amy kemudian menghampiri kami dan mengajak untuk bilas bersama.

"Oke," sahutku.

Kita berlima naik dari kolam renang, lalu menuju ke kamar bilas. Kita berlima masuk ke dalam kamar bilas yang sama, kemudian kita lepas pakaian renang yang melekat di tubuh kita.

"Saling membilas yuk," usul Mita.

"Oke!" sahut Nita.

Siska tiba - tiba menepuk bahuku, lalu dia meraba - raba punggungku. Kulihat teman - teman yang lain juga saling meraba punggung. Aku kemudian mendaratkan kedua tanganku ke punggungnya Amy yang sedang menganggur. Nita mengambil sabun cair, lalu meminta kita untuk menggunakan ini untul saling membasuh badan. Aku ambil sedikit, lalu aku basuhkan ke punggungnya Mita. Di belakangku, Amy sedang membasuh punggungku. Kita saling membasuh sambil tertawa cekikikan. Selesai membilas badan, kita kembali ke dalam villa tanpa mengenakan pakaian.

"Duduk - duduk di sofa bentar yuk," ajak Mita.

"Yuk!!" sahut Nita.

Kita kemudian duduk dempet - dempetan di sofa. Amy mengambil remot TV, lalu dia nyalakan TV.

"Oh iya, aku mau mencoba peralatan ponygirl yang sudah kusiapkan," kata Siska seraya beranjak berdiri.

Siska ngacir menuju ke kamar. Tidak lama kemudian, dia datang dengan membawa beberapa barang.

"Ummm ... Amy, sini!" panggil Siska.

Amy bangkit berdiri. "Ada apa?"

"Kamu jadi modelku yaa," kata Siska.

"Pasti mau aneh - aneh ini," ucap Amy dengan tatapan datar.

"Enggak kok," balas Siska, "ini seru banget."

Siska menarik kedua tangannya Amy ke belakang punggung, lalu dia mengikatnya. Kemudian, dia memasang sebuah tali kekang di kepalanya Amy dan sebuah bit kayu di mulutnya. Tidak salah lagi, alat tersebut biasanya dipakai oleh kuda. Siska lanjut mengikat sebuah boneka goblin di punggungnya Amy. Ikatan tali tersebut melewati bagian atas dan bagian bawah dari payudaranya Amy. Terakhir, tali kekang yang tersambung ke bit di mulutnya Amy, ditempelkan ke kedua tangan dari boneka goblin yang ada di belakang punggungnya.

"Mmmpphhhh!" seru Amy dengan mulut tersumpal bit.

"Nah, sekarang kamu sudah menjadi goblin ponygirl," ujar Siska seraya menepuk bahunya Amy.

Aku, Nita dan Mita berdiri untuk melihat Amy lebih dekat.

"Kita nanti bakal seperti Amy juga?" tanya Nita.

"Benar sekali," jawab Siska seraya mengacungkan jempolnya, "ada yang mau mencobanya?"

Nita dan Mita menatap diriku. Aku lalu mundur satu langkah.

"Ayo Ci, dicoba," ucap Siska sembari membawa sebuah tali kekang.

"Yang lain dulu aja," ucapku sambil mundur dua langkah.

Nita dan Mita kemudian menggenggam kedua tanganku, menahanku untuk mundur lebih jauh lagi.

"Kita penasaran pengen liat Ci Tasya jadi ponygirl, hihihi," ujar Mita.

"Hadehh." Aku menepuk dahiku.

Siska kemudian mengambil peralatan ponygirl-nya, lalu dia mendekatiku.

"Tangannya di belakang punggungnya," ujar Siska.

Aku menurut dan memposisikan kedua tanganku di belakang punggung. Siska kemudian mengikat kedua tanganku dengan siku menekuk 90 derajat. Kemudian, Siska memasang bit di mulutku, lalu memasang tali kekang di kepalaku. Aku merasa seperti seekor kuda sekarang. Siska lanjut memasang boneka goblin di punggungku, lalu mengikatnya melewati area dadaku dan celah antara samping dada dan lenganku.

"Nah, sekarang Cici resmi jadi ponygirl," kata Siska.

"Mmmpphh!" Mulutku tersumpal bit, jadi aku tidak bisa mengatakan apa pun.

Aku dan Amy saling bertatapan. Kita berdua sudah mirip seperti seekor kuda. Aku geleng - geleng kepala sambil menatap Amy.

"Jadi, nanti malam kita akan mengadakan challenge," kata Siska, "dan ... kita semua akan menjadi ponygirl, hihihi."

"PAsti challenge-nya aneh," kata Nita.

"Sudah pasti itu," balas Siska.

"Ummm ... lebih baik kamu lepaskan mereka dari bondage-mu," kata Mita, menunjuk ke arahku dan Amy, "kasihan kamu perlakukan seperti kuda gitu."

"Bentar, jangan dulu," ucap Siska, "aku mau mencoba sesuatu."

Siska kemudian memegang bahuku dan bahunya Amy. Dia mendorong kita berdua menuju ke halaman belakang.

"Nah, sekarang kalian coba lari keliling kolam satu kali," kata Siska.

Aku dan Amy kompak menatap Siska dengan ekspresi kesal. Siska hanya tertawa saat melihat raut muka kita.

"Setelah kalian, nanti giliranku yang begini," kata Siska, "aku berjanji."

Aku menghela nafasku sambil memejamkan mata. Aku menatap Amy dan kita kompak mengangguk. Aku dan Amy kemudian mulai berlari kecil mengelilingi kolam renang. Selesai satu putaran, kita berdua mengerumuni Siska.

"Oke, oke, aku akan menepati janjiku," ucap Siska.

Dia kemudian melepas ikatan yang ada di tangan dan tubuh bagian atas kami. Setelahnya, dia mengajari kami cara mengikat kedua tangan di belakang punggung dan mengikat boneka goblin di punggung. Siska kemudian melepas ikatan di tubuhku dan tubuhnya Amy. Kami berdua segera mengikat kedua tangannya Siska di belakang punggungnya.

"Bit-nya ambil di tasku ya," ucap Siska.

"Yaa," sahut Amy.

Amy berlari kecil masuk ke dalam villa, dan tidak pakai lama, dia kembali membawa sebuah bit. Aku dan Amy mulai mendandani Siska menjadi goblin ponygirl.

"Hehehe, akhirnya selesai," kata Amy.

"Mmmmpphhhh." Siska hanya bisa mengeram.

"Ayo, sekarang kamu lari juga!" perintahku seraya menampar pantatnya Siska.

"Mmmmppphhhh!" Siska mengeram lagi.

Dia mulai berlari mengelilingi pinggir kolam renang. Tanpa kami suruh, Siska berkeliling sebanyak 3 kali. Mita dan Nita ikut bergabung untuk melihat Siska yang menjadi ponygirl.

"Kayaknya dia pengen jadi real ponygirl, hihihi," kata Mita.

Selesai berlari, Siska berhenti di dekat kami. Dari gesturnya, dia meminta kita untuk melepas ikatan di tubuhnya.

"Dilepasin gak ya?" canda Amy sambil menatap aku, Mita dan Nita.

"MMMPPHHH!!" Siska terlihat kesal.

"Hahahaha, bercanda Sis," ucap Amy sembari tertawa lepas.

Kami berempat lalu membuka ikatannya Siska. Setelah kedua tangannya terbebas, Siska memukul pantat kami.

"Auww!" Aku terkejut saat pantatku ditampar oleh Siska.

"Nakal ih!" kata Nita.

"Biarin, weeek!!" balas Siska seraya menjulurkan lidahnya.

***

Mendekati jam 6 malam, kami menikmati makan malam yang dipesan melalui aplikasi pesan antar. Sambil menikmati makanan yang tersaji di meja makan, Siska memberitahukan rencana yang dia buat tadi siang.

"Berkeliling sambil copslay ponygirl, menurutku itu sebuah ide gila," kataku.

"Benar itu," imbuh Mita, "kalau sampai kepergok orang, bakal tamat riwayat kita."

"Tenang saja," kata Siska, mencoba menenangkan kita, "aku sudah melakukan patroli tadi. Tidak ada siapa pun, kecuali kita."

"Yakin??" Nita dan Amy menatap Siska dengan mata memicing.

"Iya," jawab Siska dengan percaya diri.

Aku, Nita, Mita dan Amy saling bertatapan. Kita berempat lalu menatap Siska dan mengangguk dengan mantap. Siska kemudian mengambil kotak yang berisi perlengkapan ponygirl-nya.

"Yuk, kita ke halaman depan," ajak Siska.

Kami beranjak berdiri dan berjalan menuju ke halaman depan.

"Bentar! Ini masih jam 7 lhoo," kata Nita, "yakin di area ini sepi?"

Siska tersenyum menatap Nita. Siska tiba - tiba melepas seluruh bajunya, lalu dia membuka pintu gerbang.

"Aku akan lari 1 putaran mengelilingi jalan yang mengelilingi area ini," kata Siska.

Di area ini, terdapat 4 villa yang saling bertetangga. Villa kita berada di urutan kedua dari kiri. Dengan percaya diri, Siska keluar dari area villa, lalu mulai berlari ke arah kiri. Kita berempat geleng - geleng menatapnya.

"Berani amat tuh anak," kata Mita, "kalo sampe kepergok cowo mesum, lalu diperkosa, gimana coba?"

"Yaaa ... kita tolongin," balasku.

"Harusnya aman sih," ucap Amy.

Tidak lama kemudian, Siska kembali dengan nafas terengah - engah. Kita terkejut sekaligus senang melihat Siska kembali dengan selamat.

"Benar, kan, yang aku bilang," kata Siska dengan ekspresi bangga.

"Tapi ... aku tetap saja agak takut," ucap Nita.

"Santai aja," kata Siska seraya menepuk bahunya Nita.

Sesuai rencana, Amy yang pertama melakukan challenge ponygirl. Amy sedikit ragu ketika melepas seluruh pakaiannya. Supaya nyaman berlari, Amy mengenakan sepatu untuk lari. Siska segera memakaikan outfit ponygirl ke badannya Amy. Tidak lupa, sebuah boneka goblin diikatkan di belakang punggungnya Amy.

"Dah sana, lari keliling satu area," kata Siska seraya mendorong bahunya Amy.

Amy segera berlari cukup cepat ke arah yang tadi dilewati oleh Siska. Aku menunggu kedatangannya dengan agak cemas. Sekitar 2 menit kemudian, Amy tiba dengan selamat. Aku, Nita dan Mita memberikan tepuk tangan kepada Amy.

"Berikutnya, Mita," kata Siska.

"Oke," sahut Mita.

Mita melepas seluruh pakaiannya, lalu kita pakaikan perlengkapan ponygirl ke dirinya. Setelah berubah menjadi goblin ponygirl, Mita mulai berlari mengikuti jalur yang telah ditentukan oleh Siska. Kita menunggu kedatangannya Mita dari arah kanan. Sekitar 3 menit kemudian, Mita kembali dengan selamat. Dia berlari cukup cepat.

"Gila! Aku deg - degan banget tadi," kata Mita.

"Gapapa. Aku tadi juga deg - degan," ucap Siska. "Berikutnya, Ci Tasya," ujarnya kemudian seraya menatapku.

"Oh, oke," sahutku.

Aku tanggalkan seluruh pakaianku, kemudian aku pakai sepatu jogingku. Siska dan Mita memakaikan perlengkapan ponygirl ke badanku. Terakhir, Nita mengikat boneka goblin di belakang punggungku.

"Ayo, lari Ci!" ujar Siska.

Aku mulai berlari menyusuri jalan sepi dan kosong yang ada di depanku. Jantungku berdebar - debar selama berlari di jalanan yang remang - remang ini. Aku tidak berhenti menatap sekitarku, waspada jika ada orang yang lewat. Dalam posisi ini, aku merasa seperti ponygirl yang sedang ditunggangi oleh goblin. Sensasinya aneh tapi unik. Entah kenapa, vaginaku jadi lumayan becek. Aku terus berlari menuju ke villa. Kupercepat lariku agar tidak ada orang yang memergokiku. Akhirnya, aku berhasil tiba di villa dengan selamat.

"Selamat Ci!" kata Siska sembari menepuk bahuku.

"Gimana, menegangkan?" tanya Mita.

Aku tidak bisa menjawabnya karena mulutku masih tersumpal bit gag. Setelah bit di mulutku dilepas, aku geleng - geleng sambil tertawa kecil.

"Menegangkan banget!" kataku.

"Yuk, Nita," kata Siska.

"Oke, oke," sahut Nita.

Kita pakaikan peralatan ponygirl ke badannya Nita, kemudian dia segera berlari kencang ke luar.

"Berikutnya kamu," kataku sambil melirik Siska.

"Hehehe, iya," balas Siska.

Ketika Nita tiba di villa, kami langsung mendandani Siska menjadi ponygirl. Dia kembali lari mengelilingi area di dekat villa. Malam ini kita melakukan challenge yang cukup berbahaya. Tapi, aku justru senang melakukannya. Karena, aku melakukannya bersama dengan teman - temanku.

Bersambung....

Minggu, 09 November 2025